Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Rekonsiliasi Tradisi Islam dan Sains Modern M. Abdullah Viki; Maftukhin; M. Ilham Fikron; Sayyid Abdullah; Ach. Taufiq; Asnawan
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/cxz0pf38

Abstract

Diskursus mengenai relasi antara tradisi Islam dan sains modern hingga kini masih diwarnai oleh pandangan dikotomis yang memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Sains modern kerap diposisikan sebagai sistem pengetahuan yang netral dan bebas nilai, sementara agama dipahami sebatas ranah spiritual dan ritual. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya rekonsiliasi antara tradisi Islam dan sains modern sebagai upaya membangun paradigma keilmuan integratif yang berorientasi pada kemanusiaan dan keberlanjutan peradaban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research), melalui penelaahan kritis terhadap sumber-sumber primer dan sekunder berupa Al-Qur’an, hadis, karya ulama klasik dan kontemporer, serta literatur filsafat dan sains modern. Analisis dilakukan dengan pendekatan epistemologis dan filosofis untuk mengkaji integrasi wahyu (naql), akal (‘aql), dan pengalaman empiris (tajribah) dalam tradisi keilmuan Islam, sekaligus mengkritisi asumsi filosofis sains modern yang cenderung positivistik dan sekular. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi Islam memiliki kerangka epistemologi yang komprehensif dan terbuka terhadap pengembangan sains, selama tetap berlandaskan nilai etika, spiritualitas, dan tujuan kemaslahatan. Rekonsiliasi ini tidak hanya relevan bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pendidikan Islam yang holistik dan integratif. Dengan demikian, rekonsiliasi tradisi Islam dan sains modern merupakan kontribusi strategis bagi peradaban global dalam merespons krisis modernitas yang bersifat materialistik dan dehumanistik. Abstrak Discourse on the relationship between Islamic tradition and modern science remains characterized by a dichotomous view that separates religious knowledge from general knowledge. Modern science is often positioned as a neutral and value-free system of knowledge, while religion is understood solely as a spiritual and ritualistic realm. This article aims to analyze the importance of reconciling Islamic tradition and modern science as an effort to build an integrative scientific paradigm oriented toward humanity and the sustainability of civilization. This research uses a qualitative approach with library research methods, through a critical review of primary and secondary sources, including the Quran, hadith, works of classical and contemporary scholars, and modern philosophical and scientific literature. The analysis utilizes an epistemological and philosophical approach to examine the integration of revelation (naql), reason (‘aql), and empirical experience (tajribah) within the Islamic scientific tradition, while simultaneously critiquing the philosophical assumptions of modern science, which tend to be positivistic and secular. The results demonstrate that the Islamic tradition possesses a comprehensive epistemological framework that is open to the development of science, as long as it remains grounded in ethical values, spirituality, and the goal of public welfare. This reconciliation is not only relevant for the development of science but also serves as a crucial foundation for building a holistic and integrative Islamic education system. Thus, the reconciliation of Islamic tradition and modern science is a strategic contribution to global civilization in responding to the materialistic and dehumanizing crises of modernity.
Perilaku Peserta Didik Dalam Lembaga Pendidikan Islam Ahmad Salim Ulul Albaab; Titin Nurhidayati; M. Ilham Fikron; Mohammad Futuh Muafi; M abdullah viki; Sayyid Abdullah
Al-Abshor : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Pendidikan Agama Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/96qxfk38

Abstract

Student behavior is a key indicator of the success of the educational process, particularly in Islamic educational institutions based on the values ​​of the Qur'an and Sunnah. From the perspective of Islamic educational psychology, student behavior is not understood solely as an outward response, but rather as a manifestation of the integration of human innate potential, the educational process undertaken, and the influence of the social and spiritual environment. Every student inherently possesses an innate desire for good deeds, which needs to be guided and developed through holistic and continuous education. Islamic educational psychology views student behavior as influenced by various factors, both internal and external. Internal factors include the student's faith, motivation, psychological readiness, and spiritual awareness. Meanwhile, external factors include the role of educators, the family environment, school culture, and the educational methods applied. In Islamic educational institutions, educators hold a strategic position as role models (uswah hasanah) who not only transfer knowledge but also instill values ​​and guide the formation of morals. A religious and conducive educational environment plays a significant role in shaping student behavior. Through the practice of worship, discipline, and social interaction based on Islamic values, students are trained to internalize religious teachings in their daily lives. Consistent and sustainable habituation methods are an effective means of shaping positive character and behavior. The literature review indicates that the internalization of spiritual values, the role models of educators, and the religious culture of educational institutions are dominant factors in shaping student behavior. Thus, Islamic education plays a strategic role in producing a generation of faith, noble character, discipline, and responsibility, in line with the primary goals of Islamic education itself. Abstrak Perilaku peserta didik merupakan indikator utama keberhasilan proses pendidikan, terutama dalam lembaga pendidikan Islam yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam perspektif psikologi pendidikan Islam, perilaku peserta didik tidak dipahami semata-mata sebagai respons lahiriah, melainkan sebagai manifestasi integrasi antara potensi fitrah manusia, proses pendidikan yang dijalani, serta pengaruh lingkungan sosial dan spiritual. Setiap peserta didik pada dasarnya memiliki fitrah untuk berbuat baik, yang perlu diarahkan dan dikembangkan melalui pendidikan yang holistik dan berkesinambungan. Pendidikan psikologi Islam memandang bahwa perilaku peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi keimanan, motivasi, kesiapan psikologis, dan kesadaran spiritual peserta didik. Sementara itu, faktor eksternal mencakup peran pendidik, lingkungan keluarga, budaya sekolah, serta metode pendidikan yang diterapkan. Dalam lembaga pendidikan Islam, pendidik memiliki posisi strategis sebagai teladan (uswah hasanah) yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai dan membimbing pembentukan akhlak. Lingkungan pendidikan yang religius dan kondusif turut berperan besar dalam membentuk perilaku peserta didik. Melalui pembiasaan ibadah, disiplin, serta interaksi sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam, peserta didik dilatih untuk menginternalisasi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Metode pembiasaan yang konsisten dan berkelanjutan menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter dan perilaku positif. Hasil kajian pustaka menunjukkan bahwa internalisasi nilai spiritual, keteladanan pendidik, dan budaya religius lembaga pendidikan merupakan faktor dominan dalam membentuk perilaku peserta didik. Dengan demikian, pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi yang beriman, berakhlak mulia, disiplin, dan bertanggung jawab, sejalan dengan tujuan utama pendidikan Islam itu sendiri.
Dialektika Universalisme Dan Partikularisme Dalam Islam Perspektif Pendidikan Agama Islam M Abdullah Viki; Sayyid Abdullah; Muhammad Hori
Al-Abshor : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Pendidikan Agama Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/06e2sc23

Abstract

The dialectic of universalism and particularism in Islam is a crucial issue in contemporary Islamic studies, particularly in the context of Islamic Religious Education (PAI), which faces the realities of a pluralistic and dynamic society. Islam embodies universal values ​​that transcend time and space, such as monotheism, justice, humanity, compassion, and the common good. However, in practice, Islamic teachings constantly interact with social, cultural, and historical contexts, giving rise to a variety of particular religious expressions. This study aims to analyze the dialectic between universalism and particularism in Islam and its implications for the development of the Islamic Religious Education paradigm. This study employed a qualitative approach with library research. Data sources were obtained from the Qur'an, Hadith, and the works of classical and contemporary Islamic scholars and thinkers relevant to the themes of universalism, particularism, and Islamic education. Data analysis was conducted descriptively and analytically using an interactive analysis model, encompassing data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The study's findings indicate that universalism and particularism in Islam are not contradictory concepts, but rather dialectical and complementary. Universalism serves as the foundation for the values ​​and fundamental principles of Islamic teachings, while particularism provides a contextual framework for applying these values ​​to the social realities of students. From the perspective of Islamic Religious Education, this dialectic demands a critical, reflective, and dialogical pedagogical approach so that Islamic Religious Education (PAI) serves not only as a means of transferring knowledge but also as a process for developing a mature, moderate, and civilized religious awareness. Thus, Islamic Religious Education is expected to produce a generation of Muslims who are ritually devout, socially sensitive, tolerant, and committed to universal human values ​​in a pluralistic society. Abstrak Dialektika universalisme dan partikularisme dalam Islam merupakan isu penting dalam kajian keislaman kontemporer, terutama dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dihadapkan pada realitas masyarakat yang plural dan dinamis. Islam membawa nilai-nilai universal yang bersifat lintas ruang dan waktu, seperti tauhid, keadilan, kemanusiaan, kasih sayang, dan kemaslahatan. Namun, dalam praktiknya, ajaran Islam selalu berinteraksi dengan konteks sosial, budaya, dan historis yang melahirkan beragam ekspresi keagamaan yang bersifat partikular. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dialektika antara universalisme dan partikularisme dalam Islam serta implikasinya terhadap pengembangan paradigma Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber data diperoleh dari Al-Qur’an, Hadis, serta karya-karya ulama dan pemikir Islam klasik dan kontemporer yang relevan dengan tema universalisme, partikularisme, dan pendidikan Islam. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menggunakan model analisis interaktif, meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa universalisme dan partikularisme dalam Islam bukanlah dua konsep yang saling bertentangan, melainkan bersifat dialektis dan saling melengkapi. Universalisme berfungsi sebagai landasan nilai dan prinsip dasar ajaran Islam, sementara partikularisme menjadi ruang kontekstualisasi dalam penerapan nilai-nilai tersebut sesuai dengan realitas sosial peserta didik. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, dialektika ini menuntut pendekatan pedagogis yang kritis, reflektif, dan dialogis agar PAI tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan kesadaran keagamaan yang dewasa, moderat, dan berkeadaban. Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu melahirkan generasi Muslim yang taat secara ritual, memiliki kepekaan sosial, bersikap toleran, serta berkomitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal di tengah kehidupan masyarakat yang plural.