Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan Epistemologi Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd: Antara Intuisi, Rasio, dan Empiris Muliawan, Cahyo; Normuslim
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1538

Abstract

Kajian terhadap epistemologi Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd menunjukkan bahwa tradisi pemikiran Islam klasik memiliki kekayaan konseptual yang luas dalam memahami proses, sumber, dan tujuan pengetahuan. Perbedaan pendekatan ketiga tokoh tersebut tidak menunjukkan pertentangan mutlak, melainkan menegaskan keberagaman cara memahami realitas dan kebenaran. Al-Ghazali menawarkan epistemologi integratif yang menempatkan indera, akal, dan hati sebagai instrumen pengetahuan, dengan puncaknya berupa intuisi spiritual (ilmu laduni), sehingga pencarian kebenaran melibatkan dimensi rasional sekaligus batiniah. Ibnu Sina mengembangkan epistemologi rasional-intuisionistik dengan teori hierarki akal, menekankan peran akal dalam memahami realitas sekaligus mengakui intuisi intelektual sebagai pencapaian kognitif tertinggi, menjembatani filsafat Aristoteles dan neoplatonisme dalam konteks Islam. Sementara Ibnu Rusyd menghadirkan pendekatan rasional-empiris yang sistematis, menegaskan bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi dan diolah melalui mekanisme abstraksi akal, serta menolak klaim pengetahuan intuitif mistis. Sintesis ketiga pandangan ini menegaskan bahwa epistemologi Islam klasik bersifat multidimensional, memadukan indera, akal, intuisi, wahyu, dan pengalaman spiritual. Pendekatan ini menjadi dasar bagi pengembangan epistemologi Islam kontemporer yang holistik, yang tidak hanya mengandalkan rasionalitas, tetapi juga menghargai dimensi spiritual dan etis dalam pencarian kebenaran.
METODE PENAFSIRAN ZAHIR–ISYARI DALAM GHARAIB AL-QUR'AN WA RAGHAIB AL-FURQAN: ANALISIS TAFSIR AL-NAISABURI ATAS QS. AL-BAQARAH: 72–73 Muliawan, Cahyo; Anwar, Khairil; Mahfuzh, Taufik Warman
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 3 No 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v3i2.1571

Abstract

Kajian terhadap metodologi penafsiran al-Qur’an terus berkembang seiring munculnya berbagai corak pemikiran ulama. Al-Naisaburi sebagai salah seorang mufassir klasik menawarkan metode penafsiran yang unik melalui karyanya Gharaib al-Qur'an wa Raghaib al-Furqan, yakni dengan menggabungkan tafsir zahir (tekstual) dan tafsir isyari (sufistik) dalam satu rangkaian penafsiran. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis untuk menelaah pola penafsiran al-Naisaburi terhadap QS. al-Baqarah: 72-73. Data dikumpulkan dari karya tafsir primer serta literatur pendukung mengenai tafsir isyari dan metodologi tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Naisaburi memulai penafsiran dengan makna zahir, kemudian dilanjutkan dengan penafsiran isyari sebagai pendalaman makna batin yang bernilai spiritual dan etis. Kajian ini menegaskan bahwa model penafsiran al-Naisaburi penting dalam mengembangkan paradigma tafsir integratif yang tidak hanya memuat makna literal teks, tetapi juga membuka dimensi tazkiyatun nafs (pembersihan hati) melalui simbolisme Qur'ani.