Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

GENDER : MENELAAH KEADILAN DAN KESETARAAN DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI Hamid, Rahmat Zulfikar; Agustang, Andi; Idrus, Idham Irwansyah
Journal Peqguruang: Conference Series Vol 5, No 1 (2023): Vol 5, No 1 (2023): Peqguruang, Volume 5, No.1, Mei 2023
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jp.v5i1.4043

Abstract

This paper discusses gender discourse, building justice and equality from an anthropological perspective. In critical studies, anthropology views that there are socio-cultural influences in building equality and justice in a multicultural society like in Indonesia. Gender itself is the behavior or division of roles between men and women that has been constructed or formed in the social environment. The anthropological approach views that gender differences are social constructions that are formed through social and cultural processes. In gender studies, researchers examine various social and cultural phenomena related to gender such as the distribution of gender roles, access to resources, and determining gender identity. This study also explores how gender differences impact the rights, opportunities and powers possessed by individuals and groups in society. The aim of gender discourse is to place men and women in a social framework in which they are both important components of that environment, rather than simply trying to understand them independently. Sometimes, considerations of socioeconomic class, ethnic differences, skin color differences, and religious differences contribute to the problem of social injustice in society. However, gradually this problem can be resolved with the birth of the General Declaration of Human Rights (UDHR) which guarantees many factors related -these factors. Then it is different with differences in sex or gender which are still considered unfinished. Problems regarding these differences do not only occur in underdeveloped and developing countries, but are also still one of the issues that are still being discussed in developed countries.
CAKRAWALA PARADIGMA : TRANSFORMASI KEBUDAYAAN DARI MODERNISME HINGGA POSTMODERNISME Rahmat Zulfikar Hamid; Dimas Aryo Sumili
ALLIRI Journal of Anthropology Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 No.2 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKebudayaan merujuk pada inti atau substansi yang melekat dalam suatu kebudayaan. Ini mencakup nilai-nilai, norma, kepercayaan, tradisi, pengetahuan, simbol, dan praktik yang melekat dalam suatu kelompok masyarakat. Esensi kebudayaan mencerminkan identitas dan karakteristik unik suatu kelompok masyarakat, dan menjadi landasan bagi interaksi sosial, pola pikir, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.Transformasi kebudayaan dari modernisme hingga postmodernisme adalah perjalanan panjang yang melibatkan pergeseran signifikan dalam pemahaman dan pengalaman manusia terhadap dunia di sekitarnya. Modernisme, sebagai gerakan intelektual dan budaya yang berkembang pada abad ke-20, menekankan pada rasionalitas, ilmu pengetahuan, dan kemajuan teknologi. Namun, perkembangan ini juga menghasilkan kritik terhadap homogenitas, alienasi, dan dominasi dalam masyarakat.Dalam era postmodernisme, terjadi penolakan terhadap keyakinan absolut dan narasi tunggal yang menguasai modernisme. Postmodernisme menekankan pada pluralitas, fragmentasi, dan pengakuan akan perbedaan serta kompleksitas dalam budaya dan identitas manusia. Transformasi ini mengubah cara kita memahami seni, sastra, arsitektur, dan bahkan cara kita berinteraksi dengan teknologi dan media. Dalam proses transformasi ini, munculnya gagasan-gagasan baru, seperti dekonstruksi, identitas hibrida, dan simulasi, telah mengguncang fondasi pemikiran tradisional dan mengundang refleksi kritis terhadap paradigma yang ada. Perubahan ini juga memicu perdebatan tentang makna kebenaran, otoritas, dan nilai-nilai dalam kehidupan kita sehari-hari.Melalui pemahaman yang lebih dalam tentang transformasi kebudayaan dari modernisme hingga postmodernisme, diharapkan kita dapat mengapresiasi keragaman, kompleksitas, dan kontradiksi dalam kehidupan kontemporer. 
Menelaah Fenomena Pendidikan Luar Sekolah dalam Ilmu Antropologi: Kajian Kritis Enkulturasi, Kekuasaan, dan Proses Pelestarian Budaya Rahmat Zulfikar Hamid; Nurbaeti Nurbaeti; Muh Kasim; Alwi Usra Usman
Haumeni Journal of Education Vol 5 No 3 (2025): Edisi Desember 2025
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/haumeni.v5i3.26726

