Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

TRADISI ANYORONG LOPPI DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER MASYARAKAT PESISIR DI KECAMATAN BONTOTIRO KABUPATEN BULUKUMBA Hamid, Rahmat Zulfikar; Manda, Darman; Patahuddin, Patahuddin; Najamuddin, Najamuddin; Kasim, Eman Wahyudi
Journal Peqguruang: Conference Series Vol 6, No 1 (2024): Peqguruang, Volume 6 Nomor 1 Mei 2024
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jp.v6i1.5043

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan menggunakan metode wawancara dan pengamatan serta terliba langsung dalam tradisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tradisi Anyorong Loppi dalam  pembentukan karakter bagi masyarakat pesisir di kecamatan Bontotiro Kabupaten Bulukumba. Karakter amat sangat penting, terkhusus dalam pembentukan pribadi seseorang agar bermoral, berakhlak mulia, tanggung jawab dan berprilaku baik.Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif Deskriptif. Subjek penelitian adalah masyarakat seperti remaja, masyarakat, pemuda, Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Makna Simbolik Tradisi Anyorong Loppi bagi masyarakat, (2)Pelaksanaan Tradisi Anyorong Loppi bagi Masyarakat, (3)Nila-niai Tradisi Anyorong lopi dalam pembentukan karakter Masyarakat Pesisir di kecamatan Bontotiro Kabupaten Bulukumba Pembentukan karakter pada Anyorong Loppi terdiri dari: Nilai religius, nilai sosial, nilai toleransi dan nilai gotong royong. Proses pengembangan karakter pada masyarakat adanya kebersamaan, perkumpullan sehingga adanya interaksi.(4) Demikian pula, Adapun yang menjadi faktor determinan yang mempengaruhi terjadinya pembentukan karakter masyarakat dalam Tradisi Anyorong Loppi  seperti factor letak geografis dan faktor keluarga.
GENDER : MENELAAH KEADILAN DAN KESETARAAN DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI Hamid, Rahmat Zulfikar; Agustang, Andi; Idrus, Idham Irwansyah
Journal Peqguruang: Conference Series Vol 5, No 1 (2023): Vol 5, No 1 (2023): Peqguruang, Volume 5, No.1, Mei 2023
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jp.v5i1.4043

Abstract

This paper discusses gender discourse, building justice and equality from an anthropological perspective. In critical studies, anthropology views that there are socio-cultural influences in building equality and justice in a multicultural society like in Indonesia. Gender itself is the behavior or division of roles between men and women that has been constructed or formed in the social environment. The anthropological approach views that gender differences are social constructions that are formed through social and cultural processes. In gender studies, researchers examine various social and cultural phenomena related to gender such as the distribution of gender roles, access to resources, and determining gender identity. This study also explores how gender differences impact the rights, opportunities and powers possessed by individuals and groups in society. The aim of gender discourse is to place men and women in a social framework in which they are both important components of that environment, rather than simply trying to understand them independently. Sometimes, considerations of socioeconomic class, ethnic differences, skin color differences, and religious differences contribute to the problem of social injustice in society. However, gradually this problem can be resolved with the birth of the General Declaration of Human Rights (UDHR) which guarantees many factors related -these factors. Then it is different with differences in sex or gender which are still considered unfinished. Problems regarding these differences do not only occur in underdeveloped and developing countries, but are also still one of the issues that are still being discussed in developed countries.
CAKRAWALA PARADIGMA : TRANSFORMASI KEBUDAYAAN DARI MODERNISME HINGGA POSTMODERNISME Rahmat Zulfikar Hamid; Dimas Aryo Sumili
ALLIRI Journal of Anthropology Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 No.2 Desember 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKebudayaan merujuk pada inti atau substansi yang melekat dalam suatu kebudayaan. Ini mencakup nilai-nilai, norma, kepercayaan, tradisi, pengetahuan, simbol, dan praktik yang melekat dalam suatu kelompok masyarakat. Esensi kebudayaan mencerminkan identitas dan karakteristik unik suatu kelompok masyarakat, dan menjadi landasan bagi interaksi sosial, pola pikir, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.Transformasi kebudayaan dari modernisme hingga postmodernisme adalah perjalanan panjang yang melibatkan pergeseran signifikan dalam pemahaman dan pengalaman manusia terhadap dunia di sekitarnya. Modernisme, sebagai gerakan intelektual dan budaya yang berkembang pada abad ke-20, menekankan pada rasionalitas, ilmu pengetahuan, dan kemajuan teknologi. Namun, perkembangan ini juga menghasilkan kritik terhadap homogenitas, alienasi, dan dominasi dalam masyarakat.Dalam era postmodernisme, terjadi penolakan terhadap keyakinan absolut dan narasi tunggal yang menguasai modernisme. Postmodernisme menekankan pada pluralitas, fragmentasi, dan pengakuan akan perbedaan serta kompleksitas dalam budaya dan identitas manusia. Transformasi ini mengubah cara kita memahami seni, sastra, arsitektur, dan bahkan cara kita berinteraksi dengan teknologi dan media. Dalam proses transformasi ini, munculnya gagasan-gagasan baru, seperti dekonstruksi, identitas hibrida, dan simulasi, telah mengguncang fondasi pemikiran tradisional dan mengundang refleksi kritis terhadap paradigma yang ada. Perubahan ini juga memicu perdebatan tentang makna kebenaran, otoritas, dan nilai-nilai dalam kehidupan kita sehari-hari.Melalui pemahaman yang lebih dalam tentang transformasi kebudayaan dari modernisme hingga postmodernisme, diharapkan kita dapat mengapresiasi keragaman, kompleksitas, dan kontradiksi dalam kehidupan kontemporer. 
Menelaah Fenomena Pendidikan Luar Sekolah dalam Ilmu Antropologi: Kajian Kritis Enkulturasi, Kekuasaan, dan Proses Pelestarian Budaya Rahmat Zulfikar Hamid; Nurbaeti Nurbaeti; Muh Kasim; Alwi Usra Usman
Haumeni Journal of Education Vol 5 No 3 (2025): Edisi Desember 2025
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/haumeni.v5i3.26726

Abstract

The urgency of studying Non-Formal Education arises from the pressures of modernization and digital disruption, which threaten the preservation of local knowledge. Its relevance lies in understanding the role of Non-Formal Education as a last bastion for enculturation and identity formation amid cultural erosion. This article aims to critically examine it from an anthropological perspective, analyzing the dynamics of enculturation, manifestations of power, and its role in cultural preservation. This qualitative research with an interpretive ethnographic approach uses participant observation and in-depth interviews in indigenous communities, with inductive data analysis. The main findings show that enculturation is a negotiated and selective process driven by youth. However, the presence of asymmetrical power relations, including senior hegemony and gender difference marginalization, results in structural inequalities. Overall, this research was conducted to contribute to Critical Educational Anthropology by presenting a diagnostic model that collaborates power and agency into a framework referred to as enculturation. This conclusion shows that the success of cultural preservation depends on the transformation of out-of-school education into a system that is more inclusive and dialogical for everyone. It is highly recommended that further studies use a mixed-methods approach to measure findings on this phenomenon.