Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Peran Perawat Sebagai Edukator Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Langsa Timur Febriana Ulfa; Mailisna; Nurhayati Ningsih
Public Health Journal Vol. 1 No. 3 (2024): Desember
Publisher : Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/62xd9246

Abstract

Kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hipertensi merupakan determinan yang berpengaruh terhadap kendali tekanan darah pasien. Perawat sebagai petugas kesehatan memiliki peran sebagai edukator atau pendidik. Sebagai seorang pendidik, perawat membantu klien mengenal kesehatanya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan peran perawat sebagai edukator dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Langsa Timur.Desain penelitian ini menggunakan jenis analytic yang bersifat cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Langsa Timur sebanyak 491 orang. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 83 responden yang dilakukan dengan teknik proportional stratified random sampling. Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 83 responden sebagian besar mengatakan bahwa perawat berperan buruk sebagai edukator sebanyak 56 responden (67,5%). Sebagian besar responden menerapkan kepatuhan minum obat yang rendah sebanyak 51 responden (61,4%). Ada hubungan peran perawat sebagai edukator dengan kepatuhan minum obat penderita hipertensi dengan p-value 0,001 (p<0,05).Ada hubungan peran perawat sebagai edukator dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Langsa Timur.
Pengaruh Edukasi Digital Terhadap Tingkat Pengetahuan Anemia Pada Remaja Putri di SMA Unggul Cut Nyak Dhien Langsa Wanda Rekymah Juliani; Ngatwadi; Mailisna
Public Health Journal Vol. 1 No. 3 (2024): Desember
Publisher : Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/be7ta259

Abstract

Anemia di Indonesia pada wanita usia subur (15 - 24 tahun) meningkat dari 21,6% di tahun 2018 menjadi 22,3% di tahun 2019. Faktor yang mempengaruhi status anemia remaja putri adalah pengetahuan. Kurangnya pengetahuan tentang anemia menyebabkan remaja rawan terhadap anemia. Untuk mengetahui pengaruh edukasi digital terhadap tingkat pengetahuan anemia pada remaja putri di SMA Unggul Cut Nyak Dhien Langsa. Desain penelitian adalah pre-experimental design dengan rancangan one group pretest-posttest design. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswi SMA Unggul Cut Nyak Dhien Langsa, total sampel berjumlah 34 siswi dengan teknik total sampling. Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji wilcoxon. Sebelum diberikan edukasi digital pengetahuan anemia pada remaja putri sebagian besar cukup sebanyak 16 responden (47,1%) dengan rata-rata skor 63,2 dengan standar deviasi 11,930 dan confidence interval (48-96).  Setelah diberikan edukasi digital sebagian besar pengetahuan anemia pada remaja putri sebagian besar baik sebanyak 23 responden (67,6%) dengan rata-rata skor meningkat menjadi 82,9 dengan standar deviasi 17,631 dan confidence interval (48-102). Ada pengaruh edukasi digital terhadap tingkat pengetahuan anemia pada remaja putri dengan p-value 0,000 (p<0,05).  Ada pengaruh edukasi digital terhadap tingkat pengetahuan anemia pada remaja putri di SMA Unggul Cut Nyak Dhien Langsa. Saran bagi remaja agar menambah wawasan tentang cara anemia pada remaja putri, sehingga remaja dapat menerapkan perilaku pencegahan anemia untuk mendukung sistem sistem kesehatan reproduksi remaja.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan (Penkes) Terhadap Peningkatan Pengetahuan Untuk Mencegah Acne Vulgaris di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Seruway Sevi Anjani; Mailisna; Irma Hartati
Public Health Journal Vol. 1 No. 3 (2024): Desember
Publisher : Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/42yqwz49

Abstract

Peningkatan pengetahuan tentang acne vulgaris dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan adalah upaya persuasi atau pembelajaran kepada seseorang agar mau melakukan tindakan-tindakan untuk memelihara atau meningkatkan taraf kesehatan. Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan (penkes) terhadap peningkatan pengetahuan untuk mencegah acne vulgaris di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Seruway. Metode : Penelitian quasi eksperimen dengan menggunakan desain one group pretest-postest. Sampel dalam penelitian ini adalah remaja kelas VII dengan total 60 siswa SMP Negeri 2 Seruway dengan teknik total sampling. Analisa data menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji wilcoxon. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan pendidikan kesehatan pengetahuan siswa tentang mencegah acne vulgaris sebagian besar cukup sebanyak 50 responden (83,3%) dengan rata-rata skor 6,4 dengan standar deviasi 0,907 dan confidence interval (5-9). Setelah diberikan pendidikan kesehatan sebagian besar pengetahuan dalam kategori baik sebanyak 47 responden (78,3%) dengan rata-rata skor meningkat menjadi 8,8 dengan standar deviasi 1,127 dan confidence interval (7-8). Ada pengaruh pendidikan kesehatan (penkes) terhadap peningkatan pengetahuan untuk mencegah acne vulgaris dengan p-value 0,000 (p<0,05). Kesimpulan : Ada pengaruh pendidikan kesehatan (penkes) terhadap peningkatan pengetahuan untuk mencegah acne vulgaris di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Seruway. Saran : Bagi remaja agar menambah wawasan tentang cara pencegahan acne vulgaris, dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti batasi makanan tinggi gula dan kalori, bersihkan wajah secara rutin, olahraga teratur dan perbanyak konsumsi air putih serta kelola stres.
Effectiveness of Progressive Muscle Relaxation Therapy Against Insomnia Symptoms in Adolescents Teguh Wahyudi; Mailisna
Professional Evidence-based Research and Advances in Wellness and Treatment Vol. 3 No. 1 (2026): January, 2026
Publisher : CV. Get Press Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69855/perawat.v3i1.403

Abstract

Insomnia is a common sleep disorder among adolescents and can interfere with their health, emotional well-being, and academic performance. Progressive muscle relaxation is a non-pharmacological technique known to reduce tension and improve sleep. This study aimed to evaluate the effectiveness of progressive muscle relaxation therapy in reducing insomnia symptoms in students at SMP Negeri 31 Padang. Using an experimental pretest–posttest design, the study involved 40 adolescents aged 12–15 years experiencing insomnia, selected through purposive sampling. Participants were divided into experimental and control groups, with the intervention delivered in six sessions over three weeks. Sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) before and after the intervention. Paired t-tests were used to analyze changes within the experimental group, and independent t-tests compared outcomes between groups. Univariate findings showed that most participants were 12–13 years old and experienced moderate insomnia. The bivariate analysis indicated a significant decrease in PSQI scores in the experimental group after receiving progressive muscle relaxation therapy (p = 0.000), demonstrating improved sleep quality. Independent t-test results also revealed a significant difference between the experimental and control groups after therapy (p = 0.000), confirming the superior effectiveness of the intervention. These results show that progressive muscle relaxation can serve as an effective non-pharmacological alternative for managing insomnia among adolescents. Implementing this therapy in school settings may help enhance students’ sleep quality and overall mental well-being.