Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Revitalisasi Pantai Cemare: Edukasi Clean Beach, Penyusunan Paket Wisata, dan Aksi Konservasi Mangrove Berbasis Partisipatif Rizki Sumardani; Bagas Anggara; Hilman Prayuda; Khalid Prawiranegara; Muhammad Taufik; Muharis Muharis
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 4 No. 4 (2025): November
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/810tpz16

Abstract

Pantai Cemare di Lombok Barat memiliki potensi wisata bahari dan ekosistem mangrove yang tinggi, namun pengelolaannya masih menghadapi tantangan berupa rendahnya kesadaran kebersihan, belum tersusunnya paket wisata berbasis potensi lokal, serta minimnya partisipasi masyarakat dalam konservasi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan melalui tiga intervensi utama, yaitu edukasi kebersihan pantai, penyusunan paket wisata berbasis budaya lokal, dan aksi konservasi mangrove partisipatif. Metode yang digunakan adalah pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) dengan melibatkan mahasiswa, pengelola pantai, masyarakat lokal, dan wisatawan melalui workshop, pelatihan, simulasi, dan monitoring. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pre-test dan post-test terhadap 50 peserta yang mencakup aspek kebersihan pantai, pengetahuan ekosistem mangrove, keterampilan konservasi, dan penyusunan paket wisata lokal. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada seluruh aspek: kesadaran kebersihan naik dari skor 60 menjadi 85, pengetahuan mangrove dari 55 menjadi 70, keterampilan penanaman dari 50 menjadi 65, dan kemampuan penyusunan paket wisata dari 55 menjadi 75. Kegiatan ini berhasil memberdayakan masyarakat lokal, meningkatkan kapasitas pengelola dan mahasiswa, serta memperkuat pengembangan ekowisata berkelanjutan di Pantai Cemare yang mengintegrasikan aspek edukasi, ekonomi, dan konservasi lingkungan.
Pura Lingsar sebagai Destinasi Wisata Budaya antara Sakralitas dan Komersialisasi Sumardani, Riski; Anak Agung Ayu Ribeka Martha Purwahita; I Wayan Kartimin; I Made Weda Satia Negara
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal ALTASIA (Februari)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v8i1.11313

Abstract

Pariwisata berbasis budaya terus menjadi penggerak ekonomi daerah, tetapi destinasi yang mengandung nilai kesakralan kerap berhadapan dengan dilema antara menjaga tradisi dan memenuhi tuntutan pasar wisata. Walaupun sejumlah penelitian telah menyoroti potensi gesekan antara sektor pariwisata dan ruang religius, kajian mengenai bagaimana komunitas lokal menegosiasikan batas kesakralan sembari meraih manfaat ekonomi masih relatif terbatas. Kekosongan inilah yang melatarbelakangi penelitian mengenai Pura Lingsar di Lombok, sebuah situs yang menggabungkan fungsi keagamaan dan aktivitas wisata. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana hubungan antara pariwisata dan kegiatan bisnis mempengaruhi tata kelola ruang sakral di Pura Lingsar, serta bagaimana masyarakat setempat untuk mempertahankan nilai adat dalam kondisi komersialisasi yang terus meningkat. Studi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dipilih karena pendekatan ini untuk peneliti menggali pemaknaan, persepsi, serta praktik sosial berbagai actor mulai dari wisatawan, tokoh adat, hingga pengelola pura lingsar secara lebih mendalam dan sesuai konteks lokal. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kesakralan Pura Lingsar tetap terpelihara melalui manajemen berbasis kearifan lokal yang secara jelas memisahkan ruang inti sakral, seperti Kemaliq, yang aksesnya dibatasi, dari area luar yang boleh dimanfaatkan untuk kegiatan wisata seperti Ritual Perang Topat merupakan komodifikasi yang dikendalikan dengan cermat, di mana bagian depan situs dijadikan ruang tontonan, sementara area belakang tetap difungsikan untuk praktik esoteris tanpa keterlibatan pengunjung. Pendekatan tersebut menghasilkan hubungan saling menguntungkan antara kegiatan ekonomi pariwisata dan pelestarian budaya, sekaligus menggeser posisi komunitas dari pihak yang pasif menjadi pengelola aktif. Meski demikian, penelitian ini masih terbatas pada satu lokasi dan belum menelusuri aspek ekonomi secara kuantitatif. Oleh karena itu, studi berikutnya disarankan untuk memperluas objek kajian ke destinasi sakral lain serta memadukan metode kualitatif dan kuantitatif agar pemahaman mengenai keberlanjutan pariwisata budaya dapat diperoleh secara lebih utuh.