Abstract

The urgency of studying Non-Formal Education arises from the pressures of modernization and digital disruption, which threaten the preservation of local knowledge. Its relevance lies in understanding the role of Non-Formal Education as a last bastion for enculturation and identity formation amid cultural erosion. This article aims to critically examine it from an anthropological perspective, analyzing the dynamics of enculturation, manifestations of power, and its role in cultural preservation. This qualitative research with an interpretive ethnographic approach uses participant observation and in-depth interviews in indigenous communities, with inductive data analysis. The main findings show that enculturation is a negotiated and selective process driven by youth. However, the presence of asymmetrical power relations, including senior hegemony and gender difference marginalization, results in structural inequalities. Overall, this research was conducted to contribute to Critical Educational Anthropology by presenting a diagnostic model that collaborates power and agency into a framework referred to as enculturation. This conclusion shows that the success of cultural preservation depends on the transformation of out-of-school education into a system that is more inclusive and dialogical for everyone. It is highly recommended that further studies use a mixed-methods approach to measure findings on this phenomenon.
MENEMBUS KOMPLEKSITAS ZAMAN: PERAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI DALAM MEMAHAMI MASYARAKAT MODERN Alwi Usra Usman; Indriani Indriani; Muhammad Kasim; Rahmat Zulfikar Hamid; Eman Wahyudi Kasim
Social Landscape Journal Vol 7, No 1 (2026): March
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56680/slj.v7i1.82318

Abstract

Modernization is a multidimensional phenomenon that brings rapid and complex social, cultural, and structural changes to modern society. This process not only brings progress in technology and industrialization, but also raises various social challenges such as urbanization, shifting values, changes in family structure, weakening social solidarity, and transformations in religious and cultural relations. Therefore, understanding modern society requires a comprehensive and multidisciplinary scientific approach. This study aims to analyze the role of sociology and anthropology in understanding the dynamics of modern society and their contributions in responding to the challenges of modernity. The research method used is descriptive qualitative with a literature study approach, utilizing secondary data sourced from relevant books and scientific journal articles. The results of the study show that sociology plays an important role in analyzing changes in social structure, social movements, contemporary issues, and the impact of technology and social media on social relations. Meanwhile, anthropology provides a deep understanding of cultural identity, multiculturalism, acculturation, symbols and meanings of popular culture, as well as the application of applied anthropology in modern society. The collaboration between sociology and anthropology allows for a more complete understanding of socio-cultural realities, especially in the context of Muslim communities in Indonesia. Thus, the integration of these two disciplines becomes a strategic analytical framework in formulating inclusive social policies, maintaining cultural diversity, and building social harmony amid the ever-evolving tide of modernization.
Makna Simbolik Satu Tungku Tiga Batu dalam Perspektif Pendidikan Budaya: Studi Arsitektur Masjid Pattimburak Fakfak Eman Wahyudi Kasim; Wa Mirna; Nurwahidin Nurwahidin; Rahmat Zulfikar Hamid
EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 5 No. 3 (2025): Oktober 2025 - Januari 2026
Publisher : Association of Islamic Education Managers (Permapendis) Indonesia, North Sumatra Province

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/edu.v5i3.2550

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolik kearifan lokal Satu Tungku Tiga Batu dalam perspektif pendidikan budaya yang terepresentasi pada arsitektur Masjid Pattimburak di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan pencatatan lapangan yang dilakukan di Kampung Pattimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filosofi Satu Tungku Tiga Batu dipahami masyarakat Fakfak sebagai sistem nilai budaya yang mengajarkan kebersamaan, persaudaraan, dan integrasi sosial lintas perbedaan agama. Konsep ini dimaknai sebagai simbol tiga agama besar, yaitu Islam, Kristen Protestan, dan Katolik, yang menjadi penopang keharmonisan kehidupan keluarga dan masyarakat. Makna simbolik tersebut tercermin secara nyata dalam arsitektur Masjid Pattimburak yang memadukan unsur bangunan masjid dan gereja, sehingga merepresentasikan nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Dalam perspektif pendidikan budaya, arsitektur Masjid Pattimburak berfungsi sebagai media pembelajaran kontekstual yang mentransmisikan nilai-nilai kearifan lokal, moderasi beragama, dan pendidikan multikultural kepada masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa kearifan lokal Satu Tungku Tiga Batu tidak hanya berperan sebagai identitas budaya, tetapi juga sebagai sumber nilai pendidikan yang relevan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis dan damai.
Pemanfaatan Lingkungan Sekitar sebagai Sumber Belajar Kontekstual di Sekolah Dasar Dita Afianti; Lisa Sutami Suharlan; Rahmat Zulfikar Hamid
Haumeni Journal of Education Vol 5 No 3 (2025): Edisi Desember 2025
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/haumeni.v5i3.27261

Abstract

Proses pembelajaran di tingkat Sekolah Dasar (SD) perlu dirancang secara kontekstual agar siswa mampu mengaitkan materi dengan pengalaman dan kehidupan sehari-hari. Lingkungan sekitar merupakan sumber belajar yang dekat, nyata, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan siswa sekolah dasar. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar kontekstual memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar langsung melalui kegiatan pengamatan, diskusi, dan refleksi terhadap fenomena di sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar kontekstual di sekolah dasar serta menelaah dampaknya terhadap siswa setelah diterapkan dalam pembelajaran IPAS. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang mencakup pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar kontekstual mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sekaligus menghasilkan capaian belajar yang berada pada kategori baik.