Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peran strategis kerajaan Islam awal abad XIII–XVII dalam membentuk fondasi ekonomi, kekuasaan, dan peradaban Nusantara yang belum sepenuhnya dikaji melalui pendekatan pendidikan sejarah. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan antara fondasi ekonomi Islam dan dinamika pasang surut kekuasaan Kerajaan Samudera Pasai, Malaka, dan Aceh Darussalam serta relevansinya bagi pengembangan pembelajaran sejarah. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan karakter deskriptif-analitis melalui pendekatan historis dan pendidikan sejarah, menggunakan data sekunder yang bersumber dari kronik sejarah, naskah hukum, catatan musafir, serta literatur ilmiah dan jurnal bereputasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekonomi Islam berbasis perdagangan internasional, tata kelola pelabuhan, mata uang, baitul mal, serta legitimasi keagamaan menjadi basis utama pembentukan dan penguatan kekuasaan ketiga kerajaan tersebut. Samudera Pasai tampil sebagai pelopor ekonomi dan pendidikan Islam, Malaka sebagai pusat hegemoni maritim dan hukum Islam, sedangkan Aceh Darussalam berkembang sebagai kekuatan politik, ekonomi, dan intelektual yang berorientasi pada perlawanan kolonial. Temuan penelitian menegaskan bahwa kemunduran kerajaan-kerajaan tersebut dipengaruhi oleh konflik internal dan tekanan geopolitik global. Implikasi penelitian ini memperkaya historiografi Islam Nusantara sekaligus memberikan kontribusi praktis bagi pendidikan sejarah melalui pengembangan materi ajar yang kontekstual, kritis, dan sarat nilai ekonomi, kekuasaan, serta identitas Islam-bangsaan.