Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Latar Belakang Pemikiran dan Kiprah Seyyed Hossein Nasr Titin Nurhidayati
FALASIFA : Jurnal Studi Keislaman Vol 10 No 2 (2019): SEPTEMBER
Publisher : STAIFAS-Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.444 KB) | DOI: 10.36835/falasifa.v10i2.202

Abstract

Seyyed Hossein Nasr is one of the Muslims who has expertise in the field of Islamic studies that penetrates scientific barriers to explore Islam as an objective and honest study. His reputation as Professor in the study of the history of science and philosophy shows the depth and sharpness of his thinking. Seyyed Hossein Nasr gave many criticisms of the reality of modern humans today from various aspects. One focus of his criticism is the problem of the phenomenon of modern art which is developing rapidly to all parts of society, including Islamic society. Nasr is also one of the spokespersons of Islam in the West who has been persistent in voicing traditionalism ideas to fortify the flow of modernization that has damaged the joints of the noble traditions of society, especially Islam.
Implikasi Hijab Terhadap Pendidikan Akhlaq Titin Nurhidayati; M Nafiur Rofiq
FALASIFA : Jurnal Studi Keislaman Vol 11 No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : STAIFAS-Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/falasifa.v11i2.449

Abstract

In the development of science and technology, especially information technology, it is not followed in the field of morals. The world is getting more advanced, but on the other hand, humans are increasingly backward. Man succeeded in achieving his goals in the world, but he failed to think about his fate in the hereafter. The fall of a nation and state in any age has never occurred due to an intellectual crisis, but generally due to a moral crisis. A country no matter how poor and backward it is can still be guaranteed to survive, if the morals of the implementers of the State and its people are not damaged. Morals have a very important role in determining life and relationships. The phenomenon of using the hijab today has shifted its meaning, so that the hijab is not only a cover for aurat according to Islamic law, but now it has become a fashion for some Muslim women to impress or present a religious atmosphere in the life they live.
KECERDASAN DALAM PANDANGAN ISLAM Wirdatul Hasanah; Siti Muthiatun Najiyah; Siti Aminah; Suniati; Diah Ainun Khafidloh; Titin Nurhidayati
AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin Vol. 2 No. 12 (2025): At-Taklim: Jurnal Pendidikan Multidisiplin (Edisi Desember)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/at-taklim.v2i12.1305

Abstract

Intelligence is a gift from Allah SWT that distinguishes humans from other creatures. In Islam, intelligence is not limited to intellectual ability but also includes spiritual, emotional, and moral aspects. Islam views intelligence as a means to know Allah SWT, understand His creations, and fulfill human responsibilities as khalifah (stewards) on earth. This paper aims to examine the concept of intelligence in Islam, its types, and the role of intelligence in shaping faithful and moral individuals.
Perilaku Dalam Pendidikan Islam Abdus Salam; Achmad Taufiq; Mukhlasin; Muhammad Tis Asuh Shobirin; Titin Nurhidayati
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/zerbdc08

