Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan tinjauan komprehensif mengenai penyakit ginjal kronik dengan etiologi tidak diketahui atau chronic kidney disease of unknown etiology (CKDu) pada populasi petani di Asia, dengan penekanan pada karakteristik epidemiologis, faktor risiko multifaktorial, serta potensi biomarker cedera tubulus sebagai alat deteksi dini. CKDu merupakan masalah kesehatan masyarakat yang semakin meningkat dan sering terdiagnosis pada stadium lanjut akibat keterbatasan parameter ginjal konvensional dalam mendeteksi cedera ginjal subklinis. Bahan dan metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa narrative review terstruktur. Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data PubMed dan Google Scholar terhadap publikasi yang diterbitkan dalam kurun waktu 2015–2025. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi diseleksi berdasarkan fokus pada CKDu di komunitas pertanian, faktor risiko lingkungan dan okupasional, serta penggunaan biomarker ginjal. Data yang relevan diekstraksi dan dianalisis menggunakan pendekatan sintesis naratif tematik. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa CKDu terutama menyerang pekerja pertanian laki-laki usia produktif dan ditandai oleh perjalanan penyakit yang sering asimtomatik, proteinuria minimal, serta gambaran histopatologi berupa nefritis tubulointerstisial kronik. Faktor risiko utama yang berperan meliputi stres panas dan dehidrasi berulang, paparan agrokimia, serta kontaminan lingkungan. Sejumlah studi melaporkan peningkatan biomarker cedera tubulus, terutama kidney injury molecule-1 (KIM-1) dan neutrophil gelatinase-associated lipocalin (NGAL), pada individu dengan rasio albumin terhadap kreatinin yang masih normal, serta asosiasinya dengan penurunan laju filtrasi glomerulus yang lebih cepat. Kesimpulan dari narrative review ini menunjukkan bahwa biomarker cedera tubulus memiliki potensi besar sebagai alat deteksi dini CKDu pada populasi berisiko tinggi. Namun, penerapannya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan biaya, belum adanya standardisasi metode, dan minimnya infrastruktur laboratorium. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk validasi prognostik jangka panjang serta pengembangan metode pemeriksaan yang lebih aplikatif dan terjangkau, khususnya di wilayah dengan sumber daya terbatas.