Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Identifikasi Persepsi Masyarakat Mengenai Rasa Aman dan Faktor Pemicu Kekerasan di Palmerah Anthony Tio Sebastian Budiarto; Frederick Allensius; Frederick Clarence; Jonathan Andrew Saleh; Kenneth Flynn Gunawan; Nicholas Juari; Aryusmar; Markus Kurniawan
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 3 No. 4 (2025): December : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v3i4.823

Abstract

Persepsi rasa aman dan paparan terhadap kekerasan merupakan elemen krusial bagi kesejahteraan masyarakat perkotaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat paparan kekerasan (fisik, psikologis, dan seksual) serta persepsi keamanan di wilayah Palmerah, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya, termasuk peran agama. Penelitian ini mengimplementasikan metode kuantitatif melalui penyebaran kuesioner kepada 62 responden yang berdomisili di Palmerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat paparan kekerasan di Palmerah tergolong rendah, dengan 72% hingga 82% responden menyatakan "Tidak Pernah" mengalaminya. Persepsi rasa aman secara umum positif (71,0% menilai 4 atau 5), namun ditemukan pergeseran signifikan pada malam hari, di mana hanya 6,5% responden merasa "sangat aman" (dibandingkan 61,3% pada siang hari). Faktor utama pendorong rasa aman adalah "keramaian" (82,3%), sementara penyebab utama rasa tidak aman adalah "kondisi lingkungan fisik yang buruk" (58,1%). Menariknya, isu agama tidak dianggap sebagai pemicu kekerasan (50% skor 2), sebaliknya, ajaran agama dinilai berkontribusi positif terhadap rasa aman (62,9% skor 4). Kinerja aparat keamanan dan partisipasi kolektif warga dinilai "cukup" (rata-rata 3,03-3,26). Penelitian ini merekomendasikan dua intervensi utama untuk meningkatkan keamanan: pemasangan CCTV untuk pengawasan teknologi dan penguatan pendidikan karakter di sekolah sebagai solusi preventif jangka panjang.
Membangun Kesatuan dalam Keberagaman: Edukasi Toleransi dan Keadilan dalam Beragama Aditya Rionaldy Danarghani; Muhammad Rafli Adi Nugroho; Nathan Herliawan; Nicholas Gareth Adikusumo; Vicky Winata Phan; Aryusmar; Heru Widoyo
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2025): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is a multicultural nation whose extensive diversity must be managed wisely to preserve national unity and prevent the rise of intolerance among young generations. This project aims to strengthen unity in diversity by promoting tolerance, justice, and inclusive religious education through Character Building activities aligned with SDG 16, which emphasizes peace, justice, and strong institutions. Using a qualitative research method involving field observations, semi-structured interviews, and educational socialization sessions, the study reveals that interreligious relations within the local community are generally harmonious, upheld by mutual respect, collaborative activities, and conflict resolution based on dialogue. Nevertheless, minor tensions still emerge among students, typically triggered by insensitive jokes or misunderstandings related to religious identity. The educational program successfully enhanced students’ awareness of the importance of tolerant behavior, fairness in social interactions, and appreciation of cultural and religious diversity. The findings underscore that inclusive religious education plays a crucial role in shaping young people as peace agents who uphold unity, resist intolerance, and contribute to the creation of a just, peaceful, and harmonious society. Keywords: Unity, Diversity, Education, Tolerance, Justice Abstrak Indonesia merupakan negara multikultural dengan keberagaman agama, budaya, dan etnis yang perlu dikelola secara bijak untuk menjaga kesatuan bangsa serta mencegah munculnya sikap intoleransi, terutama di kalangan generasi muda. Proyek ini bertujuan memperkuat kesatuan dalam keberagaman melalui edukasi toleransi, keadilan, dan nilai-nilai inklusif dalam kegiatan Character Building yang sejalan dengan SDGs poin 16 mengenai perdamaian, keadilan, dan institusi yang kuat. Menggunakan metode penelitian kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara, serta kegiatan sosialisasi edukatif, penelitian menemukan bahwa hubungan antarumat beragama di masyarakat pada umumnya harmonis berkat sikap saling menghargai, kerja sama lintas agama, serta penyelesaian konflik yang mengutamakan dialog. Namun demikian, konflik kecil masih terjadi di kalangan siswa, biasanya dipicu oleh candaan sensitif atau kesalahpahaman terkait identitas agama. Program edukasi yang dilaksanakan mampu meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya bersikap toleran, berperilaku adil dalam kehidupan sehari-hari, serta menghargai keberagaman sebagai kekuatan. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan agama yang inklusif berperan penting dalam membentuk generasi muda sebagai agen perdamaian yang menjunjung kesatuan dan berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang adil, damai, dan harmonis. Kata kunci: Kesatuan, Keberagaman, Edukasi, Toleransi, Keadilan
Sikap Toleransi dalam Membangun Harmoni Sosial di Kalangan Mahasiswa dan Dosen Binus University Huang Mei Thieng; Chalysta Kezia Sodikim; Estella Nelvina; Fillipus Manson; Aryusmar; Heru Widoyo
