Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Foot Hydrotherapy Dan Slow Deep Breathing Terhadap Tekanan Darah Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto: The Effect of Foot Hydrotherapy and Slow Deep Breathing on Blood Pressure of Hypertension Patients in the Limboto Health Center Work Area Annisa Mu’minuna Usman; Zulkifli B. Pomalang; Muh. Nursyukriani Yusuf; Nurdiana Djamaluddin; Indra
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Juni 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i6.7755

Abstract

Berdasarkan data Puskesmas Limboto pada bulan September 2024, tercatat 180 penderita hipertensi. Pelayanan yang diberikan berupa terapi farmakologis dan edukasi, tanpa terapi nonfarmakologis. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kombinasi foot hydrotherapy dan slow deep breathing terhadap tekanan darah penderita hipertensi. Metode yang digunakan adalah quasi-eksperimen dengan desain two-group pre-test post-test design. Analisis data menggunakan paired t-test dan independent t-test. Sampel berjumlah 36 responden, terbagi menjadi kelompok intervensi yang mendapat kombinasi terapi nonfarmakologis dan obat antihipertensi, serta kelompok kontrol yang hanya menerima obat antihipertensi. Sebelum terapi, rerata tekanan darah kelompok intervensi 157,11 mmHg (sistolik) dan 93,72 mmHg (diastolik) sedangkan kelompok kontrol 148,44 mmHg dan 91,83 mmHg. Setelah terapi, kelompok intervensi menurun menjadi 135,78 mmHg dan 82,00 mmHg, sedangkan kelompok kontrol menjadi 142,17 mmHg dan 87,06 mmHg. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi terapi secara signifikan menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik (p = 0,000). Kelompok kontrol juga mengalami penurunan signifikan sistolik (p = 0,000) dan diastolik (p = 0,001). Oleh karena itu, terapi nonfarmakologis ini terbukti efektif dalam membantu menurunkan tekanan darah. Penelitian ini diharapkan dapat diterapkan dalam program promotif dan preventif seperti Posbindu atau penyuluhan untuk mendukung pengelolaan hipertensi secara mandiri.
Hubungan Tingkat Stres Dengan Kualitas Tidur Pada Pasien Stroke Non Hemoragik di RSUD Prof. Dr. H Aloei Saboe Kota Gorontalo: The Relationship Between Stress Levels and Sleep Quality in Non-Hemorrhagic Stroke Patients at Prof. Dr. H. Aloei Saboe Regional Hospital, Gorontalo City Hairun Nisya A.Mamente; Nasrun Pakaya; Mihrawaty S. Antu; Nurdiana Djamaluddin; Indra
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Juli 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i7.8310

Abstract

Stroke non hemoragik merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat dan menjadi penyebab utama kematian serta kecacatan. Kondisi ini terjadi akibat tersumbatnya pembuluh darah di otak yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Faktor yang memengaruhi kejadian stroke non hemoragik antara lain kualitas tidur, tingkat stres, usia, serta riwayat penyakit penyerta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan kualitas tidur pada pasien stroke non hemoragik di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel terdiri 54 pasien stroke non hemoragik yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 38 orang (70,4%) mengalami stres tingkat sedang, sementara masing-masing sebanyak 8 orang (14,8%) mengalami stres ringan dan berat. Selain itu, sebanyak 48 orang (88,9%) memiliki kualitas tidur yang buruk dan 6 orang (11,1%) yang memiliki kualitas tidur baik. Berdasarkan uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat stres dan kualitas tidur pada pasien stroke di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo dengan p value 0,038 (<0,05) dan nilai koefisien 0,282 termasuk dalam kategori hubungan lemah. Diharapkan rumah sakit agar dapat memberikan perhatian lebih terhadap manajemen stres pada pasien stroke non hemoragik, terutama terkait dengan dampaknya terhadap kualitas tidur pasien.