Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Academic Management Supervision of the Principal Madrasah Riyono; Normuslim; Muslimah
International Journal of Community Engagement Payungi Vol. 1 No. 1 (2021): International Journal of Community Engagement Payungi
Publisher : Yayasan Payungi Smart Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.819 KB) | DOI: 10.58879/ijcep.v1i1.3

Abstract

The aim of this article was to describe how the principles, objectives, the function and approach of supervision, as well as how the head of madrasah carries out the planning, implementation and follow-up of academic supervision at madrasah. The researchers used literature review. The step was to trace the printed and electronic references regarding the supervision of madrasah principals in general, then narrow it down to the sub-focus of the discussion, namely the academic supervision of madrasah principals. Once deemed sufficient, the authors describe it systematically. The findings of this study showed that academic supervision was an effort to help teachers develop their abilities in achieving learning goals. The essence of academic supervision was not any assessing the performance of teachers in managing the learning process, but helping teachers  to develop their professional abilities. Academic supervision that must be carried out by the principal of madrasah includes: planning an academic supervision program, carrying out academic supervision, following up on the results of academic supervision aimed at increasing the professionalism of teachers as professional educators.
Integrasi Nilai-Nilai Humanis Dalam Kepemimpinan Pendidikan Islam Multikultural Hayati, Rahmi; Normuslim; Muslimah
Jurnal sosial dan sains Vol. 5 No. 5 (2025): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v5i5.32203

Abstract

Kepemimpinan pendidikan Islam pada era multikultural menuntut adanya transformasi yang tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga nilai. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah belum terintegrasinya nilai-nilai humanis secara sistematis dalam praktik kepemimpinan pendidikan Islam, terutama dalam konteks masyarakat yang beragam secara budaya dan keyakinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji konsep, landasan, serta strategi implementatif nilai-nilai humanis dalam kepemimpinan pendidikan Islam multikultural. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka (library research) dan analisis hermeneutik terhadap teks keislaman serta referensi ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti empati, rahmah, keadilan, dan partisipasi merupakan bagian integral dari kepemimpinan Islam, dan ketika dipadukan dengan pendekatan multikultural, dapat memperkuat iklim pendidikan yang inklusif dan adil. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya pembaruan kurikulum kepemimpinan, penguatan budaya sekolah inklusif, dan peningkatan literasi multikultural di kalangan pemimpin pendidikan. Integrasi nilai-nilai humanis merupakan kunci untuk menjawab tantangan pendidikan Islam di era pluralisme dan globalisasi.
Integration of Islamic Religious Education and Modern Economics: Revitalizing The Four Prophet Muhammad’s Character Pillars As A Role Model For Mu’amalah Practices Among Gen-Z Ramadhan, Sayid Ahmad; Normuslim; Hamdanah
International Journal of Social Science and Religion (IJSSR) 2025: Volume 6 Issue 2
Publisher : Indonesian Academy of Social and Religious Research (IASRR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53639/ijssr.v6i2.330

Abstract

This study aims to critically examine the synergy between Islamic Religious Education (PAI) and the modern economy through the revitalization of the four prophetic traits of Prophet Muhammad PBUH namely is shiddiq, amanah, tabligh, and fathanah, as an alternative approach to shaping the economic character of Generation Z. The research was conducted using a library research method by reviewing various relevant literature to develop a transformative and applicable educational model. The findings indicate an urgent need to redesign PAI learning so that it becomes more adaptive to technological advancements and capable of fostering active student engagement in understanding socio-economic dynamics. Furthermore, the contribution of this revitalization in the PAI learning system should be thoroughly formulated and implemented to produce a generation that is not only spiritually devout but also competent, possesses integrity, and is committed to social justice and sustainability. On the other hand, there are several foundational tasks that must be addressed prior to its realization. These include the need for curriculum enhancement programs, increased professionalism among all educational components, and the development of an integrative evaluation system to help establish a dignified Islamic economic system.
Representasi Al-Khamr Dalam Al-Qur’an (Studi Semiotika Roland Barthes) Mawardi Khalid; Normuslim; Ahmadi
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 23 No. 2 (2025): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/qodiri.2025.23.2.321-330

Abstract

Al-Khamr is one of the Arabic words found in the Qu’'an that gives a variety of interpretations because it is a term that refers to the nature of a thing. Many Islamic scholars of the past and present provide different understandings based on context and concept. This different understanding has an impact on the legal derivatives of khamr itself. This article tries to examine slowly using the theory of signs and grammar so as to produce basic concepts and applied concepts. Resulting in an understanding that khamr is not only a drink resulting from processed or fermented wine and so on. Understanding Khamr can be an object or a condition both environment and system that has caused the closing of the mind so that humans as intelligent beings can no longer think in their nature. Keywords: Al-Khamr, Representation, Quran, Semiotics, Roland Barthes
Epistemologi Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, dan Ibnu Sina: Perspektif Filsafat Islam: (The Epistemology of Ibn Rushd, Al-Ghazali, and Ibn Sina: An Islamic Philosophical Perspective) Normuslim; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1492

