Menopause merupakan fase fisiologis alami dalam siklus reproduksi wanita yang umumnya terjadi pada usia 45–55 tahun. Penurunan hormon estrogen dan progesteron pada masa ini berdampak pada perubahan fisik, psikologis, serta metabolisme tubuh. Salah satu konsekuensi penting dari berkurangnya estrogen adalah meningkatnya risiko osteoporosis, yang dapat menimbulkan kecacatan, kematian, serta beban biaya kesehatan yang tinggi. Minimnya akses terhadap layanan kesehatan reproduksi yang komprehensif dan media edukasi yang mudah dipahami menjadi tantangan dalam penanganan masalah kesehatan pascamenopause. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan wanita usia 40–55 tahun, khususnya kelompok lansia 45–50 tahun, mengenai kesehatan reproduksi dan pemenuhan gizi seimbang pada masa menopause. Metode yang digunakan meliputi penjajakan dan koordinasi dengan mitra, skrining pengetahuan awal (pre-test), penyuluhan interaktif, diskusi aktif, serta pelatihan penyusunan menu gizi seimbang. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan pre-eksperimental. Hasil menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan pada tahap awal, dengan 57,5% peserta berada pada kategori kurang. Setelah dilakukan edukasi, terjadi peningkatan signifikan, di mana 90% peserta memiliki pengetahuan baik dan tidak ada lagi yang termasuk kategori kurang. Hal ini membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan dan pendampingan efektif dalam meningkatkan pemahaman terkait kesehatan menopause. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat juga dilakukan pengembangan modul digital interaktif, pelatihan kader kesehatan sebagai pendamping lokal, serta perluasan jejaring kolaborasi dengan fasilitas kesehatan dan organisasi masyarakat. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membuka peluang keberlanjutan program edukasi kesehatan reproduksi bagi wanita pascamenopause.