Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

FORMULASI PUPUK ORGANIK LIMBAH KULIT KOPI DENGAN PENAMBAHAN TANAMAN PENGHASIL NITROGEN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KOPI ROBUSTA (Coffea canephora L.) Padidi, Nober; Wisdawati, Eka; Baba, Basri
Agroplantae: Jurnal Ilmiah Terapan Budidaya dan Pengelolaan Tanaman Pertanian dan Perkebunan Vol 13 No 1 (2024): Agroplantae: Jurnal Ilmiah Terapan Budidaya dan Pengelolaan Tanaman Pertanian da
Publisher : Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/agro.v13i1.811

Abstract

The increase in coffee production in Indonesia has resulted in an increase in by products in the form of coffee skin waste, which can be processed into organic fertilizer. The purpose of this study was to determine the formulation of organic fertilizer that gives the best effect on the growth of robusta coffee seedlings. This study used a Randomized Group Design (RDB) with the treatment of various formulations of coffee skin waste organic fertilizer with the addition of nitrogen producing plants, namely without coffee skin waste organic fertilizer (soil) or control (P0), coffee skin waste organic fertilizer without the addition of nitrogen-producing plants (P1), coffee skin waste organic fertilizer with the addition of babadotan plants (P2), coffee skin waste organic fertilizer with the addition of mucuna plants (P3) and coffee skin waste organic fertilizer with the addition of lamtoro plants (P4). The dose given per polybag was 300 grams/polybag. The nutrient content of the organic fertilizer formulation with the addition of lamtoro plants produced the highest nutrient content compared to the addition of mucuna and babadotan leaves, namely N by 1.88%, P by 0.50% and K by 3.14%. In the observed variables, namely plant height and stem diameter, the formulation treatment with the addition of lamtoro produced the highest plant height and largest plant diameter, but was not significantly different from the other treatments. The organic fertilizer treatment with the addition of lamtoro plants also produced the highest number of leaves and was significantly different from the soil treatment (control) and treatment with the addition of babadotan plants, but not significantly different from the formulation treatment with the addition of mucuna and treatment without the addition of nitrogen producing plants.
Pembuatan bakteri fotosintesis untuk aplikasi pada pertanaman kacang panjang Baba, Basri; Asmawati, Asmawati; Nurhalisyah, Nuhalisyah; Darwis, Rendi; Padidi, Nober
JatiRenov: Jurnal Aplikasi Teknologi Rekayasa dan Inovasi Vol 1 No 1 (2022): Edisi Mei
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/jatirenov.v1i1.392

Abstract

Bakteri fotosintesis (Synechococcus sp) ini adalah merupakan salah satu jenis bakteri fotosintesis dari kelompok bakteri cyanobacteria, memiliki kemampuan untuk melakukan penetrasi dalam jaringan daun tanaman dan melakukan fotosintesis sekaligus mampu menambat nitrogen bebas di atmosfer. Bakteri fotosintesis ini dapat diaplikasikan pada semua jenis tanaman dan diperoleh dengan proses pembuatan dari bahan mudah dan murah didapatkan. Karang taruna, kelompok tani dan masyarakat umum di Desa Manggalung, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, sebagai mitra pengabdian pada masyarakat, semua memiliki lahan usaha tani diantaranya padi, jagung, kacang tanah, kacang panjang, dan kakao. Usaha yang selama ini dilakukan untuk meningkatkan produksinya adalah penggunaan pupuk anorganik tanpa diimbangi dengan penggunaan bahan organik. Hal ini perlu dilakukan pembelajaran (teori dan praktek) pada kelompok masyarakat tersebut untuk menambah pengetahuan dan keterampilan dalam pemanfaatan bahan organik yang murah dan ramah lingkungan. Salah satunya penggunaan bakteri fotosintesis. Tujuan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah menambah pengetahuan dan keterampilan petani pembuatan bakteri fotosintesis untuk dimanfaatkan pada tanaman yang dibudidayakan khususnya pada tanaman kacang panjang. Hasil pengabdian pada masyarakat di Desa Manggalung adalah bahwa kelompok mitra yang mengikuti kegiatan penyuluhan dan demplot meningkat pengetahuan dan keterampilannya dalam pembuatan dan aplikasi bakteri fotosintesis pada tanaman. Hal ini dibuktikan dengan minat dan keseriusan serta antusias peserta dalam memberikan respon berupa banyak pertanyaan selama berlangsung penyuluhan dan demplot (praktek pembuatan dan praktik aplikasi) bakteri fotosintesis.
Respon Fisiologi Bibit Kopi Robusta (Coffea canephora L.) Pada Berbagai Formulasi Pupuk Organik Padidi, Nober; Wisdawati, Eka; Baba, Basri
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 7 No 2 (2024): Mei 2024
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v7i2.47487

