Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analysis of the rational tafsir of Q.S. Al-Baqarah verse 164 on the signs of Allah’s power in Tafsir Al-Manar by Muhammad ‘Abduh and Rasyid Rida Siska , Vera; Aulia, Janna; Ismail, Hidayatullah
Priviet Social Sciences Journal Vol. 5 No. 12 (2025): December 2025
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v5i12.1068

Abstract

This study discusses the rational interpretation of Q.S. al-Baqarah verse 164 concerning the signs of Allah’s power in Tafsir al-Manār by Muhammad ‘Abduh and Rasyid Rida. This study is motivated by the need to understand the relationship between revelation and scientific reality within the framework of modern Qur’anic exegesis. Muhammad ‘Abduh and Rasyid Rida employed a rational (‘aqli) approach in interpreting verses related to natural phenomena, emphasizing the role of reason and scientific observation in recognizing the greatness of Allah. This study adopts a library research method, using Tafsir al-Manār as the primary source, supported by relevant books, journals, and academic articles as secondary references. The analysis is conducted descriptively and analytically to identify the interpretive principles (qawā‘id al-tafsīr) applied by the exegetes, including al-Tafsīr bi al-Qur’ān, al-Tafsīr bi al-‘Aql, al-Tafsīr bi al-Wāqi‘, and al-Tawḥīd wa al-Tajdid. The results show that Tafsir al-Manār interprets natural phenomena such as the heavens, the earth, rain, and wind not merely as physical realities but as āyāt kauniyyah (cosmic signs) that guide human beings to think and strengthen their faith. Revelation and science are viewed as complementary, not contradictory, in affirming Allah’s oneness and wisdom.
Mahar Sebagai Tanda Cinta Pespektif Hadis Dan Solusi Atas Fenomena Menunda Pernikahan Di Era Modern Aulia, Janna; Hakim, Lukmanul
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6985

Abstract

Mahar adalah sesuatu pemberian yang wajib menurut mayoritas ulama, sehingga dalam pernikahan diwajibkan seorang suami untuk memberikan mahar kepada istrinya. Fenomena menunda pernikahan pada generasi modern, khususnya Generasi Z, semakin meningkat seiring dengan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Salah satu faktor yang turut berpengaruh adalah persepsi mengenai mahar dan biaya pernikahan yang dianggap semakin tinggi dan memberatkan. Dalam tradisi Islam, mahar bukanlah simbol transaksi atau beban material, melainkan tanda cinta, penghormatan, dan ketulusan dari seorang laki-laki kepada perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep mahar sebagai bentuk cinta dalam perspektif hadis dan mengkaji relevansinya sebagai solusi terhadap kecenderungan menunda pernikahan di era modern. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research), data dikumpulkan dari hadis-hadis terkait mahar, literatur hukum perkawinan Islam, serta penelitian-penelitian kontemporer mengenai tren pernikahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis-hadis Nabi menekankan kesederhanaan mahar, kemudahan dalam akad nikah, serta pentingnya menghindari tuntutan berlebihan yang dapat menghambat pernikahan. Nilai kesederhanaan dan keikhlasan yang terkandung dalam konsep mahar menurut hadis dapat menjadi pendekatan solutif untuk mengurangi hambatan finansial dan psikologis yang dihadapi generasi modern. Dengan mengembalikan mahar kepada makna syar’inya sebagai tanda cinta dan bukan sebagai simbol kemewahan, fenomena menunda pernikahan dapat diminimalisir, sekaligus memperkuat tujuan pernikahan dalam ajaran Islam
UNSUR RIBA DALAM LAYANAN PAYLATER MODERN ANALISIS TAFSIR DENGAN PENDEKATAN DOUBLE MOVEMENT FAZLUR RAHMAN PADA EKONOMI DIGITAL Aulia, Janna; Jamal, Khairunnas; Novendri, Mochammad
As-Syifa: Journal of Islamic Studies and History Vol. 5 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/assyifa.v5i1.1752

Abstract

Perkembangan ekonomi digital telah menghadirkan beragam instrumen keuangan baru, salah satunya layanan paylater yang menawarkan kemudahan transaksi berbasis kredit jangka pendek. Meskipun inovatif, model ini menimbulkan persoalan etis terkait potensi riba akibat adanya bunga, biaya layanan, serta denda keterlambatan yang berlapis. Penelitian ini bertujuan menganalisis larangan riba pada transaksi paylater melalui perspektif Fazlur Rahman dengan menerapkan metode double movement sebagai pendekatan hermeneutika dalam memahami ayat-ayat riba secara kontekstual. Penelitian menggunakan metode studi pustaka dengan analisis deskriptif, menelusuri konsep riba dalam Al-Qur’an, pemikiran Fazlur Rahman, serta karakteristik sistem keuangan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riba, menurut Rahman, merupakan praktik ekonomi yang bersifat eksploitatif dan merugikan pihak yang lemah. Melalui gerakan pertama double movement, ayat riba dipahami dalam konteks sosial-ekonomi Arab pra-Islam yang menekankan pencegahan penindasan utang. Pada gerakan kedua, prinsip moral Qur’ani tersebut diterapkan pada sistem paylater modern yang dalam praktiknya sering memuat unsur-unsur ketidakadilan, khususnya dalam penetapan bunga tinggi, biaya tersembunyi, dan penalti berlebihan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Fazlur Rahman relevan dalam menilai transaksi paylater dan memberikan kerangka etis untuk membaca riba modern secara lebih substantif dalam ekosistem keuangan digital.