Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

AUTOMATIC WATERING SYSTEM FOR ANTHURIUM PLANTS POWERED BY A 10 WP SOLAR PANEL Silvia Maharani; Erma Triawati Christina; Ganjar Febriyani Pratiwi
TESLA: Jurnal Teknik Elektro Vol 27 No 2 (2025): TESLA : Jurnal Teknik Elektro
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tesla.v27i2.35739

Abstract

Anthurium plants are sensitive to soil moisture levels, so a decrease in humidity can disrupt their health and cause the leaves to wilt quickly and die. Manual watering is considered ineffective, especially when the owner is not at home or there is a power outage. Therefore, an independent automatic watering system is needed that utilizes renewable energy using a 10 Wp solar panel. This system consists of a V2.0 soil moisture sensor to detect soil moisture, a DHT22 sensor to detect the temperature around the anthurium plant environment, a relay module as an automatic switch, a DC pump for the plant watering actuator, a buzzer as an audible indicator when the plant is dry, a DFPlayer Mini as a sound module that plays “Anthurium Needs Watering,” and an OLED display that shows soil moisture and temperature information around the anthurium plant, and uses a 12 V 8 Ah battery controlled by SCC. Test results show that the panel is capable of producing a maximum power of 10.21W with an output voltage of 17.9 V and a current of 0.57 A. The charging process for a 12 V 8 Ah battery for 4 hours shows a gradual increase in voltage from 12.73 V to 13.85 V. The automatic watering system activates when soil moisture is < 47%, indicating that the soil is dry. The automatic watering system activates the DC pump to water the plants, accompanied by audio information from the buzzer and mini DFPlayer. When soil moisture is ≥ 47%, indicating that the soil is wet, the water pump, buzzer, and mini DFPlayer automatically stop when the soil moisture is sufficient Abstrak Tanaman anthurium tergolong sensitif terhadap kadar air tanah, sehingga penurunan kelembapan dapat mengganggu kesehatannya dan menyebabkan daun cepat layu hingga mati. Penyiraman secara manual dinilai kurang efektif, terutama saat pemilik tidak berada di tempat atau terjadi pemadaman listrik. Oleh karena itu, diperlukan sistem penyiraman otomatis yang mandiri dengan memanfaatkan energi baru terbarukan dengan menggunakan panel surya 10 Wp. Sistem ini terdiri dari sensor kelembapan tanah V2.0 untuk mendeteksi kelembapan tanah, sensor DHT22 untuk mendeteksi suhu di sekitar lingkungan tanaman anthurium, modul relay sebagai sakelar otomatis, pompa DC untuk aktuator penyiram tanaman, buzzer sebagai indikator bunyi ketika tanaman dalam keadaan kering, DFPlayer Mini sebagai modul pemutar suara berupa “Anthurium Butuh Disiram”, dan OLED display menampilkan informasi kelembapan tanah dan suhu sekitar tanaman anthurium, serta menggunakan baterai 12 V 8 Ah yang dikontrol oleh SCC. Hasil pengujian menunjukkan panel mampu menghasilkan daya maksimum sebesar 10,21W dengan tegangan output mencapai 17,9 V dan arus 0,57 A. Proses pengisian daya pada aki 12 V 8 Ah selama 4 jam menunjukkan peningkatan tegangan secara bertahap dari 12,73 V hingga mencapai 13,85 V. Sistem penyiram otomatis aktif ketika kelembapan tanah < 47% yang menunjukkan kondisi tanah dalam keadaan kering, sistem penyiraman otomatis mengaktifkan pompa DC untuk menyiram tanaman, disertai informasi suara dari buzzer dan Dfplayer mini. Ketika kelembapan tanah ≥ 47% yang mendeteksi tanah dalam kondisi basah, maka pompa air, buzzer, DFPlayer mini berhenti secara otomatis saat kelembapan tanah tercukupi
Peningkatan Pengetahuan dan Kesiapan Kader Melalui Sosialisasi Digitalisasi Bank Sampah di Desa Rawapanjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor Lestari Octavia; Sri Hayuningsih; Sri Hermawati; Erma Triawati Christina; Dody Pernadi; Hernama; Arimbi Kurniasari; Tissa Maharani; Fitrianingsih
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Darma Saskara Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/abdimasug.2026.v6i1.295

Abstract

Pengelolaan bank sampah di tingkat desa masih menghadapi kendala berupa pencatatan manual, keterbatasan literasi digital, serta rendahnya efisiensi dalam pelaporan kegiatan. Kondisi tersebut juga ditemukan pada unit-unit bank sampah di Desa Rawapanjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, yang telah menjalankan kegiatan pemilahan dan penimbangan sampah secara rutin tetapi belum didukung sistem administrasi digital yang memadai. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berfokus pada sosialisasi digitalisasi bank sampah sebagai tahap awal penguatan kapasitas mitra sebelum implementasi teknologi dilakukan secara penuh. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan kader mengenai pemilahan sampah, dampak pengelolaan sampah terhadap kesehatan dan lingkungan, serta memperkenalkan rancangan aplikasi bank sampah digital sebagai solusi atas permasalahan pencatatan dan pelaporan. Metode kegiatan dilakukan melalui survei awal, penyusunan materi edukasi, pelaksanaan sosialisasi, diskusi interaktif, serta evaluasi pemahaman peserta. Sosialisasi dilaksanakan pada 4 Juli 2025 di Balai Desa Rawapanjang dan diikuti oleh 32 kader dari setiap unit bank sampah. Hasil kegiatan menunjukkan partisipasi peserta yang tinggi, peningkatan pengetahuan kader berdasarkan hasil tes setelah pemaparan materi, serta munculnya antusiasme kader terhadap penggunaan aplikasi untuk mendukung pengelolaan bank sampah yang lebih tertib dan transparan. Kegiatan ini menegaskan bahwa sosialisasi digitalisasi bank sampah memiliki peran penting dalam membangun kesiapan sosial, teknis, dan kelembagaan masyarakat menuju pengelolaan sampah berbasis teknologi di tingkat desa.   Waste Bank, Digitalization, Cadres, Environmental Literacy, Socialization.  Waste bank management at the community level still faces obstacles such as manual recording, limited digital literacy, and low efficiency reporting. This condition is also found in waste bank units in Desa Rawapanjang, Bojonggede District, Bogor Regency, which routinely carry out waste sorting and weighing activities but lack an adequate digital administration system. This community service activity focuses on the socialization of waste bank digitalization as an initial stage of strengthening partner capacity before full technology implementation. The objective of the activity is to increase cadres' knowledge about waste sorting, the impact of waste management on health and the environment, and introduce a digital waste bank application design as a solution to recording and reporting problems. The activity method is carried out through an initial survey, development of educational materials, implementation of socialization, interactive discussions, and evaluation of participant understanding. The socialization was held on July 4, 2025, at the Rawapanjang Village Hall and was attended by 32 cadres from each waste bank unit. The activity results showed high participant participation, increased cadre knowledge as evidenced by post-presentation test results, and cadres' enthusiasm for using the application to support more orderly and transparent waste bank management. This activity confirms that the socialization of waste bank digitalization has a crucial role in building the social, technical, and institutional readiness of the community towards technology-based waste management at the community level.