Abstract

Epistemologi Islam merupakan bidang kajian yang menelaah hakikat, sumber, dan batas pengetahuan dalam kerangka keislaman. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komparatif pemikiran epistemologis tiga tokoh besar dalam tradisi filsafat Islam klasik, yaitu Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian kepustakaan (library research) dengan pendekatan analisis komparatif-filosofis, yakni menelaah karya utama ketiga tokoh seperti Al-Syifa’ (Ibnu Sina), Tahafut al-Falasifah dan Ihya’ Ulum al-Din (Al-Ghazali), serta Tahafut al-Tahafut (Ibnu Rusyd). Data dianalisis secara kualitatif untuk mengidentifikasi persamaan, perbedaan, serta relevansi pemikiran mereka terhadap perkembangan epistemologi Islam dan ilmu pengetahuan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiganya memiliki landasan epistemologis yang berbeda namun saling melengkapi. Ibnu Sina menekankan rasionalitas dan proses intelektual sebagai jalan menuju pengetahuan; Al-Ghazali menempatkan intuisi dan iluminasi spiritual sebagai puncak pengetahuan hakiki; sementara Ibnu Rusyd berusaha mengharmonikan akal dan wahyu, menolak dikotomi antara filsafat dan agama. Ketiganya memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan ilmu dan etika berpikir dalam Islam. Implikasi kontemporernya terlihat pada pentingnya integrasi antara rasio, etika, dan spiritualitas dalam pendidikan dan riset ilmiah modern, guna membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak.
Epistemologi Islam dalam Pemikiran Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd : Analisis Komparatif dan Relevansinya Bagi Pendidikan Islam Modern Andri Suryani; Normuslim
Hikamatzu | Journal of Multidisciplinary Vol. 2 No. 2 (2025): Multidisciplinary Approach
Publisher : Hikamatzu | Journal of Multidisciplinary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam konsep epistemologi dalam pemikiran tiga tokoh utama Islam klasik, Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd, serta menelaah relevansinya terhadap rekonstruksi pendidikan Islam modern. Latar belakang penelitian ini berangkat dari krisis epistemologis dalam pendidikan Islam kontemporer yang ditandai oleh fragmentasi antara dimensi rasional, spiritual, dan wahyu. Krisis tersebut mengakibatkan orientasi pendidikan Islam kehilangan keseimbangan antara pengembangan intelektual dan pembentukan moral-spiritual.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) dan analisis filosofis-komparatif. Data dikumpulkan dari karya-karya primer seperti Al-Shifa’ dan Al-Najat (Ibnu Sina), Ihya’ Ulum al-Din dan Al-Munqidz min al-Dhalal (Al-Ghazali), serta Fashl al-Maqal dan Tahafut al-Tahafut (Ibnu Rusyd), yang kemudian dianalisis melalui proses identifikasi, perbandingan, dan sintesis konseptual.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Sina menegaskan rasionalitas demonstratif (burhānī) sebagai sarana pencapaian pengetahuan hakiki, Al Ghazali mengedepankan iluminasi intuitif (kasyf) melalui penyucian jiwa sebagai jalan menuju pengetahuan ilahiah; sedangkan Ibnu Rusyd menawarkan sintesis epistemologis melalui harmonisasi akal dan wahyu menggunakan metode ta’wīl. Ketiganya membentuk kerangka epistemologi Islam yang komplementer antara akal, hati, dan wahyu.Secara konseptual, temuan ini menegaskan bahwa integrasi pemikiran ketiga tokoh tersebut relevan untuk mengembangkan model pendidikan Islam transformatif yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan kognitif, tetapi juga pada pembentukan kesadaran moral dan spiritual menuju terwujudnya insan kamil. Hasil penelitian ini memberikan arah baru bagi rekonstruksi epistemologi pendidikan Islam di era modern.
Perbandingan Epistemologi Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd: Antara Intuisi, Rasio, dan Empiris Muliawan, Cahyo; Normuslim
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1538

Abstract

Kajian terhadap epistemologi Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd menunjukkan bahwa tradisi pemikiran Islam klasik memiliki kekayaan konseptual yang luas dalam memahami proses, sumber, dan tujuan pengetahuan. Perbedaan pendekatan ketiga tokoh tersebut tidak menunjukkan pertentangan mutlak, melainkan menegaskan keberagaman cara memahami realitas dan kebenaran. Al-Ghazali menawarkan epistemologi integratif yang menempatkan indera, akal, dan hati sebagai instrumen pengetahuan, dengan puncaknya berupa intuisi spiritual (ilmu laduni), sehingga pencarian kebenaran melibatkan dimensi rasional sekaligus batiniah. Ibnu Sina mengembangkan epistemologi rasional-intuisionistik dengan teori hierarki akal, menekankan peran akal dalam memahami realitas sekaligus mengakui intuisi intelektual sebagai pencapaian kognitif tertinggi, menjembatani filsafat Aristoteles dan neoplatonisme dalam konteks Islam. Sementara Ibnu Rusyd menghadirkan pendekatan rasional-empiris yang sistematis, menegaskan bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi dan diolah melalui mekanisme abstraksi akal, serta menolak klaim pengetahuan intuitif mistis. Sintesis ketiga pandangan ini menegaskan bahwa epistemologi Islam klasik bersifat multidimensional, memadukan indera, akal, intuisi, wahyu, dan pengalaman spiritual. Pendekatan ini menjadi dasar bagi pengembangan epistemologi Islam kontemporer yang holistik, yang tidak hanya mengandalkan rasionalitas, tetapi juga menghargai dimensi spiritual dan etis dalam pencarian kebenaran.
Epistemologi 3 Tokoh (Ibnu Sina, Al Ghazali dan Ibnu Rusyd) dalam Pemikiran Pendidikan Hakim, M. Arif; Normuslim
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1537

