Karina Juniarti Utami
Program Studi Akuntansi Universitas Islam Al-Azhar, Mataram, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Transformasi Agribisnis: Paradoks Peningkatan Produksi Padi di Tengah Penurunan Luas Panen Antarwilayah NTB 2018-2023 Dina Apriliani; Siti Ernawati; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 1 No 2 (2024)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.1.2024.61-70

Abstract

Ketahanan pangan menjadi isu strategis dalam pembangunan ekonomi nasional dan regional, terutama di wilayah berbasis pertanian seperti Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Permasalahan utama yang dihadapi adalah terjadinya fenomena paradoksal berupa peningkatan produksi padi di tengah penurunan luas panen. Celah penelitian yang diidentifikasi adalah belum adanya analisis komprehensif mengenai variasi antarwilayah dalam produksi padi di NTB dan kaitannya dengan transformasi agribisnis dalam kurun waktu 2018-2023. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika produktivitas padi antarwilayah di Provinsi NTB dan merumuskan strategi pengembangan agribisnis padi berkelanjutan berbasis karakteristik wilayah. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analitik deskriptif, studi ini menganalisis data sekunder dari Badan Pusat Statistik NTB dengan teknik Compound Annual Growth Rate (CAGR) dan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan penurunan marginal luas panen sebesar -0,120% secara agregat, namun terjadi peningkatan produksi sebesar 1,049%. Variasi regional signifikan terlihat dengan Kabupaten Sumbawa Barat mencatat pertumbuhan produksi tertinggi (4,674%) dan Kabupaten Lombok Barat menunjukkan pertumbuhan luas panen tertinggi (3,404%). Peningkatan produktivitas dikaitkan dengan adopsi teknologi pertanian yang lebih efisien, intensifikasi pertanian, dan penguatan kapasitas kelembagaan petani. Studi ini merekomendasikan pengembangan peta jalan produktivitas berbasis karakteristik wilayah, penguatan keterkaitan rantai nilai, akselerasi adopsi teknologi tepat guna, dan pengembangan model bisnis pertanian terintegrasi yang mempertimbangkan aspek produktivitas, profitabilitas, dan keberlanjutan lingkungan.
Transformasi Agribisnis Tembakau NTB: Analisis CAGR dan Strategi Daya Saing di Pasar Domestik (2011–2023) Asmiati; Roza Febriana Puspita Rinjani; Jeni Widya Ardani; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 1 No 2 (2024)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.1.2024.71-80

Abstract

Penelitian ini mengkaji perkembangan agribisnis tembakau di Nusa Tenggara Barat periode 2011-2023, memfokuskan pada kesenjangan produktivitas tembakau lokal dibanding tingkat nasional. Permasalahan utama adalah dinamika produktivitas tembakau lokal di NTB serta strategi peningkatan daya saing. Melalui pendekatan kuantitatif-deskriptif, data sekunder dari BPS NTB dan Direktorat Jenderal Perkebunan dianalisis menggunakan Compound Annual Growth Rate (CAGR). Hasil menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam produksi tembakau NTB (CAGR 4,106%), dengan perbedaan mencolok antara tembakau rajang/rakyat (13,300%) dan Virginia (1,994%). Produktivitas meningkat dari 1.443 kg/ha (2011) menjadi 1.700 kg/ha (2023), dengan CAGR 1,375%. Analisis komparatif mengungkapkan tembakau Virginia memerlukan investasi awal lebih besar dengan margin keuntungan lebih tinggi, sementara tembakau rajangan memiliki barrier to entry lebih rendah. Kebaruan penelitian terletak pada penggunaan CAGR untuk menganalisis tren pertumbuhan komprehensif dan pentingnya kerja sama petani-industri dalam mengidentifikasi kebutuhan pasar. Strategi peningkatan daya saing meliputi inovasi produk, pengembangan kemitraan, diversifikasi, implementasi teknologi, dan standardisasi produksi berkelanjutan. Penelitian merekomendasikan penguatan riset varietas unggul, pengembangan sistem kemitraan bernilai tambah tinggi, dan penguatan kelembagaan petani dalam rantai nilai komoditas tembakau.
Transformasi Bisnis Komoditas Cabai di NTB: Analisis Disparitas Pertumbuhan Cabai Merah dan Cabai Rawit 2013–2022 Leni Yupita Rizki; Nabila Silvana; Tiara Nabila Huda; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 1 No 2 (2024)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.1.2024.105-116

