Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faktor Risiko Personal dan Lingkungan dalam Kejadian Demam Tifoid Kurniawan, Diva Ardhana; Apriliana, Ety; Sutarto, Sutarto; Himayani, Rani
Medula Vol 14 No 11 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i11.1328

Abstract

Typhoid fever is one of the infectious diseases that has a fairly high morbidity and mortality rate, especially in developing countries, especially in Indonesia. Typhoid fever is an infectious disease caused by the bacteria Salmonella typhi. This disease can be transmitted through consuming water or food contaminated with urine and feces from typhoid fever sufferers, for example, water that will be used for drinking, cooking, or washing food ingredients. There are more serious clinical symptoms, such as high fever or hyperthermia, remittent fever, and decreased level of consciousness that can lead to coma or delirium. Further complications such as dehydration and acidosis can also occur, which have negative impacts in cases of typhoid fever. The purpose of this review article is to determine what personal and environmental risk factors are present in the occurrence of typhoid fever. The method used in this study is a review article with specific research of various articles found, then combined and a summary conclusion is drawn. The journals used have been published for the past 5 years (2019-2024). The results and conclusions show that several personal and environmental risk factors in the occurrence of typhoid fever include age, gender, personal hygiene, and clean water sources.
Pertusis, Batuk 100 Hari yang Terlupakan: Sebuah Laporan Kasus Arief, Skolastika Faustina Ivana; Saputra, Oktadoni; Kurniawan, Diva Ardhana; Atha, Fidela Anindya
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp149-155

Abstract

Pertusis atau yang dikenal sebagai batuk rejan merupakan penyakit infeksi saluran napas akut yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini bersifat sangat menular dan ditandai dengan episode batuk paroksismal yang panjang dengan sekret saluran napas yang sangat kental dan disertai respiratory cough. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa pada tahun 2023 terdapat peningkatan 5,4 kali lipat suspek pertusis dibandingkan tahun sebelumnya dengan sebagian besar kasus terjadi pada bayi berusia di bawah satu tahun (38 %). Seorang anak laki-laki usia 1 tahun 2 bulan datang dengan keluhan batuk berdahak dengan dahak yang sulit dikeluarkan disertai dengan demam yang hilang timbul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva tampak anemis dan ronkhi bilateral tanpa wheezing maupun retraksi dinding dada. Pemeriksaan darah didapatkan penurunan kadar hemoglobin, leukositosis, dan trombositosis. Pemeriksaan rontgen thorax menunjukkan gambaran bronkopneumonia dextra. Dilakukan penatalaksanaan berupa antibiotik golongan makrolida yang dikombinasikan dengan antibiotik golongan sefalosporin. Pertusis pada pasien ini disebabkan oleh riwayat penyakit keluarga dengan kakak pasien yang mengalami keluhan serupa. Pertusis adalah kasus yang terlupakan tentang batuk yang berkepanjangan. Setelah pandemi Covid-19, peningkatan kasus pertusis kembali teridentifikasi sehingga tenaga kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini. Upaya pencegahan pertusis berfokus pada pelaksanaan imunisasi yang efektif dan penguatan surveilans epidemiologis secara berkelanjutan. Kata Kunci: Pertusis pada anak, batuk rejan, batuk 100 hari