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2025): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study explores the role of interfaith dialogue as a strategic approach to strengthening social harmony within pluralistic communities. The background of this research lies in the increasing tension, misunderstanding, and prejudice among groups that differ in religious identity, which often escalates into social conflict. The objective of this study is to describe how interfaith dialogue contributes to tolerance-building, conflict mitigation, and the creation of inclusive social spaces. The research employs a qualitative descriptive method supported by literature studies. The findings indicate that interfaith dialogue is effective in reducing negative perceptions, expanding mutual understanding, and reinforcing collective commitment to peace. This study also confirms that strengthening dialogue at the community level aligns with SDG 16, which emphasizes peace, justice, and strong institutions. The results highlight that dialogue-based initiatives—especially when involving youth, religious leaders, and community organizations—significantly contribute to building resilient and harmonious communities. Keywords: dialogue; harmony; interfaith tolerance; peacebuilding; SDG 16   Abstrak. Penelitian ini membahas peran dialog antarumat beragama sebagai pendekatan strategis dalam memperkuat harmoni sosial di tengah masyarakat yang plural. Latar belakang penelitian ini berangkat dari meningkatnya ketegangan, prasangka, dan kesalahpahaman antar kelompok berbeda agama yang berpotensi memicu konflik sosial. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan bagaimana dialog antaragama berkontribusi dalam membangun toleransi, mengurangi konflik, serta menciptakan ruang sosial yang inklusif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan dukungan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialog antaragama efektif dalam menurunkan persepsi negatif, memperluas pemahaman bersama, dan memperkuat komitmen kolektif terhadap perdamaian. Studi ini juga menegaskan bahwa penguatan dialog pada tingkat komunitas selaras dengan SDG 16 yang menekankan perdamaian, keadilan, dan institusi yang tangguh. Temuan menunjukkan bahwa inisiatif berbasis dialog—khususnya yang melibatkan pemuda, tokoh agama, dan organisasi masyarakat—berkontribusi signifikan terhadap pembangunan masyarakat yang tangguh dan harmonis. Kata kunci: dialog; harmoni; toleransi antaragama; pembangunan perdamaian; SDG 16    
Upaya Sekolah Menguatkan Pendidikan Multikultural untuk Persahabatan Lintas Agama Fedrick Larsson; Muhammad Nufail Fattah; Naufal Fathin Aziz; Steven Muliawan; Rafi Ahmad Pasha; Aryusmar; Heru Widoyo
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2025): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the field of education in Indonesia, multicultural challenges continue to appear, such as stereotypes directed at students from certain regions and the limited development of harmonious interfaith friendships. These issues indicate that diversity is not yet fully embraced within learning environments. Such conditions highlight the need for multicultural education that fosters cultural sensitivity, mutual respect, and the ability to collaborate across differences. Based on this context, the study aims to understand the importance of multicultural education in the learning activities at Kelompok Belajar Cinta Kasih. This research employs a descriptive qualitative approach with data collected through participatory observation and semi-structured interviews. Observations were conducted to examine student interactions, educators’ strategies in instilling multicultural values, and the learning culture that supports diversity. Interviews with educators, administrators, and learners were used to explore their perceptions, experiences, and practices related to multicultural education. Data analysis was carried out through reduction, presentation, and narrative conclusion drawing. The findings show that multicultural education at Kelompok Belajar Cinta Kasih plays a significant role in shaping attitudes of tolerance, empathy, cooperation, and openness in cross-cultural and interfaith interactions. Educators utilize interactive methods and direct experiences to cultivate values of diversity, while an inclusive learning environment strengthens the internalization of these values. The study affirms that multicultural education not only introduces differences but also builds social character that appreciates and celebrates diversity.   Keywords: empathy;Interfaith friendship;learning group;multicultural education;tolerance   Abstrak Dalam dunia pendidikan di Indonesia, persoalan multikultural masih sering muncul, seperti stereotip terhadap peserta didik dari wilayah tertentu dan kurangnya interaksi harmonis dalam pertemanan lintas agama. Situasi ini menunjukkan bahwa keberagaman belum sepenuhnya diterima secara utuh di lingkungan belajar. Kondisi tersebut menegaskan perlunya pendidikan multikultural yang mampu menumbuhkan sensitivitas budaya, sikap saling menghargai, dan kemampuan bekerja sama dalam perbedaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memahami pentingnya pendidikan multikultural dalam kegiatan belajar di Kelompok Belajar Cinta Kasih. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif dan wawancara semi terstruktur. Observasi dilakukan untuk melihat interaksi antarsiswa,a strategi pendidik dalam menanamkan nilai-nilai multikultural, dan budaya belajar yang mendukung keberagaman. Wawancara dilakukan dengan pendidik, pengelola, dan peserta didik untuk menggali persepsi, pengalaman, dan praktik penerapan pendidikan multikultural. Analisis data dilaksanakan melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural di Kelompok Belajar Cinta Kasih berperan penting dalam membentuk sikap toleransi, empati, kerja sama, serta keterbukaan dalam interaksi lintas budaya dan lintas agama. Pendidik memanfaatkan metode interaktif dan pengalaman langsung untuk menanamkan nilai keberagaman, sementara lingkungan belajar yang inklusif memperkuat internalisasi nilai-nilai tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan multikultural tidak hanya mengenalkan perbedaan, tetapi juga membangun karakter sosial yang menghargai dan merayakan keberagaman.   Kata kunci: empati;kelompok belajar;pendidikan multikultural;pertemanan lintas agama;toleransi