Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tinjauan Hubungan antara Kadar Vitamin D dan Fungsi Paru pada Pasien PPOK Putri, Putu Melista; Suastini, Ni Made; Gunawan, I Made Rian Putra
Jurnal Skala Husada : The Journal of Health Vol 21, No 2 (2024): Jurnal Skala Husada (JSH): Volume 21, No 2, Tahun 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33992/jsh:tjoh.v21i2.3821

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah gangguan pernapasan progresif dengan gejala persisten dan keterbatasan aliran udara, yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi secara global. Defisiensi vitamin D, yang banyak ditemukan pada pasien PPOK, diduga berkontribusi terhadap progresi penyakit dan eksaserbasi akut. Tinjauan ini bertujuan menganalisis hubungan antara kadar vitamin D dan hasil klinis paru pada pasien PPOK melalui sintesis data dari sepuluh penelitian. Data mencakup kadar vitamin D yang diukur melalui 25-hidroksivitamin D (25-OHD) dan fungsi paru yang diukur dengan Forced Expiratory Volume in one second (FEV1) dan Forced Vital Capacity (FVC). Hasil menunjukkan bahwa kadar vitamin D rendah berkorelasi dengan penurunan fungsi paru, peningkatan eksaserbasi, dan peningkatan peradangan, yang dapat mempersulit pengelolaan PPOK. Beberapa penelitian menunjukkan suplementasi vitamin D dapat meningkatkan FEV1 dan menurunkan frekuensi eksaserbasi, namun hasil penelitian masih beragam. Tinjauan ini menekankan pentingnya pemantauan kadar vitamin D pada pasien PPOK untuk memperlambat progresi penyakit dan meningkatkan kualitas hidup, meskipun diperlukan penelitian lanjutan untuk rekomendasi yang lebih kuat.
Sinergisme Farmasi Klinis Dalam Optimalisasi Obat Herbal Lokal Menuju Kemandirian Obat Nasional Dan Revitalisasi Paradigma Pada Masyarakat Kontemporer Aprianti, Pande Made Ayu; Gunawan, I Made Rian Putra; Putri, Putu Melista
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 15, No 1 (2026): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v15i1.10219

Abstract

Ketergantungan terhadap bahan baku obat impor menjadi tantangan besar bagi ketahanan kesehatan nasional. Optimalisasi obat herbal lokal melalui sinergisme farmasi klinis di fasilitas kesehatan merupakan strategi kunci menuju kemandirian obat dan revitalisasi paradigma pengobatan pada masyarakat kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan obat herbal lokal, keterlibatan farmasi klinis dalam pemantauan terapi, serta mengukur kesiapan dan implementasi peran farmasis dalam integrasi obat herbal di Rumah Sakit “X”. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan tiga pendekatan data: (1) analisis retrospektif resep yang mengandung obat herbal selama satu bulan terakhir di berbagai unit pelayanan, (2) analisis kualitatif terhadap dokumentasi SOAP dalam Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT), dan (3) survei melalui kuesioner tertutup kepada 11 responden farmasi klinis untuk menilai efikasi diri, praktik klinis, dan persepsi lingkungan kerja. Hasil penelitian ini menjunjukan: Data retrospektif menunjukkan pemanfaatan obat herbal lokal (Fitofarmaka dan OHT) telah terimplementasi di unit Rawat Jalan, Rawat Inap, ICU, Pediatrik, dan Maternity, dengan penggunaan dominan pada kasus hepatoprotektor, hipoalbuminemia, imunomodulator dan nefrolitiasis. Analisis CPPT mengungkapkan bahwa farmasi klinis telah melakukan sinergisme melalui pemantauan interaksi obat dan keamanan terapi herbal secara terintegrasi. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa farmasis memiliki efikasi diri yang tinggi (rata-rata skor kategori tinggi) dan didukung oleh budaya organisasi yang terbuka terhadap penggunaan herbal, meskipun frekuensi praktik klinis harian masih memerlukan optimalisasi berkelanjutan. Kesimpulan penelitian ini adalah sinergisme farmasi klinis di Rumah Sakit “X” berperan signifikan dalam mengoptimalkan penggunaan obat herbal lokal melalui pendekatan saintifik. Integrasi ini mendukung terciptanya kemandirian obat nasional dan mentransformasi paradigma masyarakat kontemporer terhadap obat bahan alam yang modern dan berbasis bukti (evidence-based).