Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Keperawatan

PENGARUH PEER GRUP EDUCATION TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PENANGANAN PREMENSTRUAL SYNDROME PADA REMAJA PUTRI KELAS VII SMP NEGERI 2 MOJOANYAR MOJOKERTO Etik Khusniyati; Heni Purwati; Purwati Purwati
Bahasa Indonesia Vol 6 No 2 (2017): Jurnal Keperawatan
Publisher : STIKes William Booth Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47560/kep.v6i2.134

Abstract

An adolescent’s knowledge about premenstrual syndrome handling is still in the minor level since parents have no intention to talk openly and it tends to be a taboo. A peer group education method can be used to give information on adolescent girl about premenstrual syndrome handling in which it can be taught more openly. This study aims at investigating the influence of peer group education toward level of premenstrual syndrome handling’s knowledge of adolescent girl. This study used pre-experimental design with One-Group Pre-Post Test Design. The number of population were 81 adolescent girls from VII grade in which taken by using probability sampling (cluster sampling). The number of sample it self were 66 respondents. The independent variable was peer group education and the dependent variable was level of adolescent premenstrual syndrome handling’s knowledge. The data were collected by using questioner which was used before and after peer group education. The data were processed after gaining the whole data collection and the statisticalWilcoxon sign test were used afterward. The findings revealed that the value of asymp.sig (2 tailed) was 0,000 and α was 0, 05. The value of asymp.sig (2-tailed) <α 0,05, it means that H1 was accepted in which there were influence of peer group education toward level of adolescent premenstrual syndrome handling’s knowledge in VII grade of state SMP 2 Mojoanyar Mojokerto. A peer group education method stimulated both peer educator and peer group to discuss and share information each other about the problems of premenstrual syndrome handling openly in order to increase their knowledge.
HUBUNGAN ANTARA LAMA MENJALANI HEMODIALISIS DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RS GATOEL MOJOKERTO Heni Purwati; Sri Wahyuni LS
Bahasa Indonesia Vol 5 No 2 (2016): Jurnal Keperawatan
Publisher : STIKes William Booth Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47560/kep.v5i2.165

Abstract

Terapi Hemodialisis pada pasien gagal ginjal kronik dapat merubah kondisi fisik, psikologi, sosial dan ekonomi pasien karena harus dijalani seumur hidupnya. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien sehingga lama menjalani hemodialisis merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik. Kualitas hidup merupakan penilaian yang terfokus pada penerimaan individu terhadap kondisiya. Setiap individu membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk menerima segala kondisinya. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui Hubungan antara Lama Menjalani Hemodialisis dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik di RS Gatoel Mojokerto. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional design. Populasinya adalah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis sebanyak 150 orang. Sampel penelitian ini diambil menggunakan teknik nonprobability sampling dengan tipe purposive sampling sebanyak 103 orang. Data diperoleh dari kuesioner KDQoL 36. Hasil penelitian menggunakan uji spearman rho dengan bantuan SPSS V.16 menunjukan p < α (0,006 < 0,05). Artinya H0 ditolak sehingga, Ada Hubungan antara Lama Menjalani Hemodialisis dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal kronik di RS Gatoel Mojokerto. Kualitas hidup pasien mengalami fluktuasi berdasarkan tahapan adaptasi terhadap hemodialisis dan penyakit. Namun sebagian besar pasien menjalani hemodialisis lebih dari 12 bulan memiliki kualitas hidup yang cukup karena pasien sudah terbiasa dengan terapi beserta gejala dan komplikasi yang dirasakanya. Tetapi ada faktor lain yang mempengaruhi kualitas hidup seperti jenis kelamin, status pernikahan dan tingkat pendidikan. Pasien juga diharapkan mematuhi anjuran dan larangan yang diberikan guna meningkatkan kualitas hidup pasien.