ABSTRACT Dengue fever (DHF) is an infectious disease transmitted by the Aedes aegypti mosquito and is a global public health problem, especially in tropical countries such as Indonesia. Spikes in DHF cases occur fluctuatively in various regions, including South Labuhanbatu Regency, especially in the Beringin Jaya Health Center working area, which shows an increase in incidence every rainy season. The most effective control effort is through education and community empowerment in mosquito nest eradication (PSN) with the 3M Plus approach. This intervention is optimized if it is carried out through cross-sectoral collaboration involving the government, health workers, and local communities. This study aims to determine the effect of PSN 3M Plus educational intervention on the knowledge, attitudes, and actions of respondents in dengue prevention. The method used was quasi experimental with a one-group pretest-posttest design on 100 respondents selected by purposive sampling. Data were collected through a standardized questionnaire that had been tested for validity and reliability, then analyzed univariately and bivariately using the McNemar Test. The results showed a significant increase in respondents' knowledge after the 3M Plus PSN education intervention, from 45% to 64% (p = 0.013). However, in the attitude variable there was only an increase from 44% to 50% (p = 0.643), and in the action variable from 49% to 53% (p = 0.417), both of which did not show statistically significant differences. The PSN 3M Plus educational intervention was effective in increasing respondents' knowledge, but not strong enough to influence changes in attitudes and actions. A more intensive, sustainable, and participatory educational approach is needed to achieve a more comprehensive behavior change in dengue prevention. Keywords: Education, PSN 3M Plus, Cross-Sectoral. ABSTRAK Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegyptii dan menjadi masalah kesehatan masyarakat global, terutama di negara-negara tropis seperti Indonesia. Peningkatan kasus DBD terjadi secara fluktuatif di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Labuhanbatu Selatan, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Beringin Jaya, yang menunjukkan peningkatan kejadian setiap musim hujan. Upaya pengendalian yang paling efektif adalah melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan pendekatan 3M Plus. Intervensi ini menjadi lebih optimal jika dilakukan melalui kolaborasi lintas sektoral yang melibatkan pemerintah, petugas kesehatan, dan komunitas lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intervensi edukasi PSN 3M Plus terhadap pengetahuan, sikap, dan tindakan responden dalam pencegahan dengue. Metode yang digunakan adalah quasi experimental dengan desain one-group pretest-posttest pada 100 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstandar yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, lalu dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan Uji McNemar. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan responden setelah dilakukan intervensi edukasi PSN 3M Plus, dari 45% menjadi 64% (p = 0,013). Namun, pada variabel sikap hanya terjadi peningkatan dari 44% menjadi 50% (p = 0,643), dan pada variabel tindakan dari 49% menjadi 53% (p = 0,417), keduanya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik. Intervensi edukasi PSN 3M Plus efektif dalam meningkatkan pengetahuan responden, namun belum cukup kuat memengaruhi perubahan sikap dan tindakan. Diperlukan pendekatan edukatif yang lebih intensif, berkelanjutan, dan partisipatif agar terjadi perubahan perilaku yang lebih menyeluruh dalam pencegahan DBD. Kata Kunci: Edukasi, PSN 3M Plus, Lintas Sektoral, Dengue.