Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Review Implementasi Sistem Manajemen Terintegrasi (9001+17025+KNAPPP 02) di BBPPBPTH Jayusman, J
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2021: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.96 KB)

Abstract

Implementasi Sistem Manajemen Terintegrasi (SMT) yang ditujukan untuk efisiensi dan optimalisasi telah menjadi kebutuhan mendasar pada berbagai organisasi termasuk pada lembaga penelitian dan pengembangan yang menerapkan lebih dari sistem manajemen mutu. Review terhadap proses inisiasi dan penerapan operasional SMT menjadi umpan balik manajemen untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan dengan harapan memperbaiki kinerja organisasi atau lembaga. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) telah menerapkan SMT berbasis ISO 9001:2015, ISO 17025:2017 dan KNAPPP 02:2017 (Komite Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan) dengan ISO 9001 sebagai induk SMT. Tahapan implementasi mencakup (1) awareness dan interpretasi persyaratan standard, (2) identifikasi dan pengembangan model SMT, (3) Integrasi standard, (4) analisis Model SMT, (5) Implementasi dan improvement. Artikel ini menginformasikan proses hasil evaluasi penerapan SMT dan rekomendasi penguatannya terhadap (1) struktur pengelola SMT dengan mempertimbangkan numenklatur di BBPPBPTH (Kepala Balai Besar sebagai Koordinator Puncak, Kabag, Kabid, Ketua Kelti dan Penanggung Jawab Lab sebagai Koordinator Mutu, Sekretariat SMT dan Auditor Internal SMT, (2) Proses sesuai konsep PDCA yang terstruktur dalam induk informasi terdokumentasi SMT yang terdiri dari aspek Plan (klausul 4-Konteks Organisasi, Klausul 5-Kepemimpinan, K 6-Perencanaan dan Klausul 7-Sumberdaya), aspek Do=Klausul 8-Operasional, aspek Check= Klausul 9-evaluasi kinerja dan aspek Action=klausul 10-Peningkatan serta (3) Struktur informasi terdokumentasi dengan menyederhanakan menjadi dua strata yaitu (1) Pedoman Sistem Manajemen Terintegrasi (mencakup visi, misi, sasaran, rencana strategis, kebijakan mutu, dan sasaran mutu dan pemenuhaan 3 standard sistem) dan (2) Prosedur Sistem Manajemen Terintegrasi (mencakup instruksi kerja manajemen terintegrasi dan formulir kerja manajemen terintegrasi). Keberadaan satu set informasi terdokumentasi SMT di BBPPBPTH telah mampu memenuhi persyaratan standard ketiga sistem yang diintegrasikan dengan bukti pengakuan dari pihak ketiga yaitu lembaga sertifikasi dan akreditasi.
Biotechnologi Propagasi Vegetatif Tanaman Hutan: Keuntungan dan Risiko Jayusman, J
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2021: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.864 KB)

Abstract

Implementasi biotechnologi kehutanan mencakup tiga aspek penting yaitu (1) penggunaan penanda genetika molekuler, (2) produksi pohon rekayasa genetika dan (3) propagasi vegetatif. Bioteknologi propagasi telah banyak diterapkan pada berbagai spesies tanaman hutan dengan hasil yang sangat menjanjikan. Peran bioteknologi dalam propagasi vegetatif mikro berpotensi besar menghasilkan materi perbanyakan dalam waktu singkat dengan sifat-sifat tanaman yang diinginkan. Keberhasian propagasi vegetatif mikro telah memberikan keberhasilan pada banyak tanaman hutan antara lain pada genus Eucalyptus, genus Pinus, Genus Acacia, Jati (Tectona grandis), Sengon (Parasianthes mollucana), Surian (Toona sureni Merr), Cendana (Santalum album) dan Bambu (Dendrocalamus sp.). Keberhasilan kultur bioreaktor telah dilaporkan pada spesies Eucalyptus camaldulensis dan Tectona grandis. Propagasi vegetatif terhadap materi genetik unggul hasil seleksi memiliki beberapa keuntungan antara lain (1) dapat diproduksi diluar musim berbuah, (2) mampu memproduksi bibit dalam kualitas dan jumlah sesuai target, (3) mampu menggandakan tanaman terancam punah dan (4) sifat unggul pohon induk dapat diwariskan. Terdapat beberapa risiko dalam propagasi vegetatif mikro antara lain (1) proses penuaan jaringan, (2) variasi somaklonal, dan (3) penyempitan genetik. Pengendalian terhadap potensi risiko tersebut menjadi prioritas yang harus diminimalisir pada kegiatan propagasi tahap lanjut. Metode kombinasi propagasi mikro dan makro melalui stek mini serta pemanfaatan teknologi bioreaktor dapat ditempuh untuk pengembangan materi genetik unggul dalam skala produksi masal. Mengacu konsep gradien bioteknologi maka penerapan bioteknologi propagasi tanaman kehutanan dipercaya memiliki potensi besar pada aspek peningkatan efisiensi tetapi dengan konsekwensi membutuhkan pembiayaan yang juga meningkat. Efisiensi dapat dilakukan dalam propagasi vegetatif mikro karena dapat dilakukan pada area yang lebih sempit, penggunaan tenaga kerja yang lebih terbatas, waktu yang lebih singkat serta penghematan sumber dana.
Pertunasan pada Tanaman Pangkasan dan Pertumbuhan Stek Pucuk Jenis Malapari (Pongamia pinnata L.) Adinugraha, Hamdan Adma; Pudjiono, Sugeng; Jayusman, J
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2021: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.657 KB)

