Petra Harys Alfredo Tampilang
Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Mamasa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rekonsiliasi Allah Dengan Umat Isrel (Pulihnya Hubungan Suami - Istri): Studi Eksegesis Yesaya 54:1-10 Rudi Siburian; Petra Harys Alfredo Tampilang; Andreas Kongres Pardingotan Simbolon
Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika Vol. 24 No. 2 (2024): Vol. 24 No. 2 (2024): Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/pst.v24i2.157

Abstract

Seperti pasangan suami istri yang bercerai dan kemudian berbaikan, begitulah relasi antara Allah dan umat Israel digambarkan menurut Yesaya 54:1-10. Allah adalah suami yang setia dan Israel sebagai istri yang tidak setia yang sering mengecewakan Allah dengan berzinah rohani kepada dewa dewi kafir. Allah pun menghukum mereka dan membiarkan umat Israel menjadi tawanan bangsa-bangsa lain sebagai akibat dari dosa mereka. Bahkan Allah menyamakan Israel dengan aib kemandulan. Kata mandul menunjuk kepada bangsa Israel yang mendapatkan peghinaan dan harus menanggung malu karena tidak memiliki keturunan. Kotanya menjadi sepi karena mereka dibuang ke Babilonia. Tetapi semua rasa malu itu akan berakhir. Negeri yang tadinya sepi akan bersorak-sorai kembali, karena Allah tidak selamanya murka kepada mereka. Sebaliknya, melalui nabi Yesaya Allah menubuatkan dan menjanjikan kelepasan serta akan membawa mereka kembali ke negerinya. Bahkan bukan hanya lepas dari pembuangan, tetapi juga memulihkan keadaan mereka. Mereka menerima anugerah itu, bukan karena Allah menyesal dengan hukuman yang ditimpakan kepada bangsa itu. Tetapi karena Allah masih mencintai umat Israel. Ini adalah janji Allah kepada umat-Nya Israel seperti suami yang penuh pengampunan dan kasih sayang terhadap istrinya. Melalui penelitian ini, penulis melihat secara studi eksegesis bagaimana proses janji pemulihan/rekonsiliasi antara Allah umat Israel akan dilaksanakan.
Penguatan Pemahaman Tentang Harga Mengikut Yesus Kristus Berdasarkan Lukas 9:57–62 Melalui Kegiatan Pengabdian Masyarakat Di Gereja Oikumene “Jemaat Imanuel” Haul Sagu jenet selfiani sakey; Jonidius Illu; Petra Harys Alfredo Tampilang
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Mangentang Vol. 2 No. 2 (2025): MANGENTANG: November 2025
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/mangentang.v2i2.153

Abstract

Abstract This article aims to strengthen the understanding of the Oikumene Church "Jemaat Imanuel" Haul Sagu regarding the meaning and cost of following Jesus Christ as explained in Luke 9:57–62. The background of this activity stems from two years of observation, which revealed that most congregation members still perceive the Christian calling merely as formal attendance at worship services, without emphasizing the aspects of commitment, sacrifice, and faithfulness. This is evidenced by the low level of participation in spiritual activities, with members attending only Sunday services and major church holidays. Therefore, this Community Service (PkM) activity was designed to provide faith strengthening based on the Bible, emphasizing three important dimensions: the right motivation, obedience in participating in spiritual activities, and wholeheartedness in following Jesus Christ. The method used was a qualitative approach with observation techniques to gain a contextual understanding of the congregation, as well as lectures during the implementation of the faith-strengthening program. Meanwhile, a descriptive method was used in the writing of this article to systematically explain key biblical teachings on following Jesus. The activity was conducted at the Oikumene Church "Jemaat Imanuel" Haul Sagu building on August 7, 2025, with approximately 30 congregation members participating. The results showed an increased awareness among the congregation regarding the consequences of faith. The members understood that following Jesus Christ is not merely a formal status as Christians, but a life decision that demands faithfulness, obedience, and willingness to sacrifice. Through this activity, the congregation was encouraged to renew their faith commitment, reject false motivations, and place the calling of Jesus Christ as the top priority in their daily lives. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman Gereja Oikumene ”Jemaat Imanuel” Haul Sagu mengenai makna dan harga mengikut Yesus Kristus sebagaimana dijelaskan dalam Lukas 9:57–62. Latar belakang kegiatan ini berangkat dari hasil observasi selama dua tahun yang menunjukkan bahwa sebagian besar jemaat masih memahami panggilan Kristiani sebatas kehadiran formal dalam ibadah, tanpa menekankan aspek komitmen, pengorbanan, dan kesetiaan iman. Hal ini ditandai dengan minimnya keaktifan jemaat dalam mengikuti kegiatan rohani, jemaat hanya hadir dalam kebaktian minggu dan hari besar gerejawi lainnya. Oleh karena itu, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dirancang untuk memberikan penguatan iman yang didasarkan pada Alkitab, dengan menekankan tiga dimensi penting yaitu motivasi yang benar, ketaatan dalam mengikuti kegiatan rohani, dan sepenuh hati dalam mengikuti Yesus Kristus. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi untuk memperoleh gambaran kontekstual jemaat, serta metode ceramah dalam pelaksanaan kegiatan penguatan iman. Sementara itu, metode deskriptif dipakai dalam penyusunan artikel guna menjelaskan secara sistematis pokok-pokok pengajaran Alkitab tentang mengikut Yesus. Kegiatan dilaksanakan di Gedung Gereja Oikumene ”Jemaat Imanuel” Haul Sagu pada 7 Agustus 2025, dengan jumlah peserta sekitar 30 orang jemaat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran jemaat mengenai konsekuensi iman. Jemaat memahami bahwa mengikut Yesus Kristus bukan sekadar status formal sebagai orang Kristen, melainkan keputusan hidup yang menuntut kesetiaan, ketaatan, dan kesediaan untuk berkorban. Melalui kegiatan ini, jemaat didorong untuk memperbarui komitmen iman, menolak motivasi yang salah, serta menempatkan panggilan Yesus Kristus sebagai prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari.