Kesenjangan sosial ekonomi merepresentasikan tantangan struktural persisten dalam pembangunan perkotaan Indonesia, di mana akselerasi pertumbuhan ekonomi tidak berbanding lurus dengan distribusi kesejahteraan yang ekuitable. Koefisien Gini Pekanbaru mencapai 0,392 pada tahun 2023, mengindikasikan ketimpangan distributif yang substansial. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dinamika kesenjangan di Kelurahan Simpang Baru melalui investigasi mendalam terhadap bentuk stratifikasi, determinan pembentuk, manifestasi empiris, serta implikasi sosial yang ditimbulkan. Metodologi kualitatif dengan pendekatan studi kasus diimplementasikan, mengintegrasikan triangulasi data melalui wawancara mendalam dengan purposive sampling, observasi partisipatif, dan studi dokumenter. Analisis dilakukan secara sistematis melalui kondensasi data, presentasi naratif, hingga verifikasi temuan dengan kerangka teoretis stratifikasi sosial. Temuan mengidentifikasi tiga strata ekonomi dengan karakteristik distingtif, dibentuk oleh disparitas kepemilikan aset produktif, ketimpangan akses pendidikan, segmentasi pasar kerja, dan gentrifikasi properti. Kesenjangan termanifestasi dalam diferensiasi kualitas hunian, aksesibilitas layanan kesehatan, dan peluang pendidikan, mengakibatkan reproduksi kemiskinan intergenerasi dan erosi kohesi sosial. Riset ini menghasilkan rekomendasi kebijakan holistik multidimensional berbasis keadilan spasial untuk mencapai pertumbuhan inklusif dan pemerataan kesejahteraan berkelanjutan.