Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KESEHATAN EMOSIONAL DAN KUALITAS HIDUP LANSIA YANG TINGGAL DI RUMAH PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA Ema Saputri Kusuma Wardani; Anny Rosisana Masithoh; Muhamad Jauhar; Novi Tiara; Lasmini Lasmini; Noor Eswanti
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 16, No 2 (2025): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v16i2.3032

Abstract

Kelompok lansia mengalami peningkatan jumlah populasi setiap tahunnya. Harapan hidup dan kualitas hidup merupakan satu hal yang penting bagi lansia, Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup lansia bisa dilihat dari segi kesehatan emosionalnya. Menganalisis hubungan Masalah Kesehatan Emosional Dengan Kualitas Hidup Lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Potroyudan Jepara. Metode penelitian menggunakan Analisis korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Variabel penelitian ini menggunakan kesehatan emosional sebagai variabel independen dan kualitas hidup lansia sebagai variabel dependen. Besar sampel 68 lansia di RPSLU Potroyudan Jepara. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi lansia ≥ 60 tahun, tinggal di panti lansia potroyudan jepara, kooperatif serta mampu membaca dan menulis. Kriteria eksklusi penelitian ini lansia yg tidak tinggal di panti sosial potroyudan dan mengundurkan diri. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Psychological Well-Being (SPWB), serta lembar kuesioner kualitas hidup (SF-36). Analisis data menggunakan uji statistik Spearman Rho. Terdapat hubungan masalah kesehatan emosional dengan kualitas hidup lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Potroyudan Jepara, dengan nilai p = 0,000 α 0,05.  Masalah Kesehatan emosional mempengaruhi kualitas hidup lansia. Panti sebagai tempat tinggal lansia harus memberikan lingkungan yang dapat meningkatkan Kesehatan emosional dan kualitas hidup penerima manfaatnya.  AbstractThe elderly population is increasing every year. Life expectancy and quality of life are important things for the elderly. One of the factors that can affect the quality of life of the elderly can be seen from their emotional health. To determine the relationship between emotional health problems and the quality of life of the elderly at the Potroyudan Jepara Elderly Social Service Center. This study employed a correlational method with a cross-sectional approach. The independent variable was emotional health, and the dependent variable was quality of life. A total of 68 elderly residents from the Potroyudan Jepara Social Service Center were selected using purposive sampling. Inclusion criteria included being ≥60 years old, residing in the center, cooperative, and able to read and write. Exclusion criteria were non-residency or withdrawal from the study. Data were collected using the SPWB and SF-36 questionnaires and analyzed using the Spearman Rho test. There is a relationship between emotional health problems and the quality of life of the elderly at the Potroyudan Jepara Elderly Social Service Home, with a p value = 0.000 α 0.05. Emotional health issues impact the quality of life of older adults. Nursing homes, as places for seniors to live, must provide an environment that improves the emotional health and quality of life of their residents.
JUS PARE MENURUNKAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS Risah Wati Dewi; Sukesih Sukesih; Muhamad Jauhar; Noor Eswanti; Faridha Alfiatur Rohmaniah
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 15, No 2 (2024): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v15i2.2520

Abstract

Diabetes mellitus (DM) menjadi masalah kesehatan di dunia selain penyakit menular yang juga masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. DM ditandai dengan defisiensi insulin akibat pola hidup tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, pola makan, obesitas, dan keturunan. Dampak yang muncul antara lain penyakit ginjal dan kebutaan pada usia di bawah 65 tahun, kecacatan, bahkan kematian. Salah satu intervensi nonfarmakolgi komplementer yang dapat dilakukan untuk mengontrol kadar gula darah adalah pemberian jus pare. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh jus pare terhadap kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Dawe. Desain Penelitian ini menggunakan eksperimen semu dengan pendekatan pretest posttest group with control design dengan variable independent (Jus Pare) dan dependen (kadar gula darah). Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-Juli 2024 di Wilayah Kerja Puskesmas Dawe dengan jumlah sampel 19 responden untuk masing-masing kelompok. Kriteria inklusi yaitu terdiagnosis DM, GDS 140 mg/dL, mengkonsumsi obat anti DM. Kriteria eksklusi yaitu memiliki komplikasi, mendapatkan terapi nonfarmakologi lain. Instrumen penelitian menggunakan glukometer GCU type 301 dan lembar observasi. Terapi yang diberikan yaitu jus pare sebanyak 2 kali masing-masing 250 ml selama 1 minggu. Analisis data menggunakan paired t-test dan independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik pemberian jus pare terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien DM dengan nilai p = 0.000 (0,05). Jus pare menurunkan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus. Bentuk intervensi ini dapat diintegrasikan dalam program posbindu PTM, posbindu lansia, dan prolanis sebagai upaya dalam mengkontrol kadar gula darah pasien DM. @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-536870145 1107305727 0 0 415 0;}p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0cm; text-align:justify; text-indent:14.2pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman",serif; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:JA;}.MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:11.0pt; mso-ansi-font-size:11.0pt; mso-bidi-font-size:11.0pt; mso-ansi-language:EN-US;}.MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; text-align:justify; text-indent:14.2pt;}div.WordSection1 {page:WordSection1;}
DEGREE OF SHORTNESS OF BREATH AND LOW IRON CONSUMPTION HABITS CAUSE DECREASED HEMOGLOBIN IN PATIENTS CONGESTIVE HEART FAILURE Noor Eswanti; Alfiatur Rochma; Rusnoto Rusnoto; Muhamad Jauhar
(IJP) Indonesia Jurnal Perawat Vol 9, No 2 (2024): INDONESIA JURNAL PERAWAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijp.v9i2.2618

