Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Sosialisasi Konsep Zero Waste dalam Pengolahan Sampah dan Pelatihan Pembuatan Ecoenzyme bagi Kelompok Warga di Kelurahan Merdeka Kota Kupang Mellissa Erlyn Stephanie Ledo; Frankie Jan Salean; Otlief Jannes R Wewo; Martini Ana Ambu; Satrio Come; Djon Willa; Reinya Dima; Nguru Male
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 13, No 3 (2022): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v13i3.11284

Abstract

Kota Kupang saat ini termasuk dalam kategori kota terkotor di Indonesia, produksi sampah di kota kupang mencapai 200 hingga 250 ton per hari Kondisi lingkungan di Kelurahan Merdeka cukup bersih namun keberadaan kali merdeka yang bermuara di pantai Oeba menjadi sumber polusi bagi lingkungan sekitarnya, timbunan sampah di badan jalan dan selokan menjadi pemandangan yang buruk juga menimbulkan bau yang tidak sedap. konsep zero waste (Reduce, Reuse, Recycle, Replace dan Replant) akan membawa perubahan yang signifikan pada produksi sampah. Sosialisasi konsep zero waste dalam pengolahan sampah, pelatihan pembuatan ecoenzyme dari sisa sayuran dan buah, dan pembuatan bedeng ecobricks dilakukan di sekitar kali Merdeka. Metode yang digunakan adalah metode ceramah, eksperimen dan pengisian angket bagi 30 warga yang tinggal di sekitar kali Merdeka. Hasil analisis angket menunjukkan pemahaman warga tentang konsep zero waste sebesar 89,2%, namun penerapan gaya hidup zero waste cenderung rendah berkisar 30-55%. Pelatihan pembuatan produk ecoenzyme oleh 5 kelompok warga menghasilkan produk ecoenzyme yang selanjutnya dapat digunakan sebagai larutan pembersih kamar mandi dan selokan, selain itu pembuatan tempat sampah khusus sampah daur ulang diletakkan di sekitar kali merdeka, untuk mengurangi polusi udara dibuat bedeng ecobriks yang ditanami tumbuhan lidah mertua, kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk mendukung gaya hidup zero waste di kelurahan merdeka.
Aktivitas Antimikroba Larutan Antiseptik Dari Garbage Enzyme Terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Ledo, Mellissa Erlyn Stephanie; Rupidara, Anggreini D.N; Solle, Hartini R.L; Nitsae, Merpiseldin; Nomleni, Fransina T
SCISCITATIO Vol. 5 No. 1 (2024): Volume 5 Number 1, January 2024
Publisher : Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/sciscitatio.2024.51.162

Abstract

Pengolahan sampah yang belum optimal menimbulkan berbagai masalah pencemaran lingkungan yang belum dapat diatasi. Berbagai upaya pengolahan sampah, terutama dari jenis organik dilakukan untuk menghasilkan produk baru yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Istilah garbage enzyme (GE) mengacu kepada hasil fermentasi sisa sayuran dan buah yang memiliki banyak manfaat diantaranya sebagai purifikato air yang tercemar, pupuk organik, dan mengurangi bau tidak sedap pada timbunan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas antimikroba larutan antiseptik dari GE terhadap Escherichia coli ATCC 25922 dan Staphylococcus aureus ATCC 25923. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan variasi konsentrasi larutan antiseptic GE yaitu 0%, 15%, 30%, 45% dan 60%. Metode uji aktivitas antimikroba adalah metode difusi agar yang mengukur diameter zona bening yang menunjukan penghambatan pertumbuhan bakteri. Hasil penelitian menunjukkan terdapat aktivitas antimikroba pada larutan antiseptik GE dengan rata-rata diameter zona bening adalah 14-21,3 mm untuk E. coli, dan 14,3-25,9 mm untuk S. aureus. Aktivitas antimikroba larutan antiseptik GE terhadap E. coli dan S. aureus meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi larutan antiseptik GE, dimana konsentrasi 45 % dan 60% memiliki aktivitas antimikroba yang kuat dalam menghambat pertumbuhan E. coli dan S. aureus.
SELEKSI ENZIM PROTEASE JAMUR ENDOFIT DAUN MANGROVE Avicennia marina DI PANTAI NOELBAKI Ludji Lobo, Ocsryn Lylianti; Rupidara, Anggreini D.N; Ledo, Mellissa E.S
INDIGENOUS BIOLOGI : JURNAL PENDIDIKAN DAN SAINS BIOLOGI Vol 5 No 3 (2022): Indigenous Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Kristen Artha Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33323/indigenous.v5i3.267