Abstract

Behavior in Islamic education is a fundamental aspect that lies at the core of the entire educational process. Islamic education is not solely oriented toward the transfer of religious knowledge, but rather emphasizes the formation of noble behavior and morals as a manifestation of faith and knowledge internalized within students. Behavior is understood as a primary indicator of the success of Islamic education, as it is through behavior that the values ​​of Islamic teachings are concretely realized in daily life. This study aims to analyze the concept of behavior in Islamic education and its urgency in developing individuals with faith, knowledge, and noble character. Islamic education views behavior as the result of an integration of cognitive, affective, and psychomotor aspects developed through learning processes, role models, habituation, and a valuable educational environment. Therefore, behavior is positioned not only as the end result of education but also as an integral part of the educational process itself. The study's findings indicate that effective Islamic education is one that is able to transform Islamic values ​​from the realm of texts into real-life contexts. Conscious, consistent, and responsible development of Islamic behavior contributes directly to the formation of individuals with integrity and to the realization of a just, harmonious, and civilized social order. Thus, placing behavior at the heart of Islamic education reaffirms the essence of Islamic education as a process of developing complete human beings (insān kāmil) who are not only intellectually intelligent but also morally just, and oriented toward the welfare of humanity and the sustainability of civilization.  Abstrak Perilaku dalam pendidikan Islam merupakan aspek fundamental yang menjadi inti dari seluruh proses pendidikan. Pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan keagamaan, tetapi lebih menekankan pada pembentukan perilaku dan akhlak mulia sebagai manifestasi dari iman dan ilmu yang terinternalisasi dalam diri peserta didik. Perilaku dipahami sebagai indikator utama keberhasilan pendidikan Islam, karena melalui perilakulah nilai-nilai ajaran Islam terwujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis konsep perilaku dalam pendidikan Islam serta urgensinya dalam membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Pendidikan Islam memandang perilaku sebagai hasil integrasi antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dibangun melalui proses pembelajaran, keteladanan, pembiasaan, dan lingkungan pendidikan yang bernilai. Oleh karena itu, perilaku tidak hanya diposisikan sebagai hasil akhir pendidikan, tetapi juga sebagai bagian integral dari proses pendidikan itu sendiri. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan Islam yang efektif adalah pendidikan yang mampu mentransformasikan nilai-nilai Islam dari ranah teks ke dalam konteks kehidupan nyata. Pembinaan perilaku islami secara sadar, konsisten, dan bertanggung jawab berkontribusi langsung pada pembentukan individu yang berintegritas serta pada terwujudnya tatanan sosial yang adil, harmonis, dan beradab. Dengan demikian, menempatkan perilaku sebagai jantung pendidikan Islam menegaskan kembali hakikat pendidikan Islam sebagai proses pembentukan manusia paripurna (insān kāmil) yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bermoral, berkeadilan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat manusia serta keberlanjutan peradaban
Analisis Fungsi Al-Quwwah Al-Alimah (Daya Mengetahui) dalam Membentuk Karakter Ulul Albab: Studi Tokoh Al-Ghazali Husen, Husen; Taufiq, Ahmad; Muzammil; Iwan Fikri; Titin Nurhidayati
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 1 (2025): Sirajuddin Desember 2025
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i1.2551

Abstract

Abstrak ini menganalisis fungsi al-quwwah al-‘ālimah (daya mengetahui) dalam pembentukan karakter ulul albab berdasarkan pemikiran Al-Ghazali. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana struktur daya mengetahui dalam jiwa menurut Al-Ghazali dapat menjadi landasan konseptual bagi pembentukan sosok ulul albab yang berimbang secara intelektual, spiritual, dan moral. Latar belakang kajian ini bertumpu pada kebutuhan pendidikan Islam kontemporer untuk melahirkan manusia berkarakter ulul albab, yaitu sosok yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan wawasan ilmu, dan kematangan akhlak di tengah krisis moral modern. Pemikiran Al-Ghazali diposisikan sebagai kerangka klasik yang relevan, karena ia merumuskan struktur jiwa dan sumber-sumber ilmu (indra, akal, dan ilham) secara sistematis serta mengaitkannya dengan tujuan pendidikan, yakni kebahagiaan dunia–akhirat melalui tazkiyatun nafs dan pembentukan akhlak mulia. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan historis-filosofis terhadap karya-karya utama Al-Ghazali, seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din, al-Munqidz min al-Dhalal, dan tulisan-tulisan tentang jiwa dan akal, yang kemudian didialogkan dengan literatur tentang ulul albab dan pendidikan karakter. Data dianalisis melalui langkah pengumpulan, klasifikasi, dan interpretasi konsep-konsep kunci tentang al-quwwah al-‘ālimah serta karakter ulul albab, sehingga tampak hubungan fungsional antara struktur daya mengetahui dan pembentukan kepribadian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-quwwah al-‘ālimah pada Al-Ghazali, yang mencakup akal teoretis, praktis, dan keterbukaan pada ilham, berfungsi sebagai pusat pengolahan pengetahuan yang mengarahkan kehendak dan perilaku moral. Ketika daya mengetahui ini dibina melalui kombinasi dzikr, fikr, dan amal saleh sebagaimana karakter ulul albab dalam Al-Qur’an, ia melahirkan pribadi yang kokoh akidah, tajam nalar, lembut spiritualitas, serta berakhlak mulia dalam perilaku sosial. kesimpulannya, integrasi konsep al-quwwah al-‘ālimah Al-Ghazali dengan ideal ulul albab menyediakan landasan teoritis yang kuat bagi desain pendidikan karakter Islam yang holistik. Penguatan daya mengetahui bukan hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada dimensi spiritual dan etis, dipandang strategis untuk membentuk generasi ulul albab yang mampu merespons tantangan zaman tanpa kehilangan orientasi tauhid dan akhlak
ANALISIS KONSEPTUAL FUNGSI JIWA PERASAAN (EMOSI) DALAM PENGUATAN FUNGSI BELAJAR PERSPEKTIF PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM Su’udi; Titin Nurhidayati; Ahmad Sidik; Yuningsih Kristiningrum; Faroha Amalia Husna; Saiful Anwar
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 1 (2025): Sirajuddin Desember 2025
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i1.2554

