Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konstruksi Sosial Tokoh Lokal di Pilkada 2024: Peran Media, Simbol Budaya, Dan Dinamika Interaksi Sosial Bungin, Burhan; Teguh, Monika; Danu Kristianto, Bernard Realino; Liliek Senaharjanta, Ignasius; Sulistijanto, Andi Budi
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 12 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i12.3070

Abstract

Penelitian ini menganalisis konstruksi sosial tokoh lokal dalam Pilkada 2024, yang berperan penting dalam membentuk persepsi dan preferensi politik masyarakat. Permasalahan utama yang dihadapi adalah bagaimana media, baik tradisional maupun digital, membangun citra tokoh politik yang sering kali tidak sesuai dengan kenyataan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana media, simbol budaya, dan interaksi sosial mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap tokoh politik lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus, yang mencakup wawancara mendalam, analisis konten media, dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media, terutama media sosial, memainkan peran sentral dalam membentuk citra politik tokoh lokal, baik melalui framing positif maupun negatif. Penggunaan simbol budaya dan narasi religius juga ditemukan efektif dalam membangun hubungan emosional dengan pemilih, namun harus otentik untuk menghindari persepsi manipulatif. Implikasi temuan ini penting bagi praktisi politik dalam merancang kampanye yang lebih transparan dan autentik, serta bagi masyarakat untuk lebih kritis terhadap narasi politik yang dibangun. Penelitian ini memberikan wawasan tentang pentingnya media digital dalam strategi kampanye politik dan membuka peluang untuk studi lanjutan mengenai teknologi baru dalam komunikasi politik.
PROSES ENCODING DAN DECODING AUDIENS PADA FILM “JATUH CINTA SEPERTI DI FILM-FILM" Danu Kristianto, Bernard Realino; Senaharjanta, Ignasius Liliek; Tri Hanly, Cherish Vella; Lia Chandra, Febiana
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol. 11 No. 2 (2026): EDISI APRIL
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi Fisip UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jikuho.v11i2.2051

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis resepsi penonton terhadap film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) karya Yandy Laurens menggunakan teori encoding/decoding Stuart Hall. Film ini mengusung struktur naratif berlapis melalui teknik film-di-dalam-film serta penggunaan visual hitam-putih dan warna sebagai penanda antara realitas dan fiksi. Meskipun memperoleh apresiasi kritikus, capaian jumlah penonton bioskop film ini relatif terbatas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap sembilan informan yang dipilih secara purposive, terdiri atas mahasiswa, audiens umum perkotaan, dan anggota komunitas film. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi makna dominan film, kemudian memetakan posisi decoding audiens ke dalam kategori dominant-hegemonic, negotiated, dan oppositional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas informan berada pada posisi dominant-hegemonic dan negotiated. Enam dari sembilan informan menempati posisi dominan-hegemonik, sementara tiga lainnya menunjukkan pembacaan yang bersifat negosiasi. Informan dengan literasi sinema tinggi cenderung menerima pesan film secara utuh, sedangkan audiens non-film menerima pesan utama namun menegosiasikannya dengan pengalaman pribadi dan preferensi hiburan. Posisi oppositional ditemukan secara terbatas pada penonton yang mengharapkan narasi linear dan konvensional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kompleksitas naratif menjadi kekuatan artistik sekaligus batas penerimaan audiens dalam perfilman Indonesia kontemporer. Temuan ini memberikan wawasan praktis bagi pembuat film dan praktisi media dalam menyeimbangkan kompleksitas naratif artistik dengan keterjangkauan (kemudahan dipahami) oleh audiens.