Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Campur Kode Dalam Pertuturan Mahasiswa Asal Manggarai Di Universitas Muhammadiyah Mataram (kajian sosiolingusitik) Muhamad Sahril
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 7, No 1: Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v7i1.6586

Abstract

Abstrak: Bahasa Indonesia dalam perkembangannya, mendapat pengaruh dari bahasa lain misalnya bahasa daerah. Bahasa Indonesia yang mendapat pengaruh dari bahasa daerah yang memang sengaja atau tidak kadang diselipkan dalam penggunaan bahasa tersebut. Biasanya suatu masyarakat yang menguasai dan menggunakan dua bahasa atau lebih dikenal dengan istilah masyarakat kedwibahasaan atau bilingual. Dalam bilingualisme tak pernah lepas dari campur kode dan alih kode. Campur kode merupakan percampuran dua bahasa atau lebih yang didalamnya terdapat kode dasar yang digunakan memiliki keotonomiannya, sedangkan kode-kode lain yang terlihat  dalam peristiwa tutur itu hanyalah serupa serpihan-serpihan (Chaer,2010:114). Perbedaan yang mendasar seseorang menggunakan satu kata atau frasa dari satu bahasa   karena telah melakukan campur kode. Penggunaan campur kode ini juga terjadi pada mahasiswa Manggarai yang berkuliah di Universitas Muhammadiyah Mataram yang sering menggunakan dua bahasa dalam berkomunikasi yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah Manggarai dalam hal ini bahasa manggarai bagian barat. Hal ini disebabkan kebergantungan penutur dalam menggunakan bahasa  seperti  tidak  mampu  meninggalkan bahasa pertama  namun  tetap  menggunakan bahasa kedua sebagai alat komunikasi. Dilihat dari keberadaan bahasa Manggarai merupakan salah satu bahasa yang terus berkembang dan tumbuh di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) karena meski adanya perubahan zaman, bahasa daerah Manggarai masih dianggap sebagai bahasa pemersatu masyarakat disekitarnya. Pemilihan terhadap subjek juga telah dipertimbangkan sebelumnya karena beberapa hal yang masuk dalam kriteria penelitian ini. Abstract: In its development, Indonesian language gets influence from other languages such as regional languages. Indonesian language that gets the influence of the local language that was intentionally or not inserted in the use of the language. Usually a society that controls and uses two languages or better known as the term or bilingual society. In bilingualism never get out of mixed code and code transfer. Mixed code is a mixture of two or more languages in which there is a basic code used to have its economy, while the other codes seen in the speech event are just similar pieces (Chaer, 2010: 114). The Sbasic difference of a person using a single word or phrase from one language because it has to mix code. The use of this code mix also occurs in Manggarai students who study at Muhammadiyyah Mataram University who often use two languages in communicating that is Indonesian and Manggarai regional languages. This is due to the dependence of speakers in using language such as not being able to leave the first language but still using the second language as a means of communication. Judging from the existence of Manggarai language is one of the languages that continue to  grow and  grow in the area of  Nusa Tenggara Timur (NTT)  because despite the  changing times, Manggarai regional language is still considered a unifying language of society. Selection of subjects has also been considered in advance because of some of the things included in the criteria of this study.
ASOSIALISASI PENCEGAHAN BAHAYA NARKOBA PADA GENERASI MUDA DI MTs DAN MA AL-MUJAHIDIN DESA REMPEK Muhamad Sahril; M. Anugrah Arifin; Bahri Yamin; Sahman Z
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 9, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v9i2.39323

Abstract

Abstrak: Penyalahgunaan narkoba dikalangan remaja menjadi salah satu permasalahan serius yang mengancam masa depan generasi muda, khususnya pada tingkat pendidikan menengah. Siswa MTs dan MA sebagai kelompok usia rentan memerlukan edukasi preventif yang sistematis dan berkelanjutan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai bahaya narkoba serta membentuk sikap preventif terhadap penyalahgunaannya. Kegiatan dilaksanakan di MTs dan MA Al- Mujahidin Desa Rempek, Kabupaten Lombok Utara, dengan melibatkan 50 peserta didik. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui tiga tahapan, yaitu penyampaian materi (sosialisasi), diskusi interaktif, dan refleksi bersama. Materi yang disampaikan mencakup jenis-jenis narkoba, dampak kesehatan, dampak sosial, serta strategi pencegahan di lingkungan sekolah dan keluarga. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa tentang bahaya narkoba serta tumbuhnya kesadaran untuk menjauhi dan mencegah penyalahgunaan zat terlarang. Selain itu, peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung dan aktif dalam sesi diskusi. Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan bebas narkoba, serta mendorong peran aktif siswa sebagai agen perubahan di masyarakat.Abstract: Drug abuse among adolescents has become a serious issue that threatens the future of the younger generation, particularly at the secondary education level. Students of MTs and MA, as a vulnerable age group, require systematic and sustainable preventive education. This community service activity aims to enhance students’ understanding and awareness of the dangers of drugs and to foster preventive attitudes toward drug abuse. The activity was conducted at MTs and MA Al-Mujahidin in Rempek Village, North Lombok Regency, involving 50 students. The implementation method employed a participatory approach through three main stages: material presentation (socialization), interactive discussion, and collective reflection. The materials covered types of drugs, health and social impacts, as well as prevention strategies within school and family environments. The results indicate an improvement in students’ understanding of drug-related dangers and the development of awareness to avoid and prevent substance abuse. In addition, participants showed high enthusiasm and active engagement during the discussions. This program is expected to serve as an initial step in creating a healthy, safe, and drug-free school environment, as well as encouraging students to take active roles as agents of change in their communities.
Variations In Expressive Speech Acts By Age In Buying And Selling Transactions At The Labuapi Traditional Market In West Lombok Muhamad Sahril; Rudi Arrahman; Supratman Supratman; Habiburrahman Habiburrahman
Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) Vol 12 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Mandala Education (April)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jime.v12i2.10611

Abstract

This study aims to describe variations in expressive speech acts based on age in buying and selling transactions at Labuapi Market, West Lombok. The approach used is qualitative descriptive, with a focus on pragmatic analysis. The research data consists of utterances between sellers and buyers containing expressive speech acts, collected through observation, recording, transcription, and interviews. The research subjects were grouped into three age categories: youth, adults, and the elderly. The results indicate that various forms of expressive speech acts-such as praise, complaints, expressions of gratitude, apologies, and criticism-are used in buying and selling interactions. The variation in the use of expressive speech acts is influenced by age, as the youth group tends to use language that is more spontaneous, informal, and expressive. The adult age group demonstrated a more balanced use of language between expression and politeness, while the elderly age group placed greater emphasis on politeness and formality in speech. However, age is not the sole determinant, as situational context, communication goals, and social roles also influence the use of expressive speech acts. This study contributes to the field of pragmatics, particularly in understanding language variation within the context of social interaction in traditional markets.