Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Egalitarian da’wah as a da’wah strategy Fuat Rejeki; Ali Murtadho; Agus Riyadi; Agus Nurhadi; Windy Ernaeny
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 46 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v46.1.30737

Abstract

Purpose - This study aims to analyse da‘wah strategies relevant to Muslim minority communities in Krajan, Kalimanggis, emphasising relational equality between da‘i and mad‘u, a dialogical, humanistic, and non-coercive approach, as well as the utilisation of basic needs fulfilment as a contextual medium for da‘wah. Method - This study employed a qualitative method with an ethnographic approach to understand the meanings attributed by religious leaders, Muslims, and non-Muslims to da‘wah practices, particularly the egalitarian da‘wah strategy, da‘wah bil ḥāl, and socially inclusive da‘wah. A sociological perspective was utilised to analyse religion as a social reality related to social structures, interactions, and community dynamics (Hasni, 2023). Data were collected through in-depth interviews and participant observation with eight respondents. These respondents included Muslim community leaders, ustadz/religious figures from outside the local area who had established majlis taklim, Islamic activists in Dusun Krajan, non-Muslim religious leaders, converts to Islam, respected community elders, and members of the Muslim youth organisation (karangtaruna). Result -  This study indicates that the Muslim minority community in Dusun Krajan faces socio-economic limitations, limited access to religious education, and vulnerability in social relations within a predominantly non-Muslim environment, rendering conventional da‘wah less effective. The originality of this research lies in the formulation of egalitarian da‘wah as a contextual and adaptive strategy, emphasising relational equality between da‘i and mad‘u, a social–humanistic approach through the fulfilment of basic needs, and conflict management based on dialogue and empathy. The findings suggest that egalitarian da‘wah functions not only as a medium for transmitting Islamic teachings but also as a mechanism— —for strengthening social cohesion and restoring social relations, thereby supporting the sustainability of religious life and social harmony amongst Muslim minority communities. Implications – The implications of this study lie in reinforcing the perspective of da‘wah as a contextual and relational social practice within da‘wah studies and the sociology of religion, particularly amongst Muslim minority communities. Practically, the findings serve as a reference for da‘i and da‘wah institutions in designing dialogical, humanistic, and basic-needs-based da‘wah strategies to strengthen social cohesion and interfaith harmony. Originality/Value – This study presents egalitarian da‘wah as a contextual model for Muslim minority communities, emphasising relational equality, social–humanistic approaches, and interfaith dialogue. It positions da‘wah not merely as the transmission of religious teachings, but as a mechanism for strengthening social cohesion and restoring social relations, which is relevant for sustaining religious life and social harmony. *** Tujuan - Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi dakwah yang relevan bagi masyarakat Muslim minoritas di Krajan, Kalimanggis, dengan menekankan kesetaraan relasional antara da’i dan mad’u, pendekatan dialogis, humanis, dan non-koersif, serta pemanfaatan pemenuhan kebutuhan dasar sebagai media dakwah yang kontekstual. Metode - Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk memahami pemaknaan para tokoh agama, umat Muslim, dan non-Muslim terhadap praktik dakwah, khususnya strategi dakwah egaliter, dakwah bil ḥāl, dan dakwah sosial-inklusif. Pendekatan sosiologis digunakan untuk menganalisis agama sebagai realitas sosial yang berkaitan dengan struktur, interaksi, dan dinamika masyarakat (Hasni, 2023). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap 8 responden. Mereka adalah tokoh masyarakat muslim, para ustadz/ tokoh agama dari luar lingkungan yang telah mendirikan majelis taklim, pejuang agama Islam di dusun Krajan, tokoh agama non Muslim, mualaf, warga yang dituakan, dan karangtaruna muslim. Hasilnya menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan seperti pengajian rutin, momentum Ramadhan, Idul Adha, dan perayaan hari besar Islam menjadi sarana efektif dalam membangun jaringan sosial serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat Muslim di Krajan, Kalimanggis. Hasil  -  Kajian ini menunjukkan bahwa masyarakat Muslim minoritas di Dusun Krajan menghadapi keterbatasan sosial ekonomi, rendahnya akses pendidikan keagamaan, serta kerentanan relasi sosial dalam lingkungan mayoritas non-Muslim, sehingga dakwah konvensional cenderung kurang efektif. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan dakwah egaliter sebagai strategi dakwah yang kontekstual dan adaptif, yang menekankan kesetaraan relasional antara da’i dan mad’u, pendekatan sosial-humanis melalui pemenuhan kebutuhan dasar, serta pengelolaan konflik berbasis dialog dan empati. Temuan ini menunjukkan bahwa dakwah egaliter tidak hanya berfungsi sebagai media transmisi ajaran Islam, tetapi juga sebagai mekanisme penguatan kohesi sosial dan pemulihan relasi sosial, sehingga relevan dalam mendukung keberlanjutan kehidupan keagamaan dan harmoni sosial masyarakat Muslim minoritas. Implikasi – Implikasi penelitian ini pada penguatan perspektif dakwah sebagai praktik sosial yang kontekstual dan relasional dalam studi dakwah dan sosiologi agama, khususnya pada masyarakat Muslim minoritas. Secara praktis, temuan ini menjadi rujukan bagi da’i dan lembaga dakwah dalam merancang strategi dakwah dialogis, humanis, dan berbasis pemenuhan kebutuhan dasar guna memperkuat kohesi sosial dan harmoni antarumat beragama. Orisinalitas/Nilai – Penelitian ini mengungkap dakwah egaliter sebagai model dakwah kontekstual bagi masyarakat Muslim minoritas yang menekankan kesetaraan relasional, pendekatan sosial-humanis, dan dialog lintas agama. Penelitian ini memposisikan dakwah tidak hanya sebagai transmisi ajaran, tetapi sebagai mekanisme penguatan kohesi sosial dan pemulihan relasi sosial yang relevan bagi keberlanjutan kehidupan keagamaan dan harmoni sosial.
The relevance of Muhammad Shahrur's views on democracy to the discourse of da'wah thought and democracy in Indonesia Nur Ariyanto Eva Nuriatulfajr; Agus Riyadi; Ilyas Supena
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 46 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v46.1.31520

