Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Rendahnya Kadar Kalsium Sebagai Prediktor Keparahan Pasien STEMI yang di Rawat di RSUD Bengkalis dan di Hubungkan dengan Skor Killip Abdi, Taufik; Khairul, Deddy
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i2.55037

Abstract

Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (STEMI) merupakan salah satu bentuk sindrom koroner akut yang memiliki tingkat mortalitas dan morbiditas tinggi. Studi ini bertujuan menganalisis hubungan antara rendahnya kadar kalsium sebagai prediktor keparahan pasien STEMI yang dirawat di RSUD Bengkalis Dan Di Hubungkan Dengan Skor KILLIP. Studi ini merupakan penelitian cross-sectional dengan 62 sampel pasien yang didiagnosis STEMI di RSUD Bengkalis antara Juni dan Agustus 2024. Data demografis dan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, hiperkolesterol, riwayat merokok, serta riwayat pengobatan dianalisis menggunakan uji Mann Whitney untuk menilai hubungan dan signifikansi. Kriteria inklusi meliputi pasien dewasa (≥ 18 tahun) dengan diagnosis STEMI terverifikasi berdasarkan klinis, EKG, Hs Troponin I, dan kadar kalsium ion yang diperiksa saat masuk UGD. Kriteria eksklusi mencakup pasien dengan riwayat penyakit ginjal kronis atau penggunaan obat yang mempengaruhi kadar kalsium Pemeriksaan Hs Troponin I menggunakan automatic analyzer DrawayI STAR 500 dengan metode CLIA, dan pemeriksaan kalsium dengan menggunakan automatic biochemistry analyzer DIRUI dengan metode pewarna metalokromik Arsenazo II. Dengan menggunakan uji Mann Whitney menunjukkan bahwa ditemukan hubungan yang signifikan antara Hs Troponin I dengan tingkat keparahan STEMI (p<0,001). Dengan menggunakan uji Mann Whitney menunjukkan bahwa ditemukan hubungan yang signifikan antara kalsium dengan tingkat keparahan STEMI (p<0,001). Hasil penelitian ini mendukung potensi Kalsium sebagai biomarker tambahan dalam penilaian keparahan STEMI. Kalsium ion yang lebih rendah berhubungan dengan keparahan STEMI yang lebih tinggi, dan dapat membantu dalam pengambilan keputusan klinis yang lebih baik.
PELAYANAN DARAH RUMAH SAKIT DALAM PERSPEKTIF HUKUM NORMATIF: ANTARA KEPASTIAN HUKUM DAN PERLINDUNGAN HAK PASIEN Abdi, Taufik; Triana, Yeni; Sari, Kurnia; Nofelita, Mira
ANDREW Law Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : ANDREW Law Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61876/alj.v4i2.151

Abstract

Pelayanan darah merupakan bagian esensial dari sistem pelayanan kesehatan yang berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa pasien. Kesalahan dalam proses pengadaan, pengolahan, penyimpanan, hingga transfusi darah dapat menimbulkan risiko medis serius serta implikasi hukum bagi rumah sakit dan tenaga kesehatan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum pelayanan darah di rumah sakit dalam perspektif hukum normatif dengan menitikberatkan pada prinsip kepastian hukum dan perlindungan hak pasien, serta mengkaji bentuk tanggung jawab hukum rumah sakit apabila terjadi pelanggaran terhadap standar pelayanan transfusi darah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, melalui studi kepustakaan terhadap bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem hukum Indonesia telah menyediakan kerangka regulasi yang cukup komprehensif dalam pelayanan darah, mulai dari konstitusi hingga peraturan teknis di bidang kesehatan. Namun, masih ditemukan disharmonisasi norma dan kelemahan dalam implementasi yang berpotensi mengurangi kepastian hukum dan efektivitas perlindungan pasien. Perlindungan hukum terhadap pasien telah diatur secara preventif melalui standar pelayanan dan keselamatan pasien, serta secara represif melalui mekanisme pertanggungjawaban hukum rumah sakit. Oleh karena itu, diperlukan harmonisasi regulasi, penguatan pengawasan, dan peningkatan kepatuhan terhadap standar pelayanan transfusi darah guna mewujudkan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berkeadilan.
Tumpang Tindih Kompetensi Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Mikrobiologi Klinik dalam Pelayanan Laboratorium Infeksi: Kajian Hukum Normatif tentang Kepastian Hukum dan Perlindungan Pasien Triana, Yeni; Abdi, Taufik
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.6263

Abstract

Pelayanan laboratorium infeksi di rumah sakit memiliki peran strategis dalam penegakan diagnosis, penentuan terapi, serta pencegahan dan pengendalian infeksi. Dalam praktik, terdapat potensi tumpang tindih kompetensi antara Dokter Spesialis Patologi Klinik (Sp.PK) dan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik (Sp.MK) dalam penyelenggaraan layanan tersebut, yang berimplikasi terhadap kepastian hukum, tata kelola pelayanan, serta perlindungan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum terkait kewenangan kedua spesialisasi tersebut serta menilai dampaknya terhadap jaminan mutu pelayanan kesehatan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan analitis, melalui kajian terhadap peraturan perundang-undangan bidang kesehatan, standar kompetensi profesi, serta doktrin hukum terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat disharmoni norma dalam pengaturan kewenangan pelayanan laboratorium infeksi yang membuka ruang multitafsir dan berpotensi menimbulkan konflik kewenangan di tingkat pelayanan kesehatan. Kondisi ini berisiko mengganggu kesinambungan pelayanan, menurunkan kepastian hukum bagi tenaga medis, serta berdampak pada keselamatan dan perlindungan pasien. Penelitian ini merekomendasikan perlunya harmonisasi regulasi dan penegasan batas kewenangan profesi berbasis kompetensi, kolaborasi interdisipliner, serta penguatan regulasi operasional rumah sakit guna mewujudkan pelayanan laboratorium infeksi yang bermutu, aman, dan berkeadilan hukum. Tumpang tindih kompetensi antara dokter spesialis patologi klinik dan mikrobiologi klinik tidak hanya berdampak pada kepastian hukum bagi tenaga medis, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap keselamatan dan perlindungan pasien.