Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Texere

PENGARUH SUHU BAKING TERHADAP HASIL PENCAPAN ETSA PUTIH (WHITE DISCHARGE) PADA KAIN DENIM (KAPAS-SPANDEK) HASIL CELUP ZAT WARNA INDIGO Maulida, Nafisa Rizki; Mulyani, Rr. Wiwiek Eka; Martina, Desti; Sukirman, -
Texere Vol 23, No 2 (2025): Texere Volume 23 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v23i2.06

Abstract

Pencapan etsa putih (white discharge) merupakan salah satu teknik pencapan yang dilakukan pada bahan tekstil yang telah melalui proses pencelupan maupun pencapan, kemudian dilakukan pencapan menggunakan pasta cap yang mengandung zat perusak/pengetsa, sehingga warna putih kain semula tampak kembali pada bagian motif yang diinginkan. Zat pengetsa yang digunakan dapat berupa reduktor maupun oksidator. Pada penelitian ini zat pengetsa yang digunakan ialah kalium permanganat (KMnO4) yang berbasis oksidator. Untuk membantu proses oksidasi zat warna bejana menggunakan KMnO4 diperlukan bantuan suhu tinggi dengan pemanasan menggunakan metode uap kering (baking) guna membantu proses penguraian oksigen aktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi suhu baking terhadap hasil pencapan etsa pada kain denim (kapas 95% - spandek 5%). Variasi suhu baking yang dilakukan diantaranya 140, 150, 160, 170 dan 180oC dengan waktu selama 4 menit. Pengujian yang dilakukan meliputi derajat putih kain, ketajaman motif dan kekuatan tarik kain. Berdasarkan hasil percobaan derajat putih kain yang paling tinggi ialah pada suhu baking 150oC yaitu sebesar 54,248. Hasil ketajaman motif kain diperoleh 100% pada suhu 150, 160, 170 dan 180oC. Untuk kekuatan tarik menunjukkan bahwa makin tinggi variasi suhu baking berpengaruh terhadap penurunan kekuatan tarik kain. Pada suhu baking 150oC selama 4 menit menunjukkan hasil yang optimal.
PENGARUH PENGGUNAAN ZAT AKTIF PERMUKAAN KATIONIK POLYQUATERNARY AMMONIUM UNTUK MENINGKATKAN KETUAAN DAN KETAHANAN LUNTUR WARNA HASIL PENCELUPAN KAIN KAPAS DENGAN ZAT WARNA REAKTIF Martina, Desti; Maulida, Nafisa Rizki; Mulyani, Rr. Wiwiek Eka
Texere Vol 23, No 2 (2025): Texere Volume 23 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v23i2.04

Abstract

Kain berbahan dasar serat kapas banyak dimanfaatkan dalam industri tekstil karena memiliki sifat nyaman dipakai, higroskopis, sirkulasi udara yang baik, serta bersifat biodegradable dan ramah lingkungan. Serat kapas tersusun terutama oleh selulosa yang memiliki gugus hidroksil (–OH) sehingga memungkinkan terjadinya interaksi kimia dengan berbagai jenis zat pewarna, khususnya zat warna reaktif. Zat warna reaktif mampu membentuk ikatan kovalen dengan gugus hidroksil pada serat kapas, yang menghasilkan warna cerah serta ketahanan luntur yang baik. Namun, efektivitas proses fiksasi zat warna sangat dipengaruhi oleh kondisi pencelupan, terutama pH larutan dan interaksi antara zat warna dan serat. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan afinitas zat warna terhadap serat adalah melalui penambahan zat aktif permukaan kationik berbasis polyquaternary ammonium, yang bekerja melalui interaksi elektrostatik antara serat dan zat warna. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan zat aktif permukaan kationik terhadap ketuaan warna serta ketahanan luntur warna terhadap pencucian dangosokan.