Tubagus Umar Syarif Hadiwibowo
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peranan Perdagangan Antarbangsa dalam Membentuk Masyarakat Kosmopolitan di Kota Banten pada Masa Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir (1624-1651 M) Sekar Apriani Pithaloka; Tubagus Umar Syarif Hadiwibowo; Rikza Fauzan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 7 No. 1 (2025): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v7i1.1230

Abstract

Perdagangan menjadi salah satu pilar utama dalam membangun peradaban sejak zaman kuno. Sebagai salah satu pusa perdagang utama di Asia Tenggara, Kota Banten memiliki posisi strategos yang memungkinkan terjadinya interaksi intensif antara pedagang lokal dan mancanegara. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kebijakan sosial-ekonomi pada masa Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir (1624-16561 M) dalam mendukung perkembangan perdagangan internasional serta dampaknya terhadap pembentukan masyarakat cosmopolitan di Kota Banten pada abad ke 16-17 M. Metode penelitian yang digunakan adalah metode historis, meliputi tahapan heuristic, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh dari berbagai sumber baik primer maupun sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama menjalankan pemerintahannya, Sultan Abul Mafakhir (1624-1651 M) menerapkan kebijakan progresif seperti membuka kembali jalinan hubungan perdagangan dengan para pedagang asing, menigkatkan produksi utama seperti lada dan memperkenalkan gula sebagai komoditas perdagangan baru di Banten, serta membuka lahan-lahan pertanian, pembuatgan irigasi dan lumbung padi. Kebijakan tersebut tidak hanya memperkuat kembali perekonomian Kesultanan Banten, tetapi juga menicptakan ruang bagi interaksi budaya yang menghasilkan masyarakat cosmopolitan yang toleran dan insklusif sehingga menjadikannya sebagai salah satu kota tamadun Islam di Nusantara.
Tradisi Penjamasan Astana Susuhunan Amangkurat I Di Desa Pesarean Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal Tahun 2006-2024 Lestiawan, Tsalsabila; Tubagus Umar Syarif Hadiwibowo; Ana Nurhasanah
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i1.12233

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan tradisi Penjamasan Astana Susuhunan Amangkurat I di Desa Pesarean Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode sejarah yang meliputi pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya menghidupkan kembali tradisi penjamasan astana Susuhunan Amangkurat I yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Tegal sebagai bentuk menguri-nguri budaya Jawa. Perkembangan awal terjadi mulai tahun 2006 dimana kegiatan dilakukan dengan sederhana dan terbatas pada kegiatan inti. Lalu mulai mengalami perubahan dengan menghadirkan hiburan sebagai kegiatan pendukung. Adanya kegiatan pendukung membuat masyarakat lebih merasakan menjadi bagian dari penggerak tradisi Jawa. Namun adanya pandemi Covid-19 mengubah kegiatan penjamasan sama seperti sebelumnya yang hanya terbatas pada kegiatan inti. Setelah berakhirnya pandemi Covid-19 kegiatan ini mendapatkan respons positif dimana kegiatan penjamasan dilakukan sebanyak dua kali sebagai upaya meningkatkan kembali kebersamaan dan antusiasme masyarakat. Nilai budaya yang terkandung pada ini yaitu religius, etika, dan sosial, serta memiliki makna antara lain: makna hidup manusia (pembersihan spiritual, berbuat baik), makna hubungan manusia dengan makhluk sekitarnya (memanfaatkan alam sebaik-baiknya), persepsi terhadap waktu (waktu pelaksanaan penjamasan), makna dari pekerjaan, karya atau amal dari perbuatan manusia (ritual tradisi), dan hubungan dengan sesama manusia (kebersamaan, gotong royong dan saling menghargai).