Abstract

Malapari (Pongamia pinnata L.) merupakan salah satu jenis tanaman cepat tumbuh yang buahnya menghasilkan minyak untuk bahan bakar nabati. Pembibitan malapaari biasa dilakukan dengan cara generatif. Dalam rangka perbanyakan klon terpilih diperlukan teknik perbanyakan vegetatif untuk mempertahankan sifat indukan kepada anakannya. Oleh karena itu dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui daya pertunasan tanaman setelah perlakuan pemangkasan dan tingkat pertumbuhan stek pucuk dari tunas yang dihasilkan pada tanaman pangkasan tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan acak lengkap dengan perlakuan tinggi pangkasan (20 cm, 30 cm, 40 cm dan 50 cm). Setiap perlakuan menggunakan 5 sampel tanaman dan diulang sebanyak 6 kali. Percobaan kedua penanaman stek pucuk dengan rancangan acak lengkap pola faktorial. Faktor pertama adalah bahan stek (bagian pangkal, tengah dan ujung) dan faktor kedua adalah jenis jenis zat pengatur tumbuh (kontrol/tanpa zpt, grow tone dan nature stek). Setiap perlakuan mengunakan 5 sampel stek yang diulang 4 kali. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa seluruh tanaman yang dipangkas tumbuhdengan baik dan dapat menghasikan tunas. Pada umur 6 minggu diperoleh rata-rata jumlah tunas 2,2-3,1 tunas, panjang tunas 10,78-12,90 cm, jumlah ruas 4,5-6,6 ruas dan jumlah daun 8,7-18,0 helai. semakin tinggi pangkasan kemampuan bertunasnya semakin baik meskipun tidak berbeda signifikan. Hasil pengamatan pertumbuhan stek menunjukkan perlakukan bahan stek dan jenis hormon memberikan respon yang relatif sama, dengan persen stek berakar rata-rata yang tinggi sampai umur 2 bulan yaitu 91,11%.
Pertunasan pada Tanaman Pangkasan dan Pertumbuhan Stek Pucuk Jenis Malapari (Pongamia pinnata L.) Adinugraha, Hamdan Adma; Pudjiono, Sugeng; Jayusman, J
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2021: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.38 KB)

