Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Understanding Destination Image of Eka Karya Botanical Garden, Bali: A Tourist Perspective: . Anak Agung Ayu Ribeka Martha Purwahita; Jesihando R. Tulung; Ni Putu Rika Sukmadewi; I Made Weda Satia Negara
TOBA: Journal of Tourism, Hospitality, and Destination Vol. 4 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/toba.v4i4.6555

Abstract

This study investigates the destination image of Eka Karya Botanical Garden Bali by analyzing tourists’ perceptions through cognitive, affective, and conative dimensions. Employing a descriptive qualitative approach, data were collected from domestic and international visitors using in-depth interviews, participant observations, and documentation of both official sources and online reviews. The findings reveal that, in the cognitive dimension, tourists highly value the uniqueness of the tropical plant collections, the cool mountain climate, and the educational facilities, although shortcomings in infrastructure and supporting facilities such as shuttle buses, signage, and toilets were noted. In the affective dimension, the majority of tourists associated the garden with positive feelings of peace, refreshment, and relaxation, while external factors such as overcrowding and unfavorable weather occasionally disrupted the experience. In the conative dimension, domestic tourists expressed a high intention to revisit, particularly for family recreation and educational purposes, whereas international tourists tended to regard one visit as sufficient. However, their strong willingness to recommend the destination through word-of-mouth and online platforms indicates significant indirect promotional value. Overall, this research highlights that the destination image of Eka Karya Botanical Garden Bali is shaped not only by its cognitive attributes but also by its emotional appeal and its ability to stimulate behavioral responses. These findings provide both theoretical contributions to destination image studies and practical insights for destination managers in enhancing the competitiveness of nature-based and educational tourism destinations in Indonesia.
Pura Lingsar sebagai Destinasi Wisata Budaya antara Sakralitas dan Komersialisasi Sumardani, Riski; Anak Agung Ayu Ribeka Martha Purwahita; I Wayan Kartimin; I Made Weda Satia Negara
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal ALTASIA (Februari)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v8i1.11313

Abstract

Pariwisata berbasis budaya terus menjadi penggerak ekonomi daerah, tetapi destinasi yang mengandung nilai kesakralan kerap berhadapan dengan dilema antara menjaga tradisi dan memenuhi tuntutan pasar wisata. Walaupun sejumlah penelitian telah menyoroti potensi gesekan antara sektor pariwisata dan ruang religius, kajian mengenai bagaimana komunitas lokal menegosiasikan batas kesakralan sembari meraih manfaat ekonomi masih relatif terbatas. Kekosongan inilah yang melatarbelakangi penelitian mengenai Pura Lingsar di Lombok, sebuah situs yang menggabungkan fungsi keagamaan dan aktivitas wisata. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana hubungan antara pariwisata dan kegiatan bisnis mempengaruhi tata kelola ruang sakral di Pura Lingsar, serta bagaimana masyarakat setempat untuk mempertahankan nilai adat dalam kondisi komersialisasi yang terus meningkat. Studi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dipilih karena pendekatan ini untuk peneliti menggali pemaknaan, persepsi, serta praktik sosial berbagai actor mulai dari wisatawan, tokoh adat, hingga pengelola pura lingsar secara lebih mendalam dan sesuai konteks lokal. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kesakralan Pura Lingsar tetap terpelihara melalui manajemen berbasis kearifan lokal yang secara jelas memisahkan ruang inti sakral, seperti Kemaliq, yang aksesnya dibatasi, dari area luar yang boleh dimanfaatkan untuk kegiatan wisata seperti Ritual Perang Topat merupakan komodifikasi yang dikendalikan dengan cermat, di mana bagian depan situs dijadikan ruang tontonan, sementara area belakang tetap difungsikan untuk praktik esoteris tanpa keterlibatan pengunjung. Pendekatan tersebut menghasilkan hubungan saling menguntungkan antara kegiatan ekonomi pariwisata dan pelestarian budaya, sekaligus menggeser posisi komunitas dari pihak yang pasif menjadi pengelola aktif. Meski demikian, penelitian ini masih terbatas pada satu lokasi dan belum menelusuri aspek ekonomi secara kuantitatif. Oleh karena itu, studi berikutnya disarankan untuk memperluas objek kajian ke destinasi sakral lain serta memadukan metode kualitatif dan kuantitatif agar pemahaman mengenai keberlanjutan pariwisata budaya dapat diperoleh secara lebih utuh.