Sistem akuaponik Yumina Bumina, sebagai inovasi lokal berbasis Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA), menawarkan pendekatan berkelanjutan untuk budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) melalui integrasi tanaman kangkung dan kerang kijing (Anodonta woodiana). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh empat konfigurasi posisi kerang kijing terhadap kualitas air dan pertumbuhan ikan nila selama 30 hari. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan, (A) kerang sebelum unit tanaman, (B) setelah unit tanaman, (C) di dalam pipa aliran, dan (D) konfigurasi terintegrasi yang hasilnya diuji secara statistik. Hasil menunjukkan bahwa meskipun perlakuan C menghasilkan konsentrasi amonia terendah (1,10 ± 0,85 mg/L), perlakuan A menghasilkan laju pertumbuhan berat harian tertinggi (15,74%/hari) dan total padatan terlarut (TDS) terendah (388,4 ppm). Perlakuan C justru menyebabkan akumulasi nitrit (3,74 mg/L) dan TDS tertinggi, yang berpotensi menimbulkan stres osmoregulasi pada ikan. Tidak terdapat perbedaan signifikan dalam kandungan %Total N pada ikan maupun kangkung antar perlakuan, hal ini mengindikasikan bahwa variasi pertumbuhan lebih dipengaruhi oleh stabilitas lingkungan fisiologis daripada ketersediaan nitrogen. Temuan ini menegaskan bahwa penempatan kerang kijing sebagai pre-filter sebelum zona tanaman (perlakuan A) menciptakan aliran nutrien bertahap yang optimal, meminimalkan stres lingkungan, dan memaksimalkan pertumbuhan ikan. Studi ini memberikan rekomendasi desain hidrolika strategis untuk sistem akuaponik berkelanjutan berbasis IMTA.