Abstract

Chili is a strategic horticultural commodity with high economic value in the Indonesian economy. This longitudinal study analyzes the dynamics of chili business growth in West Nusa Tenggara Province during the 2013-2022 period, focusing on growth disparities between red chili and cayenne pepper. Although many studies have examined chili farming from various aspects, there is a literature gap in analyzing comparative long-term growth performance between the two chili varieties, particularly in NTB. The main problem is the unclear growth patterns differentiating the two commodities, which hinders the development of appropriate business strategies. This research aims to analyze the growth dynamics of both commodities and formulate strategic implications for sustainable chili agribusiness development. Using a quantitative approach with a longitudinal design based on time series data from "One Data NTB," the analysis was conducted using Compound Annual Growth Rate (CAGR) to measure growth rates over a decade. The results show significant growth disparities, where red chili demonstrates comprehensive expansion (CAGR of harvested area 9.979% and production 14.771%), while cayenne pepper experiences contraction in harvested area (-1.513%) but records higher productivity growth (5.731%). These different patterns reflect a strategic reorientation in the chili business in NTB, with a transformation of cultivation preferences from cayenne pepper to red chili driven by economic factors and market integration. The proposed recommendations include developing differentiated incentive systems, strengthening supply chain institutions, investing in research and innovation, implementing diversification and risk mitigation strategies, and developing capacity and knowledge management that will support the sustainability of chili agribusiness in NTB.
Bandara dan Dinamika Penerbangan untuk Pengembangan Bisnis Kepariwisataan di Kepulauan Lombok–Sumbawa Nazhifa Husnina; Maulida Afni; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 1 No 2 (2024)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.1.2024.117-128

Abstract

Transportasi udara memiliki peran strategis dalam pengembangan ekonomi di wilayah kepulauan, namun masih terbatasnya kajian komprehensif mengenai hubungan antara dinamika arus penerbangan dan penumpang dengan bisnis kepariwisataan menciptakan kesenjangan pengetahuan yang perlu dijawab. Studi ini bertujuan menganalisis pola dinamika arus penerbangan dan penumpang di tiga bandara NTB selama periode 2014-2023 serta implikasinya terhadap pengembangan bisnis kepariwisataan. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif analitis, studi ini menganalisis data sekunder dari BPS Provinsi NTB menggunakan formula Compound Annual Growth Rate (CAGR) untuk mengidentifikasi tren pertumbuhan jangka panjang. Hasil analisis menunjukkan adanya kesenjangan konektivitas signifikan antarbandara di NTB, dengan Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) menunjukkan transformasi menjadi hub penerbangan regional yang ditandai peningkatan penumpang transit (CAGR 15,326%), sementara mengalami penurunan penerbangan dan penumpang internasional. Kontras terjadi di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III yang mengalami pertumbuhan signifikan arus penumpang domestik (CAGR 7,073%) meski terjadi penurunan arus penerbangan. Selain itu, delapan implikasi strategis teridentifikasi meliputi konsentrasi bisnis pariwisata di Lombok, potensi pengembangan bisnis di Sumbawa, tantangan konektivitas internasional, peluang pengembangan BIZAM sebagai hub logistik, perlunya optimalisasi infrastruktur, pentingnya integrasi transportasi multimodal, adaptasi terhadap perubahan pola perjalanan pasca-pandemi, dan pemanfaatan teknologi digital untuk pariwisata berkelanjutan. Studi ini menyimpulkan perlunya pendekatan terpadu dalam pengembangan konektivitas udara yang merata dan berkualitas sebagai faktor kunci dalam meningkatkan aksesibilitas destinasi, menarik investasi, dan menciptakan peluang bisnis dalam ekosistem pariwisata kepulauan NTB.
Transformasi Bisnis Agraris Melalui Analisis Nilai Tukar Petani: Studi Kasus Subsektor Pertanian di Nusa Tenggara Barat 2019–2024 Eka Juliansyah; Riandi; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 1 No 2 (2024)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.1.2024.93-104

Abstract

Penelitian ini menganalisis dinamika Nilai Tukar Petani (NTP) antarsubsektor pertanian di Nusa Tenggara Barat periode 2019-2024 dan implikasinya terhadap strategi pengembangan bisnis agraris. Kesenjangan penelitian menunjukkan terbatasnya studi yang mengintegrasikan analisis NTP dengan strategi bisnis pertanian di tingkat provinsi dan subsektor. Permasalahan utama adalah kurangnya pemahaman tentang bagaimana dinamika NTP antarsubsektor dapat menjadi landasan pengembangan bisnis agraris yang kontekstual. Penelitian bertujuan menganalisis pola dinamika NTP antarsubsektor, mengidentifikasi faktor pendorong variasi pertumbuhan, dan merumuskan strategi bisnis agraris berbasis nilai tukar komoditas. Pendekatan kuantitatif deskriptif digunakan dengan data sekunder dari BPS NTB periode 2019-2024, mencakup indeks harga yang diterima dan dibayar petani. Teknik analisis meliputi Compound Annual Growth Rate (CAGR). Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan NTP moderat (2,449%) dengan variasi signifikan antarsubsektor; hortikultura mencapai pertumbuhan tertinggi (14,339%), sementara peternakan mengalami kontraksi signifikan (-3,604%). Peningkatan NTP didorong oleh penurunan indeks harga yang dibayar petani (-2,525%) yang lebih besar dibandingkan penurunan indeks harga yang diterima (-0,138%). Temuan mengungkapkan empat strategi pengembangan bisnis: (1) pengembangan klaster hortikultura terintegrasi, (2) revitalisasi bisnis peternakan melalui integrasi tanaman-ternak, (3) implementasi bisnis jasa pendukung pertanian berfokus efisiensi produksi, dan (4) adopsi model bisnis sirkular antarsubsektor. Penelitian menyimpulkan bahwa strategi bisnis agraris perlu adaptif terhadap karakteristik subsektor untuk mengoptimalkan kesejahteraan petani dan daya saing sektor pertanian NTB.