Marliana, Fenia
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSEP LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PRESPEKTIF AL QUR’AN Marliana, Fenia; Ramadhan, Ghifar; Kurahman, Opik Taupik; Jannah, Sabrina Izzatul
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8399

Abstract

Education plays a vital role in shaping human personality, but discourse on the educational environment is often trapped in merely sociological-institutional aspects without delving into the theological normative foundations derived from the Qur'an. This research focuses on examining and reconstructing the concept of the Islamic educational environment from the perspective of the Qur'an in order to find a comprehensive philosophical foundation. The method applied is qualitative through library research with a thematic interpretation approach (maudhu'i) of verses relevant to the educational ecosystem, which are then analyzed descriptively-analystically. The research findings show that the Qur'an places the environment as a determinant factor in character formation, which is integrated into three main domains: the family as the foundation for instilling monotheism and compassion, schools as a means of intellectual and moral development, and society as a vehicle for actualizing socio-religious values. These three environments must synergize within the framework of monotheism and exemplary behavior (uswah hasanah) as exemplified by the Prophet Muhammad. It is concluded that the success of Islamic education is highly dependent on the creation of a conducive environment based on divine values, so that it can produce perfect human beings who have spiritual, moral and intellectual balance. ABSTRAK Pendidikan memegang peranan vital dalam pembentukan kepribadian manusia, namun diskursus mengenai lingkungan pendidikan sering kali terjebak pada aspek sosiologis-institusional semata tanpa menggali landasan normatif teologis yang bersumber dari Al-Qur’an. Penelitian ini berfokus untuk mengkaji dan merekonstruksi konsep lingkungan pendidikan Islam dalam perspektif Al-Qur’an guna menemukan landasan filosofis yang komprehensif. Metode yang diterapkan adalah kualitatif melalui studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu’i) terhadap ayat-ayat yang relevan dengan ekosistem pendidikan, yang kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menempatkan lingkungan sebagai faktor determinan dalam pembentukan karakter, yang terintegrasi dalam tiga ranah utama: keluarga sebagai fondasi penanaman tauhid dan kasih sayang, sekolah sebagai sarana pengembangan intelektual dan akhlak, serta masyarakat sebagai wahana aktualisasi nilai sosial-religius. Ketiga lingkungan ini harus bersinergi dalam kerangka ketauhidan dan keteladanan (uswah hasanah) sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Disimpulkan bahwa keberhasilan pendidikan Islam sangat bergantung pada terciptanya lingkungan kondusif yang berlandaskan nilai-nilai Ilahiah, sehingga mampu mencetak insan kamil yang memiliki keseimbangan spiritual, moral, dan intelektual.  
MENGELOLA PERILAKU GURU YANG MENCERMINKAN KEMATANGAN MORAL, EMOSIONAL, DAN SPIRITUAL SESUAI DENGAN KODE ETIK GURU Marliana, Fenia; Irawan, Irawan
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i1.9430

Abstract

Teachers play a central role as role models who demand mastery of knowledge as well as moral, emotional, and spiritual maturity within the framework of the philosophy of science and the professional code of ethics. This study aims to analyze the management of teacher behavior at SDN Arjasari 03 to reflect personal and professional integrity according to ethical standards. Through a descriptive qualitative approach with intensive observation methods for three weeks in November 2025, in-depth interviews, and documentation studies, real behavioral patterns were found that align with teaching ethics. Field findings show strong indicators of moral maturity, specifically evidenced by the discipline of attendance of all teachers before 06.30 WIB and the application of the principle of objectivity in student assessment. In the emotional aspect, teachers demonstrate good self-regulation skills through self-calming techniques and a persuasive approach before giving reprimands, which impacts a conducive classroom climate. Spiritual maturity is reflected through the habit of consistent prayer at the beginning of learning throughout the class as a form of transcendental responsibility. This study concludes that the implementation of the five principles of the code of ethics—integrity, role model, emotional regulation, humanism, and spirituality—has been effective and has become a crucial foundation of school culture in shaping students' character, confirming that teacher behavior is a philosophical manifestation of dignified education. ABSTRAK Guru memegang peran sentral sebagai teladan yang menuntut penguasaan pengetahuan sekaligus kematangan moral, emosional, dan spiritual dalam bingkai filsafat ilmu dan kode etik profesi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengelolaan perilaku guru di SDN Arjasari 03 untuk mencerminkan integritas pribadi dan profesionalitas sesuai standar etika. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi intensif selama tiga minggu pada November 2025, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, ditemukan pola perilaku nyata yang selaras dengan etika keguruan. Temuan lapangan menunjukkan indikator kematangan moral yang kuat, dibuktikan secara spesifik dengan kedisiplinan kehadiran seluruh guru sebelum pukul 06.30 WIB serta penerapan prinsip objektivitas dalam penilaian siswa. Pada aspek emosional, guru menunjukkan kemampuan regulasi diri yang baik melalui teknik self-calming dan pendekatan persuasif sebelum memberikan teguran, yang berdampak pada iklim kelas yang kondusif. Kematangan spiritual terefleksi melalui pembiasaan doa awal pembelajaran yang konsisten di seluruh kelas sebagai bentuk tanggung jawab transendental. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi lima prinsip kode etik—integritas, keteladanan, regulasi emosi, humanisme, dan spiritualitas—telah berjalan efektif dan menjadi fondasi budaya sekolah yang krusial dalam membentuk karakter peserta didik, menegaskan bahwa perilaku guru adalah manifestasi filosofis dari pendidikan yang bermartabat.