Abstract

Malapari (Pongamia pinnata L.) merupakan salah satu jenis tanaman cepat tumbuh yang buahnya menghasilkan minyak untuk bahan bakar nabati. Pembibitan malapaari biasa dilakukan dengan cara generatif. Dalam rangka perbanyakan klon terpilih diperlukan teknik perbanyakan vegetatif untuk mempertahankan sifat indukan kepada anakannya. Oleh karena itu dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui daya pertunasan tanaman setelah perlakuan pemangkasan dan tingkat pertumbuhan stek pucuk dari tunas yang dihasilkan pada tanaman pangkasan tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan acak lengkap dengan perlakuan tinggi pangkasan (20 cm, 30 cm, 40 cm dan 50 cm). Setiap perlakuan menggunakan 5 sampel tanaman dan diulang sebanyak 6 kali. Percobaan kedua penanaman stek pucuk dengan rancangan acak lengkap pola faktorial. Faktor pertama adalah bahan stek (bagian pangkal, tengah dan ujung) dan faktor kedua adalah jenis jenis zat pengatur tumbuh (kontrol/tanpa zpt, grow tone dan nature stek). Setiap perlakuan mengunakan 5 sampel stek yang diulang 4 kali. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa seluruh tanaman yang dipangkas tumbuhdengan baik dan dapat menghasikan tunas. Pada umur 6 minggu diperoleh rata-rata jumlah tunas 2,2-3,1 tunas, panjang tunas 10,78-12,90 cm, jumlah ruas 4,5-6,6 ruas dan jumlah daun 8,7-18,0 helai. semakin tinggi pangkasan kemampuan bertunasnya semakin baik meskipun tidak berbeda signifikan. Hasil pengamatan pertumbuhan stek menunjukkan perlakukan bahan stek dan jenis hormon memberikan respon yang relatif sama, dengan persen stek berakar rata-rata yang tinggi sampai umur 2 bulan yaitu 91,11%.
Peta Sebaran Malapari (Pongamia pinnata Merril) di Pulau Jawa dan Upaya Konservasinya Jayusman, J
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2017: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.604 KB)

Abstract

Malapari (Pongamia pinnata Merril) dikenal sebagai jenis potensial penghasil biofuel untuk sumber energi terbarukan. Untuk menyiapkan program konservasi sumberdaya genetik untuk mendukung penyiapan populasi pemuliaan telah dilakukan eksplorasi dan koleksi materi genetik di tiga lokasi sebaran alaminya yaitu di TN Ujung Kulon, Pantai Selatan Jawa Barat dan TN Alas Purwo dan Baluran. Sebaran malapari di tiga lokasi tersebut telah dibuat peta sebaran sedangkan materi genetik berupa buah dan benih telah diidentifikasi berdasarkan bentuk morfologi dan viabilitasnya untuk mendukung penguasaan teknologi penyiapan bahan perbanyakan. Berdasarkan hasil kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kondisi tegakan malapari di TN Ujung Kulon memiliki potensi dan sebaran terbaik dibandingkan lokasi lainnya. Kondisi tegakan malapari di kedua Taman Nasional tersebut relatif lebih terjaga dibandingkan kondisi malapari disepanjang pantai Pangandaran dan Tasikmalaya. Salah satu lokasi tegakan malapari yang berada di sepanjang pantai Cijulang permai, Kecamatan Batu Karas pada saat ini sudah terancam dampak abrasi yang cukup memprihatinkan dan perlu upaya penyelamatan materi genetik secepatnya. Mempertimbangkan potensi tegakan, distribusi dan luasan sebaran populasi, serta keamanan jangka panjang maka pilihan konservasi insitu lebih tepat dilakukan di kedua Taman Nasional sedangkan Konservasi eksitu dapat dilakukan untuk penyelamatan materi genetik dari sebaran pantai selatan Jawa Barat dan sekitarnya.
Analisis “Diagram Tulang Ikan” untuk Peningkatan Keberhasilan Perbanyakan Vegetatif Makro Surian Putih (Toona sureni Merr) Jayusman, J
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2018: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.603 KB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan perbanyakan vegetatif makro surian putih (Toona sureni Merr) untuk mengoptimalkan keberhasilan penyiapan bibit untuk penanaman. Metode analisis menggunakan five whys analysis (analisis 5-mengapa) dan Fishbone analysis (analisis diagram tulang ikan) untuk mengidentifikasi beberapa faktor yang menyebabkan ketidakberhasilan dalam perbanyakan vegetatif makro T. Sureni Merr. Hasil penelitian menunjukkan tiga faktor dominan yang menyebabkan kegagalan stek tidak mampu berakar dan membentuk daun yaitu (1) faktor metode (tidak tersedia prosedur operasional standard yang mencakup teknik penyiapan materi perbanyakan, standard konsentrasi hormon pertumbuhan dan penetapan teknik spesifik), (2) faktor material (kualitas materi stek) dan dan (3) faktor manusia (pelaksana tidak memiliki pelatihan yang cukup dan standard proses spesifik). Perbaikan yang berfokus pada upaya perbaikan metode, material dan tenaga pelaksana kegiatan melalui pelatihan periodik, penyiapan kebun pangkas untuk sumber bahan perbanyakan vegetatif makro dan penyusunan prosedur operasional standard (SOP) untuk menetapkan teknik spesifik dan konsentrasi hormon pertumbuhan guna meningkatkan keberhasilan perbanyakan vegetatif makro T. Sureni Merr di waktu mendatang.
Estimasi Perolehan Genetik berdasarkan Uji 31 Klon Jati (Tectona grandis L.F) di Gunung Kidul Jayusman, J; Mahfudz, M; Adinugraha, Hamdan Adma; Pudjiono, Sugeng
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2018: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.624 KB)