Abstract

Purpose - The purpose of this study is to examine the concept of epistemic integration of indigenous multicultural da'wah and how the tradition of interfaith kupatan serves as a dialectical tool between Islamic ideals and local culture in a multicultural society. This study is based on indigenous Islamic thought, which connects the study of da'wah and multiculturalism with Javanese philosophy and local wisdom practices. Method - The study was carried out using a qualitative philosophical approach, which is based on epistemological perspective through the examination of rituals, symbols, and social relations among different religions. The information was collected by observing rituals, symbols, and social relations among individuals from different religions, and later analyzed to determine their significance. Result  -  The results indicated that the interfaith kupatan tradition reflects the internalization of Islamic principles of raḥmatan li al-‘ālamīn (mercy for all creation) via social practices that promote tolerance, ukhuwah insāniyah (human brotherhood), and social cohesion. From an epistemological perspective, this tradition establishes an adaptive-dialectical-reformative framework for indigenous multicultural da'wah. It combines three sources of understanding: bayānī (religious texts), burhānī (empirical socio-cultural realities), and 'irfānī (empathy, feelings, and spiritual awareness) reasoning, drawing from religious texts and diverse experiences. This approach is proven by achieving harmony, justice, and maqāṣid al-sharī'ah (shared social well-being). Implication – This study confirms the relevance of a qualitative-contextual approach based on field studies in examining multicultural da'wah based on local traditions. These findings imply the need for a dialectical da'wah study methodology oriented towards indigenous knowledge in multicultural societies. Originality/Value - This study's novelty is in proposing a clear and practical model of indigenous multicultural da'wah derived directly from field findings in the interfaith kupatan tradition. This research presents a practical model for integrating Islamic teachings, local culture, and interfaith interaction in daily practice, in contrast to previous studies that are purely theoretical. *** Tujuan - Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji konsep integrasi epistemologis dakwah multikultural asli serta bagaimana tradisi kupatan antaragama berfungsi sebagai alat dialektis antara cita-cita Islam dan budaya lokal dalam masyarakat multikultural. Penelitian ini didasarkan pada pemikiran Islam asli, yang menghubungkan kajian dakwah dan multikulturalisme dengan filsafat Jawa serta praktik-praktik kearifan lokal. Metode - Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan filosofis kualitatif, yang didasarkan pada perspektif epistemologis melalui pengkajian ritual, simbol, dan hubungan sosial di antara berbagai agama. Informasi dikumpulkan melalui pengamatan terhadap ritual, simbol, dan hubungan sosial di antara individu dari berbagai agama, kemudian dianalisis untuk menentukan signifikansinya. Hasil  -  Hasil menunjukkan bahwa tradisi kupatan antaragama mencerminkan internalisasi prinsip-prinsip Islam raḥmatan li al-‘ālamīn (rahmat bagi seluruh alam) melalui praktik-praktik sosial yang mempromosikan toleransi, ukhuwah insāniyah (persaudaraan manusia), dan kohesi sosial. Dari perspektif epistemologis, tradisi ini menetapkan kerangka kerja adaptif-dialektis-reformatif untuk dakwah multikultural asli. Tradisi ini menggabungkan tiga sumber pemahaman: bayānī (teks-teks agama), burhānī (kenyataan sosio-budaya empiris), dan 'irfānī (empati, perasaan, dan kesadaran spiritual), yang bersumber dari teks-teks agama dan pengalaman yang beragam. Pendekatan ini terbukti berhasil dalam mewujudkan harmoni, keadilan, dan maqāṣid al-sharī'ah (kesejahteraan sosial bersama). Implikasi – Studi ini menegaskan relevansi pendekatan kualitatif-kontekstual berdasarkan studi lapangan dalam mengkaji dakwah multikultural yang berlandaskan tradisi lokal. Temuan ini mengimplikasikan perlunya metodologi studi dakwah dialektis yang berorientasi pada pengetahuan lokal dalam masyarakat multikultural. Orisinalitas/Nilai - Keunikan studi ini terletak pada usulan model dakwah multikultural berbasis lokal yang jelas dan praktis, yang langsung dihasilkan dari temuan lapangan dalam tradisi kupatan antaragama. Penelitian ini menyajikan model praktis untuk mengintegrasikan ajaran Islam, budaya lokal, dan interaksi antaragama dalam praktik sehari-hari, berbeda dengan studi sebelumnya yang murni teoretis.
Pembinaan Kultural Calon Jamaah Haji melalui Tradisi Mandi Sesucen di Desa Jangga, Losarang–Indramayu Lutfiyanah Lutfiyanah; Abdul Rozak; Agus Riyadi
Kamaya: Jurnal Ilmu Agama Vol 8 No 4 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/kamaya.v8i4.4968