Abstract

ABSTRAK Jamur endofit dapat diartikan sebagai mikroba yang hidup berkoloni dalam jaringan internal makhluk hidup seperti pada daun tanpa menyebabkan efek yang merugikan secara langsung pada organisme tersebut. Jamur endofit mampu menghasilkan enzim ekstraseluler, salah satunya enzim protease. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jamur endofit penghasil enzim protease yang hidup pada daun mangrove Avicennia marina di Pantai Neolbaki. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan dua perlakuan yaitu daun tua dan daun muda mangrove A. marina. Data karakterisasi morfologi secara makroskopis dan mikroskopis dianalisis secara kualitatif sedangkan data uji aktifitas protease dari jamur endofit dengan metode plug agar berupa hasil perhitungan zona bening secara kuantitatif dan dideskripsikan dalam bentuk gambar dan tabel. Berdasarkan data penelitian ditemukan bahwa dari daun tua dan daun muda mangrove A. marina yang ada di pantai Noelbaki menghasilkan 12 total isolat hasil isolasi. Dari total 12 isolat diperoleh 5 isolat jamur endofit penghasil enzim protease ekstraseluler yang terbagi atas 3 isolat dari daun tua dan 2 isolat dari daun muda. Pembentukan zona aktifitas proteolitik tertinggi pada daun tua A. marina dalam uji enzim protease ekstraseluler terdapat pada kode isolat DT Am 05 OLL dengan diameter zona proteolitik sebesar 2,1 mm. sedangkan untuk daun muda A. marina aktivitas tertinggi terdapat pada kode isolat DM Am 02 OLL dengan diameter zona bening sebesar 1,9 mm. Kata Kunci: Avicennia marina, Enzim protease ekstraseluler, Jamur endofit. ABSTRACT Endophytic fungi can be defined as microbes that live in colonies in the internal tissues of living things such as leaves without causing direct adverse effects on these organisms. Endophytic fungi are able to produce enzymes, one of which is the protease enzymes. This study aims to identify Endophytic fungi that produce protease enzymes that live on mangrove leaves of Avicennia marina in Noelbaki Beach. The research used an experimental method with two treatments, namely old and young leaves of the A. marina mangrove. The macroscopic and microscopic morphological characterization data were analyzed qualitatively, while the protease activity test data of endophytic fungi using the plug agar and the clear zone were analyzed quantitatively, then described in the form of figures and tables. The founding of the research of the old and young leaves of A. marina from the Noelbaki beach had been isolated a total of 12 isolates of endophytic fungi. Of the 12 isolates, 5 isolates were shown to produce extracellular protease enzymes, consisting of 3 old leaves isolates and 2 young leaves isolates. In the extracellular protease enzyme test, the proteolytic activity zone was confirm as a clear zone was found to be the highest in the old leaves of A. marina found in the isolate code DT-Am-05-OLL with a proteolytic zone diameter of 2.1 mm. As for young leaves of A. marina, the highest activity was found in the DM-Am-02-OLL isolate code with a clear zone diameter of 1.9 mm. Key Words : Avicennia marina, endophytic fungi, extracellular protease enzymes
Characteristics of Residence Time of the Torrefaction Process on the Results of Pruning Kesambi Trees Dethan, Jemmy Jonson Sula; Haba Bunga, Fredrik Julius; Ledo, Mellissa Erlyn Stephanie; Abineno, Jemseng Carles
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v13i1.102-113

Abstract

The excessive use of Kesambi (Schleichera oleosa) tree stems threatens the sustainability of Kesambi plants since it takes several decades for them to regenerate new stems. This research aims to determine the characteristics of torrefied Kesambi tree pruning. The used reactor has a diameter of 400 mm. An iron basket is positioned 100 mm above the reactor base, holding the material within an aluminum cylinder. The reactor temperature is maintained at 300°C using a K-type thermocouple sensor. A heater is placed near the reactor base and covered. The characteristics of the semi-charcoal biomass product are identified, including mass yield, water absorption capacity, moisture content (D3173, 2013); ash content (ASTM D1102-84. Standard Test Method for Ash in Wood, 2013); volatile matter (%) (ASTMD3175, 2011); and fixed carbon (%) (ASTM, 2013). The color of the leaves and the pruned Kesambi tree changes from brown to black as the residence time increases. The results of pruning the Kesambi tree at different torrefaction residence times indicate a decrease in mass yield with an increase in residence time, with the lowest mass yield observed at a residence time of 20 minutes. The water absorption capacity of torrefied Kesambi tree pruning material is found to be between 0.65% and 0.675%, or less than 1% and higher heating value (HHV) prediction 29.0750 MJ/kg.Keywords: Kesambi, Pruning, Residence, Time, Torrefaction
STUDI ETNOBOTANI TUMBUHAN MANGROVE DI KUPANG Tisera, Wilson L.; Ledo, Mellissa E. S.; Rupidara, Anggreini D.N.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 3 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v12i3.33243

Abstract

Studi etnobotani berguna untuk menganalisis pemanfaatan jenis dan bagian tumbuhan mangrove secara kuantitatif berdasarkan indeks signifikansi budaya (Index of Cultural Significance) masyarakat pesisir. Penelitian dilakukan di area mangrove Taman Wisata Mangrove Kelurahan Oesapa, Pantai Manikin, Pantai Sulamanda Desa Mata Air, Desa Kelapa Tinggi di Kelurahan Tarus, Desa Oebelo dan Desa Pariti. Pengumpulan data menggunakan metode survei lapangan, observasi dan teknik wawancara semi-terstruktur tentang tumbuhan, bagian tumbuhan yang digunakan dan cara pengolahan terhadap masyarakat yang ada di sekitar hutan mangrove. Hasil wawancara diperoleh bahwa terdapat 6 (enam) spesies mangrove major, yakni: Avicennia marina, Sonneratia alba, Bruguiera parviflora, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, dan R. mucronata, dan 1 (satu) spesies mangrove asosiasi, yakni Nypa fruticans. Berdasarkan nilai Indeks Signifikansi Budaya (ICS), R. mucronata memiliki nilai ICS tertinggi (708), yaitu sebagai indikator lingkungan (340) dan bahan bangunan (320). A. marina, nilai ICS 114, terutama pemanfaatannya untuk bahan obat (108), dan S. alba bernilai ICS 54, terutama sebagai pengganti sirih (12). Mangrove digunakan sebagai indikator lingkungan, kayu bakar, bahan bangunan, bahan obat, kegiatan pertanian, berkaitan dengan mitos, pengganti sirih, pembuatan garam, bahan perahu, pembuatan sirup dan pakan ternak.