Abstract

Congestive Heart Failure (CHF) causes the blood supply to the lungs to decrease, and blood does not enter the heart. This condition causes a buildup of fluid in the lungs, thereby reducing the exchange of oxygen and carbon dioxide. Heart failure patients who experience chronic iron deficiency can increase the prevalence of anemia. Analyzing the Relationship between the degree of shortness of breath and low iron diet habits with a decrease in hemoglobin levels in CHF patients. This type of correlational analytical research uses a cross-sectional approach with independent variables (Degree of Shortness of Breath and Low Iron Consumption Habits) and dependent variables (CHF Patients). This research was conducted in October 2023 at a private hospital. The total sample was 31 respondents using consecutive sampling techniques. The instruments used were observation sheets measuring RR and hemoglobin, iron consumption behavior questionnaires. Data analysis used Spearman Rho test. There is a significant relationship between the degree of shortness of breath (p=0,000; r=-0,861) and iron consumption habits (p=0,000; r=0,913) with hemoglobin levels in CHF patients. The degree of shortness of breath and low iron consumption cause anemia in CHF patients. The hospital can provide interventions to monitor the degree of shortness of breath, provide foods high in iron to increase hemoglobin in CHF patients, and consider aspects of the degree of shortness of breath.
PELATIHAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF UNTUK MENURUNKAN HIPERTENSI PADA KELOMPOK LANSIA GEMPOL MEDE Dewi Aulia Annafisah; Adisa Dini Salsabilla; Asyrofiatul Mahbubah; Evita Dian Lestari; Adhitya Firmansyah; Almar Atush Sholichah; Ananda Nor Aulia; Desita Fhenes Shafitri; Dian Pratiwi; Eko Surono; Tri Suwarto; Novy Tiara; Noor Eswanti
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 7, No 1 (2025): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v7i1.2778

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Fenomena ini terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup modern yang kurang sehat Faktor gaya hidup menjadi salah satu pemicu utama permasalahan hipertensi, seperti pola makan yang tidak sehat kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol. Hipertensi pada usia 60 tahun ke atas memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup dan kesehatan secara keseluruhan. dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke, dan gangguan fungsi ginjal Relaksasi Otot Progresif (ROP) adalah teknik yang efektif untuk membantu menurunkan tekanan darah pada individu dengan hipertensi. Teknik ini melibatkan proses pengencangan dan pelemasan otot secara sistematis pada berbagai kelompok otot di tubuh, mulai dari kepala hingga kaki atau sebaliknya. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan fisik dan mental, yang secara langsung berkontribusi pada penurunan tekanan darahProgram pengabdian kepada masyarakat ini meliputi kegiatan penyuluhan, pelatihan, dan evaluasi tentang kesiapan peningkatan manajemen kesehatan dengan cara ROP terhadap penurunan tekanan darah melalui persentasi interaktif dan pelatihan melibatkan praktik langsung terapi ROP selama 20 menit. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa program ini berhasil meningkatkan kesiapan manajemen kesehatan pada lansia terkait penyakit hipertensi yang diderita. Berdasarkan hasil evaluasi, terjadi penurunan yang signifikan pada semua indikator yang diukur yaitu tekanan darah sebelum dan sesudah dilakuan Relaksasi Otot Progresif (ROP). pemberian ROP tekanan darah sistolik pada lansia penderita hipertensi yang mengikuti kegiatan Gempol Mede di Desa Bakalan Krapyak memiliki rata-rata 144. Menjadi rata-rata tekanan darah sistolik adalah 140.58 mmHg.Dan rata-rata diastolik 83.50 mmHg menjadi 80.58 mmHg. Program ini dapat direplikasi dan diadaptasi serupa untuk komunitas lain dengan masalah yang serupa.pada lansia yang mengikuti kegiatan Gempol Mede di Desa Bakalan Krapyak sebanyak 12 responden lansia dengan hipertensi menunjukkan ada perbedaan dilihat dari nilai sig. (0.000). Penurunan tekanan darah setelah terapi relaksasi otot progresif ini mengindikasikan bahwa metode ROP ini efektif dalam menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi.