Moch. Syihabudin Nuha
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Model Pelatihan Peer-Counseling Pada Mahasiswa: Tinjauan Literatur Sistematis Moch. Syihabudin Nuha; Hidayah, Nur; Wahyuni, Fitri
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 2 (2024): April 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v8i2.5695

Abstract

Pada mahasiswa tahun pertama, mereka banyak mengalami ketegangan dan kecemasan yang dialami dalam menghadapi lingkungan barunya. Mahasiswa tahun pertama identik dengan bagaimana mereka meningkatkan kemampuan beradaptasinya di lingkungan baru. Mahasiswa tahun pertama perlu diberikan pembekalan melalui pelatihan pelatihan yang efektif dan efisien. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis yang dilakukan dengan 5 tahap. Dari 170 artikel, kemudian dilakukan penyaringan kualitas dan kriteria, didapatkan hasil 19 artikel yang berhasil untuk diidentifikasi dan dianalisis serta dirumuskan jawaban dari research question yang telah ditetapkan sebagai bagian dari tahapan tinjauan literatur sistematis. Berdasarkan hasil kajian literatur sistematis didapatkan hasil bahwa pelatihan Peer-Counseling dapat diberikan pada mahasiswa tahun kedua atau diatasnya, hal ini dikarenakan mereka lebih suka bercerita dan berkonsultasi mengenai masalahnya kepada teman sebayanya daripada kepada orang tua. Peer counseling merupakan cara atau model yang dapat dilakukan oleh konselor ahli atau guru Bimbingan dan Konseling kepada mahasiswa untuk dapat diberi pembekalan dan pelatihan. Kata kunci: pelatihan, peer-counseling, adaptasi akademik, model peer to peer
Analysis of Multicultural Counseling and Social Justice Competencies Framework amid Cultural Diversity for Counselor Professionalism in Indonesia Moch. Syihabudin Nuha; Muhammad Ali Najich; Miftahul Jannah; Moch. Syihabudin Nuha; Muhammad Ali Najich; Miftahul Jannah
Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um065.v6.i3.2026.4

Abstract

The increasing cultural diversity in social life necessitates that counselors possess adequate multicultural competencies to effectively serve clients from various backgrounds. Considering a client's cultural context is essential to prevent bias and stereotypes, thereby enhancing counselor professionalism when addressing the diversity inherent in each student. This study aims to explore and analyze the importance of multicultural counseling competencies for counselors by reviewing existing literature. The primary objective is to synthesize findings from previous research to highlight key competency frameworks relevant to contemporary practice. This research employs a Systematic Literature Review (SLR) method. The study analyzed 30 journal articles, consisting of 14 international and 16 national journals from the 2013-2023 period. Literature was obtained through a systematic Google Scholar search using the keyword "Multicultural Counseling Competence." Data analysis involved qualitative synthesis of findings from selected articles. The findings consistently emphasize the critical importance of Multicultural Counseling Competencies (MCC) and the Multicultural and Social Justice Counseling Competencies (MSJCC). These frameworks are identified as essential, comprehensive packages of multicultural competencies that professional counselors need to work effectively in diverse settings. This study confirms that MCC and MSJCC are fundamental to ethical and effective counseling practice in multicultural contexts. The results serve as a crucial reference for policymakers to formulate evidence-based policies addressing students' needs from diverse backgrounds. Furthermore, the findings provide a valuable foundation for designing counselor training programs, particularly in culturally rich nations like Indonesia, to strengthen professional competence in multicultural counseling.
Konseling Multibudaya dalam Penanganan Perilaku Problematik Remaja Moch. Syihabudin Nuha; Muslihati Muslihati; Moch. Syihabudin Nuha; Muslihati
Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um065.v5.i4.2025.1

Abstract

Remaja merupakan masa transisi di mana individu mengalami perubahan masa kanak-kanak menuju dewasa. Terdapat berbagai penyebab yang berkontribusi terhadap perilaku problematik remaja, mulai dari faktor biologis, psikologis, keluarga, sosial maupun lingkungan. Perilaku problematik ditandai dengan munculnya perilaku maladaptif yang tidak suai dengan norma dalam masyarakat. Keanekaragaman budaya di tengah masyarakat saat ini dimungkinkan dapat menjadi salah satu strategi intervensi dalam upaya menangani perilaku problematik remaja. Hal ini dipengaruhi konselor yang terikat dengan atribut yang dibawanya. Pendekatan ini merupakan kerangka kerja yang digunakan konselor dalam memahami dan merespon keragaman budaya dalam konseling. Penelitian ini mengkaji berbagai literatur secara sistematis selama 10 tahun terakhir mulai tahun 2014-2024 dengan kriteria inklusi subjek penelitian adalah remaja, perilaku maladaptif remaja, strategi intervensi guru BK, pendekatan multibudaya, sedangkan kriteria eksklusi adalah subjek penelitian anak-anak dan mahasiswa, kekerasan, metode penelitian pengembangan, kajian literatur. Penelitian ini bertujuan memberikan pengetahuan mengenai perilaku problematik remaja, penanganan yang telah dilakukan guru BK dan solusi dari pendekatan multibudaya. Kesimpulannya adalah perilaku problematik remaja muncul karena berbagai faktor internal maupun eksternal, kemudian penanganan yang banyak dilakukan guru BK adalah melalui konseling behavior dan pendekatan multibudaya dimungkinkan untuk dapat diterapkan pada proses intervensi, karena budaya juga memengaruhi cara hidup mereka.