Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

IMPLEMENTASI HUKUM KELUARGA SEBAGAI REKAYASA SOSIAL MASYARAKAT DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESADARAN HUKUM DAN KEPATUHAN HUKUM Ansari Ansari; Abdul Aziz
AL-ASHLAH : Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol. 4 No. 1 (2025): (January 2025)
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/alashlah.v4i1.2925

Abstract

Family law is in an important position in the life of the community, contributing to creating and realizing an orderly and harmonious community environment. This research is based on the high rate of law violations in the family realm, such as divorce and domestic violence, which shows low awareness and compliance with family law. The method used in this study is libray research and the research approach uses a naturalistic method that is carried out at the time of natural setting, while the abjek that is studied is in accordance with the most appropriate conditions, then data collection techniques through participatory observation, and analysis of relevant legal and policy documents. The results of the study show that the implementation of family law supported by legal education, mediation, and community-based approaches can increase public understanding of the importance of family law, thereby encouraging law-abiding behavior. In addition, the results of the study also indicate that family law plays an important role as an effective social engineering tool in shaping legal norms and values that can increase legal awareness among the community.
Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pengasuhan Orang Tua Pada Anak Moh. Hadad Al Madani; Lukman Hakim; Abdul Aziz
AL-ASHLAH : Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol. 5 No. 01 (2026): January 2026
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/1s1t3834

Abstract

Pengasuhan anak merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak seperti merawat, mengasuh, memberi nafkah, memberi Pendidikan yang meliputi Pendidikan agama, ibadah, serta pembentukan akhlak yang baik. Karena hal tersebut merupakan sebuah kewajiban bagi orang tua dalam pengasuhan dan akan menimbulkan hak yang harus dipenuhi dari kewajiban tersebut. Di Desa Kedaleman ada orang tua yang belum memenuhi kewajiban dalam pengasuhan anak. Keluarga bapak T dan ibu P kurang memberikan pengawasan serta pengajaran kepada anak, yang menyebabkan anak tidak melanjutkan Pendidikan dan belum memberikan pengajaran agama dan ibadah kepada anak. Keluarga bapak W dan ibu S, mereka kurang melakukan pengawasan terhadap anaknya, dikarenakan sibuk dengan pekerjaannya sehingga anak meniru perilaku tidak baik yang ada di lingkungan sekitarnya. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) bersifat deskriptif, sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Pengumupan data menggunakan Teknik wawancara, observasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan cara berpikir deduktif. Hasil penelititan ini menunjukan bahwa pelaksanaan kewajiban orang tua dalam pengasuhan anak kurang berjalan dengan baik, Karena adanya problem yang dialami orang tua, seperti orang tua Perempuan sulit mendapatkan pekerjaan, karena Pendidikan yang masih tergolong rendah dan kurangnya pemahaman orang tua tentang pemahaman agama dan ibadah, orang tua kurang memberikan pengawasan dan pengajaran kepada anak, karena masih menganggap hal tersebut merupakan  mutlak tugas dari Lembaga Pendidikan. Maka kewajiban orang tua tersebut kurang berjalan dengan baik dan hak-hak anak dalam pengasuhan kurang terpenuhi.
Dampak Intervensi Orang Tua Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga Anak Lukmanul Hakim; Lukman Hakim; Abdul Aziz
AL-ASHLAH : Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol. 5 No. 01 (2026): January 2026
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/tqrw0092

Abstract

Di dalam setiap keluarga pasti terdapat masalah. Masalah dalam keluarga seringkali diperparah oleh intervensi orang tua yang dapat mengganggu keharmonisan keluarga. Studi ini bertujuan untuk memahami masalah intervensi orang tua yang bepengaruh kepada keharmonisan rumah tangga anak di dalam masyarakat. Intervensi orang tua juga sangat menarik untuk diteliti karena dapat dijadikan pengetahuan untuk masa depan dan dapat memahami cara-cara menghadapi pengaruh intervensi orang tua terhadap keharmonisan keluarga anak. Metode ini menerapkan pendekatan kualitatif untuk memahami fenomena mengenai keadaan objek alimiah, seperti meneliti tindakan dan sebagainya secara menyeluruh dengan cara deskripsi. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian lapangan, yang berfokus pada gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Studi ini dilakukan di kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini dapat mengungkap dampak pengaruh intervensi orang tua yang dapat mengganggu keharmonisan keluarga anak, seperti isu ekonomi, yang masih belum menginginkan,  penampilan istri yang tidak layak, pendidikan anak yang kurang baik, serta masalah tempat tinggal yang masih satu rumah dengan orang tua. Dalam hukum Islam, keterlibatan orang tua diizinkan dan orang tua berperan sebagai mediator, bukan sepenuhnya mencampuri urusan keluarga anaknya. Pengaruh intervensi orang tua terhadap keharmonisan keluarga anak baik yang bersifat positif maupun negatif. Pada dasarnya, campur tangan orang tua dalam rumah tangga anak merupakan bentuk kasih sayang yang tidak selalu bersumber dari niat buruk. Dalam Islam, peran orang tua terhadap anak diatur dalam norma-norma yang bertujuan menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
INTERAKSI SOSIAL ANTARA LAWAN JENIS DI DUNIA DIGITAL DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Ela Mariya Ulfa; Abdul Aziz; Ansari
Al-IHKAM Jurnal Hukum Keluarga Jurusan Ahwal al-Syakhshiyyah Fakultas Syariah IAIN Mataram Vol. 18 No. 3 (2026): September (Special Issue)
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/alihkam.v18i3.16220