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis secara konseptual fungsi jiwa perasaan (emosi) dalam penguatan fungsi belajar peserta didik dalam perspektif Psikologi Pendidikan Islam. Pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan digunakan untuk menelaah literatur terkait konsep perasaan dan emosi, proses belajar, serta prinsip-prinsip psikologi Islam yang relevan. Temuan menunjukkan bahwa emosi memiliki peran fundamental dalam memengaruhi motivasi, perhatian, interaksi sosial, dan hasil belajar peserta didik. Dalam perspektif Islam, pengelolaan emosi berkaitan erat dengan tazkiyatun nafs, penguatan akhlak, dan pembentukan karakter melalui nilai-nilai seperti ṣabr, tawakkul, syukur, dan muraqabah. Integrasi nilai-nilai tersebut dalam proses pembelajaran Pendidikan Islam dapat menciptakan suasana belajar yang positif, kondusif, dan bermakna sehingga mendorong keterlibatan kognitif dan spiritual peserta didik. Artikel ini menyimpulkan bahwa fungsi jiwa perasaan yang dikelola secara islami berperan strategis dalam penguatan fungsi belajar, serta mengusulkan perlunya desain pembelajaran yang secara sadar mengembangkan regulasi emosi berbasis nilai-nilai Islam
Perilaku Peserta Didik Dalam Lembaga Pendidikan Islam Ahmad Salim Ulul Albaab; Titin Nurhidayati; M. Ilham Fikron; Mohammad Futuh Muafi; M abdullah viki; Sayyid Abdullah
Al-Abshor : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Pendidikan Agama Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/96qxfk38

