Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat etika berbahasa remaja Desa Toribulu dalam komunikasi tatap muka dan komunikasi digital. Persoalan utama yang melatarbelakangi kegiatan ini ialah masih terbatasnya kemampuan sebagian remaja dalam menyesuaikan tuturan dengan lawan bicara, situasi sosial, tujuan komunikasi, serta konsekuensi pesan di media sosial. Pelatihan dirancang dengan pendekatan sosiopragmatik karena kesantunan tidak hanya ditentukan oleh pilihan kata, tetapi juga oleh kepekaan terhadap relasi sosial, norma lokal, medium komunikasi, dan dampak ujaran. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi kebutuhan, penyampaian materi, diskusi kasus, simulasi percakapan, praktik merevisi tuturan, refleksi, serta evaluasi pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata pemahaman peserta dari 43,8% pada pre-test menjadi 85,6% pada post-test, atau meningkat 41,8%. Peningkatan tertinggi terjadi pada aspek kesadaran etika komunikasi digital sebesar 46%. Peserta mulai mampu membedakan gaya bahasa akrab dan formal, menyampaikan kritik secara lebih santun, mempertimbangkan dampak komentar digital, serta merefleksikan kebiasaan bertutur sehari-hari. Temuan ini menegaskan bahwa pelatihan berbasis sosiopragmatik efektif sebagai strategi pembinaan karakter komunikatif remaja desa karena menghubungkan pengetahuan bahasa, latihan praktis, empati, dan tanggung jawab sosial.