Ibrahim Hasan Ray
UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

DINAMIKA PSIKOSPIRITUAL AL-KHAUF: ANALISIS TEKSTUAL MADARIJ AS-SALIKIN TERHADAP EXISTENTIAL ANXIETY MODERN Ibrahim Hasan Ray; Gazali Gazali
Bahrul Ilmi : Journal of Islamic Religious Education Vol. 1 No. 2 (2026): Bahrul Ilmi: Journal of Islamic Religious Education
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Minhajul Haq

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66891/88p9z830

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi konsep psikospiritual al-khauf dalam jilid kedua kitab "madarij as-salikin" karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dan relevansinya dalam memitigasi fenomena existential anxiety modern, Secara spesifik, penelitian ini berupaya menjawab tiga permasalahan utama, yaitu : Bagaimana dinamika al-khauf dikonstruksikan dalam kitab Madari as-Salikin; bagaimana mekanisme internal al-khauf tersebut memitigasi krisis makna dan kecemasan eksistensial; serta bagaimana relevansi praktis pemikiran Ibnu Qayyim dalam membangun resiliensi mental di era disrupsi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research)  melalui analisis tekstual mendalam terhadap sumber  primer jilid kedua kitab madarij as-salikin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Qayyim merekonstruksi al-khauf bukan sebagai emosi pasif yang melumpuhkan melainkan sebagai ahwal dinamis yang berfungsi sebagai "cambuk" edukatif untuk mengarahkan individu kembali pada pusat eksistensi transendennya. Mekanisme internal al-khauf dapat menjadi salah satu alternatif memitigasi  krisis makna melalui transformasi kecemasan neurotik-duniawi menjadi kewaspadaan spiritual yang produktif, sekaligus mereduksi kompleksitas kegelisahan modern dengan memfokuskan rasa takut pada satu objek yang absolut. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pemikiran Ibnu Qayyim menawarkan model resiliensi mental "internal-aktif" melalui penguatan benteng batin dan orientasi bashirah yang sangat relevan bagi manusia modern untuk membangun ketahanan di tengah ketidakpastian zaman. Kebaruan penelitian ini terletak pada spesifikasi analisis emosi "takut" sebagai instrumen mitigasi kecemasan eksistensial yang jarang disentuh oleh peneliti sebelumnya.
A Critical Analysis of Amina Wadud’s Feminist Hermeneutics in Qur’anic Interpretation Ibrahim Hasan Ray
Modern Islamic Studies and Sharia Research Vol. 1 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Pascasarjana UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/missr.v1i2.10355

Abstract

This study examines Amina Wadud's feminist hermeneutics method in reading the Qur'an, focusing on her efforts to interpret the text with an awareness of the social context and experiences of women as subjects of interpretation. The research gap that this study aims to fill is the lack of studies in Indonesia that systematically analyze the methodological framework and ethical foundations of tawhid in Wadud's feminist hermeneutics, as most previous studies have been descriptive in nature and have not critically linked the methodological, ethical, and implicative dimensions of feminist readings of the Quran. This article positions itself to go beyond a general presentation of Wadud's thinking by offering a conceptual analysis that highlights how Wadud "stands at the edge of the text," integrates the principle of tawhid as the foundation of gender justice, and unravels the challenges and resistance faced by this approach in contemporary interpretive discourse. The research approach uses qualitative methods through library research with conceptual analysis of relevant literature. The results show that Wadud reconstructs inclusive and gender-just interpretation through dialogue between text and context, affirming tawhid as the basis for rejecting discrimination, while criticizing dominant patriarchal interpretations. In conclusion, these results are in line with the research objective of emphasizing the importance of tawhid-based feminist hermeneutics as an ethical-methodological foundation for gender-just interpretation of the Quran and opening up space for more empirical follow-up research.
MELAMPAUI TEKS DAN TRADISI: KRITIK POSTMODERNISME TERHADAP FORMALISME AGAMA DALAM PEMIKIRAN JACQUES DERRIDA DAN RICHARD RORTY Ibrahim Hasan Ray
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15292

Abstract

This study aims to analyze the postmodernist critique of religious formalism through a synthesis of Jacques Derrida’s and Richard Rorty’s thoughts. Using the library research method, it examines primary texts to address three main questions: how Derrida’s deconstruction dismantles religious logocentrism; to what extent Rorty’s pragmatism shifts the focus from metaphysical truth to practical solidarity; and how their synthesis forms a humanistic postmodern religious model. Findings indicate that Derrida’s deconstruction strips away claims of a single textual meaning through differance, while Rorty’s pragmatism positions religion as a cultural tool to create social peace and alleviate human suffering in the public sphere. In conclusion, transcending traditional formalism represents a form of spiritual maturity that prioritizes the essence of justice over rigid doctrine. This synthesis offers a scholarly contribution in the form of an inclusive religious model that measures piety through the depth of human solidarity rather than mere dogmatic accuracy. Abstrak: Penulisan ini bertujuan menganalisis kritik postmodernisme terhadap formalisme agama melalui sintesis pemikiran Jacques Derrida dan Richard Rorty. Menggunakan metode library research (studi pustaka), Penulisan ini mengkaji teks primer untuk menjawab tiga pertanyaan utama: bagaimana dekonstruksi Derrida membongkar logosentrisme teks agama; sejauh mana pragmatisme Rorty mengalihkan fokus dari kebenaran metafisik menuju solidaritas praktis; serta bagaimana sintesis keduanya membentuk model agama postmodern yang humanis. Hasil Penulisan menunjukkan bahwa dekonstruksi Derrida melucuti klaim makna tunggal teks melalui konsep differance, sementara pragmatisme Rorty memfungsikan agama sebagai alat budaya untuk menciptakan perdamaian sosial dan meredam penderitaan manusia di ruang publik. Simpulannya, melampaui formalisme tradisi merupakan bentuk pendewasaan spiritual yang mengedepankan esensi keadilan di atas doktrin kaku. Sintesis ini menawarkan kontribusi keilmuan berupa rekonstruksi model keberagamaan inklusif, di mana standar kesalehan tidak lagi diukur dari ketepatan dogmatis, melainkan dari kedalaman solidaritas kemanusiaan yang melampaui sekat tradisi.