Abstract

Pengamatan parameter genetik pertumbuhan dilakukan melalui evaluasi periodik untuk mengetahui variasi genetik karakter pertumbuhan 31 klon dari 9 populasi umur 5 tahun. Hasil evaluasi terhadap persen jadi klon cukup baik yang ditunjukkan dengan nilai rerata klon hidup sebesar 74,5%. Nilai rerata tinggi dan diameter klon adalah 9,9 m dan 10,2 cm. Tidak terdapat perbedaan yang nyata diantara populasi tetapi antar klon yang diuji terdapat perbedaan yang nyata pada sifat tinggi dan diameter. Sedangkan heritabilitas klon (H²) tergolong rendah untuk sifat tinggi yaitu 0,3 dan sifat diameter tergolong sedang yaitu 0,52. Korelasi genetik sifat diameter dan sifat tinggi cukup kuat (rg=0,75). Prediksi nilai perolehan genetik tanaman klon jati umur 5 tahun berdasarkan penggunaan 5 klon terbaik pada sifat tinggi dan diameter masing-masing adalah 11,56% dan 19,73%.
Variasi Rendemen Minyak Mentah Malapari (Pongamia pinnata L) berdasarkan Provenans Jayusman, J; Pudjiono, Sugeng
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2019: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.878 KB)

Abstract

Malapari (Pongamia pinnata L) dikenal sebagai jenis potensial penghasil biofuel untuk sumber energi terbarukan. Untuk mendukung penyiapan populasi pemuliaan telah dilakukan eksplorasi materi genetik, analisis dimensi berat buah dan biji serta analisis rendemen minyak mentah dari tiga lokasi sebaran alaminya di TN Ujung Kulon-Banten, Batu Karas-Jawa Barat dan TN Alas Purwo-Jawa Timur. Buah hasil eksplorasi di ekstraksi untuk mengeluarkan biji dari polongnya. Ekstraksi rendemen minyak mentah menggunakan teknik SPE (screw press expeller) dengan lima kali pengepresan. Hasil pengamatan rendemen minyak mentah menunjukkan adanya variasi yang tidak terlalu lebar dengan provenans TN Ujung Kulon menghasilkan nilai terbesar (15,59%) diikuti Provenans TN Alas Purwo (14,49)% dan Provenans Batu Karas (13,13%). Variasi dimensi berat biji dan jumlah biji sangat beragam berdasarkan provenans. Teknik SPF dengan 5-7 kali pengepresan hasilnya belum optimal dalam mengeluarkan kandungan minyak mentah dari biji, hal ini ditunjukkan masih terdapat sisa minyak mentah yang melekat di bungkil (ampas biji) setelah pengepresan selesai. Berdasarkan informasi tingkat rendemen minyak metah (crude oil), tingkat aksesibilitas lokasi, potensi tegakan dan luas area provenans maka materi genetik dari provenans TN Ujung Kulon ditetapkan menjadi sumber materi genetik untuk pembangunan tegakan benih provenans. Basis provenans menjadi salah satu pertimbangan utama dalam strategi pemuliaan malapari untuk efisiensi distribusi dan pengelolaan bahan penanaman malapari pada skala operasional di lapangan.
Strategi Pemuliaan Kemenyan Bulu (Styrax benzoine var hiliferum) Jayusman, J; Fiani, Ari
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2019: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.658 KB)

Abstract

Standard harga getah kemenyan sampai saat ini masih bertumpu kelas mutu berdasarkan bentuk, besar butiran dan warna getah. Kondisi tersebut menyebabkan nilai getah kemenyan bulu (Styrax benzoine var hiliferum) yang memiliki bentuk dan warna getah pada kelas medium memiliki nilai jual lebih rendah jika dibandingkan kualitas getah kemenyan Durame (Styrax benzoine var dryand) dan kemenyan Toba (Styrax paralleloneurum Perk). Upaya perbaikan standard harga getah berbasis kandungan asam sinamat hingga saat ini masih terus digulirkan untuk keadilan nilai jual getah di masyarakat. Asam sinamat merupakan komponen utama getah kemenyan, sehingga kadar asam sinamat menjadi unsur utama untuk pengelompokan kualitas getah baru diikuti sifat – sifat lainnya seperti kadar kotoran, kadar abu dan titik leleh. Kandungan asam sinamat kemenyan bulu sebesar 15,4% dan dalam SNI:7940 termasuk kelas Mutu C. Kualitas mutu tersebut masih dapat ditingkatkan melalui perbaikan kualitas getah dan produksi getah melalui perbaikan manajemen budidaya dengan menggunakan benih unggul dan penerapan silvikultur intensif. Peran pemuliaan pohon dalam upaya tersebut sangat penting diintegrasikanmelaluipenetapan (1) strategi breeding yang tepat, (2) penerapan metode breeding yang mudah dilakukan serta (3) penerapan teknik breeding yang secara operasional dijamin dapat dipenuhi. Kegiatan pemuliaan tanaman merupakan solusi yang cukup prospektif untuk dikembangkan, mengingat telah ditemukannya beberapa kandidat pohon induk dengan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata.Rekomendasi dalam bentuk bagan alir strategi breeding Styrax benzoine var hiliferumberbasis optimalisasi kandungan asam sinamat secara spesifik ditetapkan, dan menjadi baseline data(data pijakan) bagi tim pemulia dalam operasionalnya.
Identifikasi Risiko dan Peluang Pengendaliannya di Laboratorium Biologi Molekuler BBPPBPTH (Risk Assement And Opportunity Control In BBPPBPTH Molecular Biology Laboratororium) Jayusman, J
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2020: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.135 KB)

Abstract

Persyaratan wajib yang ditetapkan dalam ISO 9001:2015 pada klausul 6.1, ISO 17025:2017 Klausul 8.5 dan dan KNAPPP pada klausul 5.1.c & 7.2 menyebutkan bahwa organisasi melakukan identifikasi dan penanganan risiko dan peluang. Strategi manajemen risiko diantaranya dapat diterapkan pada berbagai laboratorium pengujian dalam rangka mewujudkan pengelolaan laboratorium yang berkualias untuk mendukung pengujian yang handal. Artikel ini menginformasikan hasil evaluasi penerapan manajemen risiko dalam tata kelola laboratorium pengujian biologi molekuler Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) Yogyakarta. Strategi manajemen risiko difokuskan terhadap pelaksanaan (1) Identifikasi risiko, (2) penilaian dan evaluasi risiko dan (3) kegiatan mitigasi risiko. Identifikasi risiko berbasis alur proses pengujian yang mencakup penerimaan sampel uji, penanganan sampel uji, penyimpanan sampel uji, semua tahapan pelaksanaan pengujian, perekaman data, manajemen data hingga proses penerbitan sertifikat hasil pengujian dengan mempertimbangkan berbagai faktor terkait antara lain kondisi lingkungan proses, penggunaan peralatan uji, pekerjaan manual serta penggunaan bahan kimia. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa manajemen risiko yang diterapkan mampu mengungkap potensi risiko yang mungkin terjadi, peta atau profil dan rangking risiko serta mitigasi risiko yang telah dilakukan. Terdapat lebih dari 20 potensi risiko dalam semua operasional kegiatan pengujian di laboratorium biologi molekuler BBPPBPTH. Hasil analisis risiko secara profil bersifat trivial dan acceptable atau kategori rendah sehingga pengendalian yang direkomendasikan adalah dengan supervisi rutin terhadap kegiatan yang menimbulkan potensi risiko yang teridentifikasi dan tidak diperlukan tindakan tambahan dalam pengendalian risiko.