Andreas Kongres Pardingotan Simbolon
Universitas Kristen Immanuel

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rekonsiliasi Allah Dengan Umat Isrel (Pulihnya Hubungan Suami - Istri): Studi Eksegesis Yesaya 54:1-10 Rudi Siburian; Petra Harys Alfredo Tampilang; Andreas Kongres Pardingotan Simbolon
Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika Vol. 24 No. 2 (2024): Vol. 24 No. 2 (2024): Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/pst.v24i2.157

Abstract

Seperti pasangan suami istri yang bercerai dan kemudian berbaikan, begitulah relasi antara Allah dan umat Israel digambarkan menurut Yesaya 54:1-10. Allah adalah suami yang setia dan Israel sebagai istri yang tidak setia yang sering mengecewakan Allah dengan berzinah rohani kepada dewa dewi kafir. Allah pun menghukum mereka dan membiarkan umat Israel menjadi tawanan bangsa-bangsa lain sebagai akibat dari dosa mereka. Bahkan Allah menyamakan Israel dengan aib kemandulan. Kata mandul menunjuk kepada bangsa Israel yang mendapatkan peghinaan dan harus menanggung malu karena tidak memiliki keturunan. Kotanya menjadi sepi karena mereka dibuang ke Babilonia. Tetapi semua rasa malu itu akan berakhir. Negeri yang tadinya sepi akan bersorak-sorai kembali, karena Allah tidak selamanya murka kepada mereka. Sebaliknya, melalui nabi Yesaya Allah menubuatkan dan menjanjikan kelepasan serta akan membawa mereka kembali ke negerinya. Bahkan bukan hanya lepas dari pembuangan, tetapi juga memulihkan keadaan mereka. Mereka menerima anugerah itu, bukan karena Allah menyesal dengan hukuman yang ditimpakan kepada bangsa itu. Tetapi karena Allah masih mencintai umat Israel. Ini adalah janji Allah kepada umat-Nya Israel seperti suami yang penuh pengampunan dan kasih sayang terhadap istrinya. Melalui penelitian ini, penulis melihat secara studi eksegesis bagaimana proses janji pemulihan/rekonsiliasi antara Allah umat Israel akan dilaksanakan.
Ketaatan sebagai Fondasi Kekudusan: Analisis Eksegetis Imamat 18:1-5 dalam Merespons Krisis Etika Kontemporer Andreas Kongres Pardingotan Simbolon; Alnodus Jamsenjos Indirwan Ziliwu; Josephine Christella Nathalia; Stefani Sa'bu; Salma Sudi
Angelion Vol 7 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v7i1.1125

Abstract

Contemporary ethical crises, characterized by value relativism, moral degradation, and an increasingly permissive culture, have challenged the church to maintain the standards of holy living. This study aims to exegetically analyze the text of Leviticus 18:1-5 to uncover the theological foundation of obedience as a response to these moral crises. The method employed is qualitative with an interpretative design, specifically through a legal genre hermeneutical approach. Research findings indicate that the statement “I am the LORD your God” in this text establishes divine authority as an absolute moral foundation, distinguishing the identity of God's people from worldly patterns of life (Egypt and Canaan). Obedience in this context is not a legalistic burden but a tangible expression of holiness arising from a living covenant relationship. The study concludes that amidst the current loss of moral direction, obedience to God's Word is a crucial foundation for the formation of Christian ethics centered on the character of God.   Krisis etika kontemporer yang ditandai oleh relativisme nilai, degradasi moral, dan budaya yang semakin permisif telah menantang gereja untuk mempertahankan standar kekudusan hidup,. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara eksegetis teks Imamat 18:1-5 guna menggali dasar teologis ketaatan sebagai respons terhadap krisis moral tersebut,. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan desain interpretatif, khususnya melalui pendekatan hermeneutik genre hukum,. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pernyataan “Akulah TUHAN, Allahmu” dalam teks ini menetapkan otoritas ilahi sebagai fondasi moral yang absolut, yang membedakan identitas umat Tuhan dari pola hidup duniawi (Mesir dan Kanaan). Ketaatan dalam konteks ini bukan merupakan beban legalistik, melainkan wujud nyata dari kekudusan yang lahir dari relasi perjanjian yang hidup,. Hasil kajian menyimpulkan bahwa di tengah hilangnya arah moral masa kini, ketaatan terhadap firman Allah merupakan fondasi krusial bagi pembentukan etika Kristen yang berpusat pada karakter Allah.