Abstract

Student behavior is a key indicator of the success of the educational process, particularly in Islamic educational institutions based on the values ​​of the Qur'an and Sunnah. From the perspective of Islamic educational psychology, student behavior is not understood solely as an outward response, but rather as a manifestation of the integration of human innate potential, the educational process undertaken, and the influence of the social and spiritual environment. Every student inherently possesses an innate desire for good deeds, which needs to be guided and developed through holistic and continuous education. Islamic educational psychology views student behavior as influenced by various factors, both internal and external. Internal factors include the student's faith, motivation, psychological readiness, and spiritual awareness. Meanwhile, external factors include the role of educators, the family environment, school culture, and the educational methods applied. In Islamic educational institutions, educators hold a strategic position as role models (uswah hasanah) who not only transfer knowledge but also instill values ​​and guide the formation of morals. A religious and conducive educational environment plays a significant role in shaping student behavior. Through the practice of worship, discipline, and social interaction based on Islamic values, students are trained to internalize religious teachings in their daily lives. Consistent and sustainable habituation methods are an effective means of shaping positive character and behavior. The literature review indicates that the internalization of spiritual values, the role models of educators, and the religious culture of educational institutions are dominant factors in shaping student behavior. Thus, Islamic education plays a strategic role in producing a generation of faith, noble character, discipline, and responsibility, in line with the primary goals of Islamic education itself. Abstrak Perilaku peserta didik merupakan indikator utama keberhasilan proses pendidikan, terutama dalam lembaga pendidikan Islam yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam perspektif psikologi pendidikan Islam, perilaku peserta didik tidak dipahami semata-mata sebagai respons lahiriah, melainkan sebagai manifestasi integrasi antara potensi fitrah manusia, proses pendidikan yang dijalani, serta pengaruh lingkungan sosial dan spiritual. Setiap peserta didik pada dasarnya memiliki fitrah untuk berbuat baik, yang perlu diarahkan dan dikembangkan melalui pendidikan yang holistik dan berkesinambungan. Pendidikan psikologi Islam memandang bahwa perilaku peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi keimanan, motivasi, kesiapan psikologis, dan kesadaran spiritual peserta didik. Sementara itu, faktor eksternal mencakup peran pendidik, lingkungan keluarga, budaya sekolah, serta metode pendidikan yang diterapkan. Dalam lembaga pendidikan Islam, pendidik memiliki posisi strategis sebagai teladan (uswah hasanah) yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai dan membimbing pembentukan akhlak. Lingkungan pendidikan yang religius dan kondusif turut berperan besar dalam membentuk perilaku peserta didik. Melalui pembiasaan ibadah, disiplin, serta interaksi sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam, peserta didik dilatih untuk menginternalisasi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Metode pembiasaan yang konsisten dan berkelanjutan menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter dan perilaku positif. Hasil kajian pustaka menunjukkan bahwa internalisasi nilai spiritual, keteladanan pendidik, dan budaya religius lembaga pendidikan merupakan faktor dominan dalam membentuk perilaku peserta didik. Dengan demikian, pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi yang beriman, berakhlak mulia, disiplin, dan bertanggung jawab, sejalan dengan tujuan utama pendidikan Islam itu sendiri.
Analisis Fungsi Al-Quwwah Al-Alimah (Daya Mengetahui) dalam Membentuk Karakter Ulul Albab: Studi Tokoh Al-Ghazali Husen, Husen; Taufiq, Ahmad; Muzammil; Iwan Fikri; Titin Nurhidayati
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 1 (2025): Sirajuddin Desember 2025
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i1.2551

Abstract

Abstrak ini menganalisis fungsi al-quwwah al-‘ālimah (daya mengetahui) dalam pembentukan karakter ulul albab berdasarkan pemikiran Al-Ghazali. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana struktur daya mengetahui dalam jiwa menurut Al-Ghazali dapat menjadi landasan konseptual bagi pembentukan sosok ulul albab yang berimbang secara intelektual, spiritual, dan moral. Latar belakang kajian ini bertumpu pada kebutuhan pendidikan Islam kontemporer untuk melahirkan manusia berkarakter ulul albab, yaitu sosok yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan wawasan ilmu, dan kematangan akhlak di tengah krisis moral modern. Pemikiran Al-Ghazali diposisikan sebagai kerangka klasik yang relevan, karena ia merumuskan struktur jiwa dan sumber-sumber ilmu (indra, akal, dan ilham) secara sistematis serta mengaitkannya dengan tujuan pendidikan, yakni kebahagiaan dunia–akhirat melalui tazkiyatun nafs dan pembentukan akhlak mulia. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan historis-filosofis terhadap karya-karya utama Al-Ghazali, seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din, al-Munqidz min al-Dhalal, dan tulisan-tulisan tentang jiwa dan akal, yang kemudian didialogkan dengan literatur tentang ulul albab dan pendidikan karakter. Data dianalisis melalui langkah pengumpulan, klasifikasi, dan interpretasi konsep-konsep kunci tentang al-quwwah al-‘ālimah serta karakter ulul albab, sehingga tampak hubungan fungsional antara struktur daya mengetahui dan pembentukan kepribadian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-quwwah al-‘ālimah pada Al-Ghazali, yang mencakup akal teoretis, praktis, dan keterbukaan pada ilham, berfungsi sebagai pusat pengolahan pengetahuan yang mengarahkan kehendak dan perilaku moral. Ketika daya mengetahui ini dibina melalui kombinasi dzikr, fikr, dan amal saleh sebagaimana karakter ulul albab dalam Al-Qur’an, ia melahirkan pribadi yang kokoh akidah, tajam nalar, lembut spiritualitas, serta berakhlak mulia dalam perilaku sosial. kesimpulannya, integrasi konsep al-quwwah al-‘ālimah Al-Ghazali dengan ideal ulul albab menyediakan landasan teoritis yang kuat bagi desain pendidikan karakter Islam yang holistik. Penguatan daya mengetahui bukan hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada dimensi spiritual dan etis, dipandang strategis untuk membentuk generasi ulul albab yang mampu merespons tantangan zaman tanpa kehilangan orientasi tauhid dan akhlak
ANALISIS KONSEPTUAL FUNGSI JIWA PERASAAN (EMOSI) DALAM PENGUATAN FUNGSI BELAJAR PERSPEKTIF PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM Su’udi; Titin Nurhidayati; Ahmad Sidik; Yuningsih Kristiningrum; Faroha Amalia Husna; Saiful Anwar
SIRAJUDDIN : Jurnal Penelitian dan Kajian Pendidikan Islam Vol 5 No 1 (2025): Sirajuddin Desember 2025
Publisher : P3M STAI MIFTAHUL ULUM LUMAJANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/sirajuddin.v5i1.2554

