Praktik ziarah di Indonesia tetap berlangsung dan bahkan menunjukkan peningkatan, terutama sejak tiga dekade terakhir seiring dengan pencanangan program “wisata religius” oleh pemerintah. Selain datang secara individu dan keluarga, tidak jarang peziarah datang dengan rombongan. Metode ataupun tahapan dan frekuensi kegiatan pada program pengabdian seperti persiapan, survey, kordinasi, pelaksanaan, dan evaluasi. Sehingga tujuan penelitian ini meningkatkan angka pengunjung di wisata religi makam Wali Kidangan di Desa Sukorejo, Kecamatan Malo. Melalui sosialisai pengenalan serta penguatan geopark maka sangat diharapakan masyarakat setempat mampu menjaga serta melestarikan tradisi ziarah kubur perlu terus dilakukan, mengingat bahwa praktik ziarah kubur telah ada dan berlangsung jauh sebelum kedatangan Islam. Para wali dan penyebar agama Islam kemudian menanamkan nilai-nilai tauhid dalam tradisi ziarah tersebut, sehingga pelaksanaannya selaras dengan ajaran Islam tanpa menghilangkan unsur budaya yang telah berkembang di tengah masyarakat. Sebagai contoh, praktik tradisi berupa sesajen atau sesembahan yang ditujukan kepada orang yang telah meninggal dunia dialihkan menjadi penyediaan hidangan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang masih hidup. Selain itu, berbagai ritual yang sebelumnya mengandung unsur pengharapan kepada orang yang telah meninggal dunia disesuaikan dengan ajaran keagamaan dengan menggantinya melalui konsep tawassul, yaitu berdoa kepada Tuhan dengan perantara para wali atau orang-orang saleh yang telah wafat.