Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah dengan Kejadian Malaria di Sungai Beremas Pasaman Barat Rizki Amelia Sasqia P; Jihad Waffiqa Rahmah; Linda Handayuni; Eri Barlian; Elsa Yuniarti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4668

Abstract

Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di daerah dengan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles sp. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko penularan malaria termasuk rawa, genangan air, dan kandang ternak. Tujuan: Studi ini menyelidiki bagaimana kondisi lingkungan rumah, termasuk rawa, kandang ternak, dan genangan air atau parit, berkorelasi dengan kasus malaria di Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat. Studi observasional analitik ini dirancang sebagai studi kasus-kontrol; 34 responden terdiri dari 17 responden kasus yang terinfeksi malaria dan 17 responden kontrol yang tidak terinfeksi. Data ini diperoleh dari observasi lapangan dan surveilans malaria Puskesmas Sungai Beremas tahun 2024. Untuk mengetahui seberapa besar risiko paparan, analisis dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square (α = 0,05) dan perhitungan persentase kemungkinan (OR). Keberadaan rawa menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian malaria (p = 0,041; OR = 4,36; 95% CI = 1,02–18,55). Genangan air atau parit juga berhubungan signifikan (p = 0,042; OR = 4,64; 95% CI = 1,02–21,1). Sebaliknya, keberadaan kandang ternak memiliki hubungan bermakna (p = 0,001; OR = 120; 95% CI = 12,8–1125,5) namun berperan sebagai faktor protektif melalui mekanisme zooprophylaxis, di mana nyamuk lebih tertarik pada hewan ternak daripada manusia. Faktor lingkungan rumah berpengaruh signifikan terhadap kejadian malaria. Rawa dan genangan air meningkatkan risiko penularan, sedangkan kandang ternak berpotensi menurunkan risiko infeksi. Pengendalian malaria perlu difokuskan pada pengelolaan lingkungan seperti pengeringan rawa, pembersihan parit, dan pengaturan jarak kandang ternak.
Pengelolaan Ekosistem Mangrove untuk Mendukung Keberlanjutan Pesisir: Peran Blue Carbon dalam Mitigasi Perubahan Iklim : Penelitian Dimas Andrianto; Jihad Waffiqa Rahmah; Rizki Amelia Sasqia Putri; Eni Kamal; Widya Prarikeslan; Abdul Razak; Mhd. Ridha
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3638

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan dan arah penelitian mengenai pengelolaan ekosistem mangrove dalam mendukung keberlanjutan wilayah pesisir selama periode 2019–2025. Pendekatan yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Sebanyak 15 artikel jurnal ilmiah nasional dan internasional diseleksi dari basis data Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, dan Google Scholar. Hasil analisis menunjukkan bahwa tema penelitian mengalami pergeseran signifikan dari konservasi struktural menuju integrasi antara ekologi, sosial-ekonomi, dan kebijakan. Lima tema utama yang diidentifikasi adalah: (1) ekologi dan blue carbon; (2) restorasi dan rehabilitasi; (3) sosial-ekonomi dan kelembagaan; (4) kebijakan dan tata kelola; serta (5) teknologi dan monitoring. Pengelolaan berbasis masyarakat, inovasi pemantauan digital, dan mekanisme pasar karbon biru muncul sebagai pendekatan strategis yang efektif. Namun demikian, ditemukan sejumlah kesenjangan penelitian, antara lain kurangnya studi longitudinal, minimnya data wilayah timur Indonesia, serta lemahnya integrasi kebijakan antar-lembaga. Oleh karena itu, riset ke depan disarankan untuk menggabungkan pendekatan socio-ecological systems dengan penguatan tata kelola dan teknologi partisipatif agar mangrove dapat menjadi fondasi keberlanjutan pesisir dan mitigasi perubahan iklim nasional.