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model epistemologi Islam yang integratif melalui analisis komparatif terhadap pemikiran tiga tokoh besar Islam, yaitu Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd. Ketiganya dipilih karena mewakili spektrum rasionalisme, spiritualisme, dan empirisme yang membentuk fondasi epistemologi Islam klasik. Penelitian ini berangkat dari problem fragmentasi ilmu modern yang cenderung memisahkan antara sains dan nilai-nilai keagamaan, sehingga diperlukan pendekatan konseptual yang mampu merekonstruksi hubungan antara akal, intuisi, dan wahyu di era digital. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis dan teknik sintesis komparatif. Sumber data mencakup karya primer ketiga tokoh dan kajian sekunder berupa artikel ilmiah bereputasi yang relevan dengan tema epistemologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi rasionalitas Ibnu Sina, spiritualitas intuitif Al-Ghazali, dan empirisme rasional Ibnu Rusyd menghasilkan model epistemologi Islam integratif yang mampu menjadi dasar bagi rekonstruksi ilmu pengetahuan modern. Model ini tidak hanya menegaskan posisi wahyu sebagai sumber kebenaran tertinggi, tetapi juga mengembalikan fungsi akal dan intuisi sebagai instrumen pencarian ilmu yang saling melengkapi. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan epistemologi Islam kontemporer dan membuka ruang bagi penerapan praktis di bidang pendidikan Islam dan riset interdisipliner. Dengan demikian, studi ini mempertegas urgensi aktualisasi epistemologi Islam yang kontekstual, dinamis, dan adaptif terhadap tantangan era digital.
Sintesis dan Diskrepansi Epistemologi: Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd dalam Pusaran Intelektual Islam Munawarah, Hasanatul; Normuslim
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1572

Abstract

Artikel ini mengkaji secara komprehensif epistemologi tiga tokoh sentral dalam sejarah intelektual Islam: Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd. Melalui analisis komparatif, Artikel ini mengidentifikasi titik temu, perbedaan, serta kontribusi unik masing-masing filsuf terhadap perkembangan pemikiran Islam. Penelitian ini menelusuri bagaimana mereka merespons tantangan zaman, berinteraksi dengan tradisi filsafat Yunani, dan menawarkan solusi epistemologis yang beragam. Fokus utama adalah pada metode perolehan pengetahuan, sumber-sumber kebenaran, serta implikasi pandangan mereka terhadap pendidikan dan pemikiran keagamaan. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan signifikan, ketiga tokoh ini berbagi komitmen terhadap rasionalitas dan pencarian kebenaran, meskipun dengan pendekatan yang berbeda. Artikel ini juga menyoroti relevansi pemikiran mereka dalam konteks kontemporer, terutama dalam upaya integrasi Islam dan sains, serta dalam menghadapi tantangan epistemologis di era modern.
Harmonisasi Nilai Pendidikan Islam dengan Tradisi Balai Hakey dan Tetek Pantan: Kajian Etnopedagogi Suku Dayak Ma’anyan di Kalimantan Tengah Hamdi; Normuslim; Muslimah
Kartika: Jurnal Studi Keislaman Vol. 5 No. 2 (2025): Kartika: Jurnal Studi Keislaman (Agustus)
Publisher : Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT NU) PCNU Kabupaten Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59240/kjsk.v5i2.569

Abstract

The phenomenon of Muslim participation in Hindu Kaharingan religious rituals in Central Kalimantan reflects a compelling form of cultural interaction and acculturation between Islamic values and the local traditions of the Dayak Ma’anyan community. This study employs a qualitative ethnographic approach to explore the harmonization of Islamic educational values with the traditions of Balai Hakey and Tetek Pantan through an ethnopedagogical perspective. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation conducted in East Barito Regency. The findings reveal that Balai Hakey embodies values of togetherness, leadership, and tolerance, while Tetek Pantan represents values of gratitude, morality, and collaboration. Both traditions foster mutual respect, a strong work ethic, and social responsibility within the community. The harmony between Islamic values and local wisdom demonstrates a contextual and culturally responsive model of character education that is relevant to multicultural societies. The integration of these values not only strengthens character education but also contributes to the preservation of Dayak Ma’anyan cultural heritage