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis secara konseptual fungsi jiwa perasaan (emosi) dalam penguatan fungsi belajar peserta didik dalam perspektif Psikologi Pendidikan Islam. Pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan digunakan untuk menelaah literatur terkait konsep perasaan dan emosi, proses belajar, serta prinsip-prinsip psikologi Islam yang relevan. Temuan menunjukkan bahwa emosi memiliki peran fundamental dalam memengaruhi motivasi, perhatian, interaksi sosial, dan hasil belajar peserta didik. Dalam perspektif Islam, pengelolaan emosi berkaitan erat dengan tazkiyatun nafs, penguatan akhlak, dan pembentukan karakter melalui nilai-nilai seperti ṣabr, tawakkul, syukur, dan muraqabah. Integrasi nilai-nilai tersebut dalam proses pembelajaran Pendidikan Islam dapat menciptakan suasana belajar yang positif, kondusif, dan bermakna sehingga mendorong keterlibatan kognitif dan spiritual peserta didik. Artikel ini menyimpulkan bahwa fungsi jiwa perasaan yang dikelola secara islami berperan strategis dalam penguatan fungsi belajar, serta mengusulkan perlunya desain pembelajaran yang secara sadar mengembangkan regulasi emosi berbasis nilai-nilai Islam
MANUNGGALING RASA LAN SYARI’AT : EMOSI DALAM PENDIDIKAN ISLAM TRADISIONAL Muhammad Mahfud; Solihin; Afifatus Sholeha; Sugiyanto; Abd. Hadi; Maksum; Titin Nurhidayati
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Januari 2026) In Press
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i1.1537

Abstract

Pendidikan Islam tradisional tidak hanya menekankan aspek kognitif dan normatif syariat, tetapi juga memberi ruang yang luas bagi pengelolaan emosi (rasa) sebagai bagian integral dari proses pembentukan adab dan karakter peserta didik. Konsep mununggaling rasa lan syariat merepresentasikan kesatuan antara dimensi batiniah dan lahiriah dalam praktik pendidikan Islam yang berakar pada tradisi tasawuf dan budaya Islam Nusantara. Namun, kajian mengenai peran emosi dalam pendidikan Islam tradisional masih relatif kurang mendapat perhatian dalam diskursus akademik modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep dan peran emosi dalam pendidikan Islam tradisional melalui perspektif mununggaling rasa lan syariat, serta menelaah relevansinya terhadap pembentukan karakter dan internalisasi nilai-nilai keislaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis konseptual terhadap literatur klasik Islam, karya-karya tasawuf, serta kajian pendidikan Islam tradisional. Temuan penelitian menunjukkan bahwa emosi dalam pendidikan Islam tradisional berfungsi sebagai medium utama internalisasi syariat, di mana rasa cinta, takut, hormat, dan ikhlas diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dan kepatuhan etis. Integrasi rasa dan syariat terbukti membentuk relasi pedagogis yang humanis dan transformatif antara guru dan murid, sekaligus memperkuat pendidikan adab sebagai fondasi utama pembelajaran. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan dimensi emosional dan spiritual dalam praktik pendidikan Islam kontemporer sebagai upaya menyeimbangkan pendekatan kognitif dengan pembentukan karakter dan kesadaran moral peserta didik.