The background of this research arises from the need to integrate local philosophical values into the modern education system in the era of digital transformation. Although Ki Hadjar Dewantara's thinking has long been the foundation of education in Indonesia, in-depth analysis of its specific relevance to the Merdeka Curriculum policy is still limited in the current literature. The purpose of this study is to conceptually analyse the relevance of Ki Hadjar Dewantara's educational thinking to the implementation of the Merdeka Curriculum in Indonesia in order to fill the gap in systematic studies on this subject. The research method used is library research with a descriptive qualitative approach. The data analysis technique follows the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study confirm that the Merdeka Curriculum is a modern actualisation of Dewantara's philosophy. The main findings show harmony in five key points: the concept of ‘liberating humans’ manifested in flexibility of interests and talents; the role of teachers as facilitators (Among System) in student-centred learning; integration of local content as a form of culture-based education; character building through the Pancasila Student profile; and adaptation of education to the nature of the times through digital transformation. This research makes a valuable contribution to supporting the philosophical legitimacy of the Merdeka Curriculum as a strategic instrument for ensuring the sustainability of national education discourse based on national identity while remaining globally relevant.ABSTRAKLatar belakang penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk mengintegrasikan nilai-nilai filosofis lokal ke dalam sistem pendidikan modern di era transformasi digital. Meskipun pemikiran Ki Hadjar Dewantara telah lama menjadi fondasi pendidikan di Indonesia, analisis mendalam mengenai keterkaitannya secara spesifik dengan kebijakan Kurikulum Merdeka masih terbatas dalam literatur saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara konseptual relevansi pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara terhadap implementasi Kurikulum Merdeka di Indonesia guna mengisi kekosongan kajian sistematis terkait hal tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa Kurikulum Merdeka merupakan aktualisasi modern dari filsafat Dewantara. Temuan utama menunjukkan adanya keselarasan pada lima poin kunci: konsep "memerdekakan manusia" yang terwujud dalam fleksibilitas minat dan bakat; peran guru sebagai fasilitator (Sistem Among) dalam pembelajaran berpusat pada siswa; integrasi muatan lokal sebagai bentuk pendidikan berbasis budaya; penguatan karakter melalui profil Pelajar Pancasila; serta adaptasi pendidikan terhadap kodrat alam dan zaman melalui transformasi digital. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam memperkokoh legitimasi filosofis Kurikulum Merdeka sebagai instrumen strategis untuk menjamin keberlanjutan wacana pendidikan nasional yang berakar pada jati diri bangsa namun tetap relevan secara global.