Abstract

Produk samping tanaman kopi berupa limbah kulit kopi, masih dapat dimanfaatkan dengan diolah menjadi pupuk organik berkualitas yang diperkaya dengan tanaman penghasil nitrogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian berbagai formulasi pupuk organik dari bahan utama limbah kulit kopi terhadap fisiologi tanaman kopi robusta. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan berbagai formulasi pupuk organik dari limbah kulit kopi, yaitu tanpa pupuk organik (tanah) atau kontrol (P0), pupuk organik tanpa penambahan tanaman penghasil nitrogen (P1), pupuk organik dengan penambahan tanaman babadotan (P2), pupuk organik dengan penambahan tanaman mucuna (P3) dan pupuk organik dengan penambahan tanaman lamtoro (P4). Dosis yang diberikan per tanaman adalah 300 gram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik dengan penambahan tanaman lamtoro menghasilkan rata-rata luas daun terbesar, tetapi tidak berbeda nyata dari perlakuan dengan penambahan mucuna dan tanpa penambahan tanaman penghasil nitrogen. Pada variabel jumlah stomata, kerapatan stomata dan volume akar, perlakuan formulasi dengan penambahan tanaman lamtoro juga menunjukkan kecenderungan yang lebih tinggi, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.
Respons Pertumbuhan Bibit Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) Terhadap Pemberian Biochar Sekam Padi dan Mikoriza pada Tanah Ultisol Febianus Sapitu; Rista Delyani; Zaenal Mutaqin; Nober Padidi
AGRORADIX : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 8 No 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Islam Darul 'Ulum (UNISDA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/agroteknologi.v8i2.9309

Abstract

The availability of ultisol soil, in the form of red-yellow podzolic soil, is essential in increasing cocoa production, especially in crop cultivation to meet national cocoa needs. This study aims to assess the effect of rice husk biochar and mycorrhiza, and the interaction of the two treatments on the growth of cocoa seedlings on red-yellow podzolic (ultisol) soil. This study used a quantitative method using Factorial Randomized Block Design (RBD), with 3 blocks as replicates. The first factor is the dose of rice husk biochar consisting of four levels, namely 0 t ha-1 (B0), 10 t ha-1 (B1), 20 t ha-1 (B2), and 30 t ha-1 (B3). The second factor was the dose of mycorrhiza with 4 levels, namely 0 g polybag-1 (M0), 12.5 g polybag-1 (M1), 25 g polybag-1 (M2), and 37.5 g polybag-1 (M3). The data were analyzed using Analysis of Variance and followed by the Post Hoc Tukey’s HSD at α= 5%. The results showed that the application of rice husk biochar at a dose of 30 t ha-1 gave the best results and significantly affected the plant height and crown wet weight of cocoa seedlings compared to the control. In addition, the application of mycorrhiza at a dose of 37.5 g polybag-1 also gave the best results and significantly affected plant height, stem diameter, crown wet weight, and crown dry weight of cocoa plant seedlings compared to the control. However, the interaction between the two treatments did not significantly affect each variable observed.