Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Transformasi Pembelajaran Kolaboratif: Efektivitas Permainan Tradisional Engklek sebagai Solusi Alternatif Ketergantungan Gadget dalam Pembelajaran IPS Lia Yustica Cahya Utami; Aulya Fauzanna; Mokhammad Miftakhul Huda
REFORM : Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Budaya Vol. 8 No. 02 (2025): REFORM : Jurnal Pendidikan, Sosial, & Budaya
Publisher : YAYASAN HAMJAH DIHA bekerjasama dengan PENA INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70004/reform.v8i02.228

Abstract

Ketergantungan siswa sekolah dasar terhadap gadget telah memunculkan penurunan interaksi sosial dan keterlibatan belajar, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang menekankan pengembangan kompetensi sosial. Meskipun penelitian mengenai permainan tradisional telah dilakukan, sebagian besar kajian terdahulu berfokus pada aspek motorik dan kognitif, sehingga belum memberikan pemahaman komprehensif mengenai integrasi permainan engklek sebagai media pembelajaran kolaboratif. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran engklek dalam memperkuat partisipasi, komunikasi, dan kerja sama siswa dalam pembelajaran IPS. Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan locus di SD Baiturrohman Jember. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, angket, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola partisipasi dan dinamika interaksi siswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa engklek berkontribusi signifikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aktif, partisipatif, dan berbasis pengalaman langsung. Selain meningkatkan motivasi dan kemandirian siswa, engklek terbukti mengurangi ketergantungan terhadap gadget serta memperkuat nilai kerja sama dan interaksi sosial. Penelitian ini menawarkan kontribusi teoretis berupa pemodelan integrasi permainan tradisional dalam kerangka pedagogis IPS, serta kontribusi praktis berupa strategi pembelajaran berbasis budaya lokal yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan pendidikan dasar kontemporer. The pervasive dependency of elementary school students on digital gadgets has precipitated a notable decline in social interaction and academic engagement, particularly within Social Sciences (IPS), a subject critically reliant on developing social competencies. While extant research on traditional games exists, it has predominantly emphasized motor and cognitive dimensions, thereby lacking a comprehensive examination of their integration as collaborative pedagogical tools. This qualitative descriptive study, situated at SD Baiturrohman Jember, analyzes the role of the traditional engklek (hopscotch) game in bolstering student participation, communication, and cooperation in IPS. Data gathered through observation, in-depth interviews, questionnaires, and documentation were subjected to thematic analysis, revealing that engklek significantly fosters an active, participatory, and experiential learning environment. The game not only enhanced student motivation and autonomy but also effectively mitigated gadget dependency while reinforcing cooperative values and social interaction. Consequently, this study provides a theoretical contribution by modeling the integration of traditional games into an IPS pedagogical framework and a practical contribution by offering an applicable, culturally-grounded learning strategy relevant to contemporary primary education needs.
Rekontruksi Pembelajaran IPS Berbasis Kurikulum Merdeka Pada Tingkat Sekolah Menengah Pertama Lia Yustica Cahya Utami; Moh. Sutomo; Salsabilah Dwi Nur Rohma
REFORM : Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Budaya Vol. 8 No. 03 (2025): Vol. 8 No. 03 (2025): REFORM : Jurnal Pendidikan, Sosial, & Budaya
Publisher : YAYASAN HAMJAH DIHA bekerjasama dengan PENA INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rekonstruksi pembelajaran IPS berbasis Kurikulum Merdeka menjadi langkah strategis dalam merespons tuntutan pendidikan abad ke-21 yang menekankan fleksibilitas, relevansi konteks, dan pengembangan kompetensi berpikir tingkat tinggi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses rekonstruksi perangkat pembelajaran IPS, menganalisis peran kepemimpinan sekolah dalam mendukung implementasi kurikulum, serta mengidentifikasi reposisi asesmen autentik dalam proses pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara, observasi ringan, dan telaah dokumen pembelajaran. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi, kategorisasi tematik, dan verifikasi interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyusunan perangkat ajar berada pada fase transisi, dengan Capaian Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran telah siap digunakan, sementara modul ajar dan bahan ajar kontekstual masih memerlukan penyempurnaan struktural dan substansial. Selain itu, kepala sekolah berperan sebagai pengarah kebijakan akademik melalui supervisi, pemberian ruang inovasi, dan fasilitasi kolaborasi guru. Pada dimensi asesmen, ditemukan bahwa asesmen diagnostik dan sumatif telah berjalan stabil, sementara asesmen formatif dan reflektif masih dalam tahap harmonisasi praktik. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka merupakan proses bertahap yang membutuhkan dukungan kelembagaan, peningkatan kompetensi pedagogis guru, serta konsistensi praktik pembelajaran dan asesmen agar tujuan kurikulum dapat terwujud secara optimal. Reconstruction of Independent curriculum-based social studies learning is a strategic step in responding to the demands of 21st century education that emphasizes flexibility, context relevance, and the development of high-level thinking competencies. This study aims to describe the process of reconstruction of social studies learning tools, analyze the role of school leadership in supporting curriculum implementation, and identify the repositioning of authentic assessments in the learning process. The study used a descriptive qualitative approach through interviews, light observation, and study of learning documents. Data analysis is done through a process of reduction, thematic categorization, and interpretative verification. The results showed that the preparation of teaching tools is in the transition phase, with learning outcomes and flow of learning objectives have been ready for use, while teaching modules and contextual teaching materials still require structural and substantial improvements. In addition, the principal acts as a director of academic policy through supervision, provision of innovation space, and facilitation of teacher collaboration. In the assessment dimension, it was found that the Diagnostic and summative assessment has been running stable, while the formative and reflective assessment is still in the stage of harmonization of practice. Overall, these findings indicate that the implementation of an independent curriculum is a gradual process that requires institutional support, improvement of teachers pedagogical competence, and consistency of learning and assessment practices so that curriculum objectives can be realized optimally.