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap pola interaksi sosial masyarakat, termasuk hubungan antara laki-laki dan perempuan. Kehadiran media sosial, aplikasi pesan instan, serta berbagai platform komunikasi daring memungkinkan setiap orang untuk berkomunikasi dengan lebih cepat dan mudah tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Perkembangan tersebut memberikan dampak positif berupa kemudahan dalam membangun relasi sosial dan bertukar informasi, namun di sisi lain juga menimbulkan persoalan etika dan moral apabila tidak digunakan secara bijak, khususnya dalam perspektif hukum Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk interaksi sosial antara lawan jenis di dunia digital serta menganalisis batasan-   batasannya menurut hukum Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab fiqh klasik dan kontemporer, serta artikel jurnal ilmiah yang relevan dengan tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi digital antara lawan jenis dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori hukum, yaitu mubah, makruh, haram, dan dibolehkan karena kebutuhan tertentu (al-hajah), sebagaimana tampak pada interaksi melalui game online dan aplikasi kencan daring. Penelitian ini juga merumuskan lima parameter praktis — tujuan komunikasi, isi pesan, intensitas, ruang privat/publik, dan ada-tidaknya kebutuhan syar’i — untuk membedakan private chat yang dibolehkan dari khalwat digital yang terlarang. Secara keseluruhan, batasan tersebut berpijak pada enam prinsip hukum Islam, yaitu menghindari ikhtilath, menjauhi khalwat, membatasi komunikasi pada al-hajah, menerapkan sadd adz-dzari’ah, menjaga pandangan (ghadhul bashar), dan menggunakan ucapan yang baik (qaulan ma’rufan), yang seluruhnya bermuara pada maqaṣid al-syari’ah berupa hifzh ad-dīn, hifzh al-’aql, hifzh al-’irḍ, dan hifzh an-nasl. Dengan demikian, pemahaman terhadap prinsip-prinsip hukum Islam sangat diperlukan agar interaksi antara lawan jenis di dunia digital tetap mencerminkan akhlak, kesopanan, dan tanggung jawab moral.
FROM MARRIAGE IS SCARY TO MARRIAGE READINESS: A SOCIO-LEGAL STUDY OF BANYUWANGI UNIVERSITY STUDENTS THROUGH ISLAMIC FAMILY LAW Siti Nur Ananda Prasetya; Abdul Aziz; Ansari Ansari
JURNAL HAKAM Vol 10, No 3 (2026)
Publisher : Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/jhi.v10i3.16062

Abstract

The rise of the TikTok trend Marriage is Scary reflects changing perceptions of marriage among younger generations and raises questions about how digital narratives interact with Islamic family-law values. This study examines Banyuwangi university students’ responses to the trend, identifies the factors shaping their perceptions, and analyzes its implications from the perspective of Islamic family law. Employing a qualitative socio-legal approach, the study draws on questionnaires and interviews with students from Islamic-based and general universities in Banyuwangi, supported by relevant scholarly literature. The findings show that students respond to the trend critically and reflectively rather than simply rejecting marriage. The content produces diverse effects, including greater caution, anxiety, and, for some students, stronger motivation to prepare for marriage through emotional, financial, and relational readiness. Social media exposure is the dominant factor, followed by family environment, social interaction, personal readiness, and religious understanding. From an Islamic family-law perspective, the trend does not necessarily represent a rejection of marriage but reflects legitimate concerns about marital risks and responsibilities. Through maqasid al-shari’ah, particularly the preservation of life and lineage and the prevention of harm, these concerns can be transformed into constructive marriage preparation. The study argues that digital marriage discourse can function as a catalyst for critical and responsible marriage readiness.