Abstract

This study aims to analyze the cultural coaching for prospective hajj pilgrims through the sesucen bath ritual in Jangga Village, Losarang District, Indramayu Regency. This ritual is a form of spiritual purification performed prior to the hajj pilgrimage as a preparation for inner readiness. The research employed a qualitative method with a descriptive-analytical approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings reveal three main aspects. First, the sesucen bath ritual is carried out through several stages: the shalat safar prayer, recitation of ruqyah verses, purification bathing, religious briefing by local clerics, joint prayer, the call to prayer, and walking on a shroud cloth as a symbol of spiritual protection. Second, the pilgrims understanding of the ritual varies; some perceive it as a valid form of spiritual strengthening based on Qur’anic verses, while others regard it as an unnecessary additional practice not required by Islamic law. Third, the cultural coaching encompasses four dimensions: cultural-religious, social-relational, managerial, and religious moderation. The study concludes that a cultural coaching grounded in religious moderation effectively maintains a balance between Islamic values and local cultural traditions, offering strategic recommendations for religious leaders to prepare hajj pilgrims who are spiritually, socially, and managerially ready without neglecting their cultural roots.
Cultural Da'wah Strategy in Preserving Local Wisdom of the Sundanese Wiwitan Ngasa Tradition in Jalawastu: Strategi Dakwah Kultural dalam Pelestarian Kearifan Lokal Tradisi Ngasa Sunda Wiwitan di Jalawastu Nanda Arinal Haqi; Agus Riyadi; Abdul Karim
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 24 No. 2 (2025): Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/alhadharah.v24i2.19721

Abstract

The social reality of indigenous communities facing pressures from social change and modernization has the potential to undermine the sustainability of local traditions while simultaneously generating tensions between religion and culture. This study aims to analyze how da‘wah practices and strategies interact with the Ngasa tradition in the social life of the community, as well as the strategies employed to preserve local wisdom values. The research adopts a qualitative approach with a field research design. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted using a descriptive–interpretative method through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that cultural da‘wah is carried out in a contextual and dialogical manner by positioning tradition as a medium for the internalization of religious values rather than as an object of rejection. This approach strengthens social harmony, reinforces cultural identity, and sustains the Ngasa tradition amid modernization. These findings underscore the importance of cultural da‘wah as a relevant, inclusive model of religious outreach rooted in the local wisdom of indigenous communities. KEYWORDS: cultural da’wah; local wisdom; Ngasa tradition; Sunda Wiwitan; indigenous community
Cultural Da'wah Strategy in Preserving Local Wisdom of the Sundanese Wiwitan Ngasa Tradition in Jalawastu: Strategi Dakwah Kultural dalam Pelestarian Kearifan Lokal Tradisi Ngasa Sunda Wiwitan di Jalawastu Nanda Arinal Haqi; Agus Riyadi; Abdul Karim
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 24 No. 2 (2025): Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/alhadharah.v24i2.19721

Abstract

The social reality of indigenous communities facing pressures from social change and modernization has the potential to undermine the sustainability of local traditions while simultaneously generating tensions between religion and culture. This study aims to analyze how da‘wah practices and strategies interact with the Ngasa tradition in the social life of the community, as well as the strategies employed to preserve local wisdom values. The research adopts a qualitative approach with a field research design. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted using a descriptive–interpretative method through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that cultural da‘wah is carried out in a contextual and dialogical manner by positioning tradition as a medium for the internalization of religious values rather than as an object of rejection. This approach strengthens social harmony, reinforces cultural identity, and sustains the Ngasa tradition amid modernization. These findings underscore the importance of cultural da‘wah as a relevant, inclusive model of religious outreach rooted in the local wisdom of indigenous communities. KEYWORDS: cultural da’wah; local wisdom; Ngasa tradition; Sunda Wiwitan; indigenous community