Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Journal of Innovation Research and Knowledge

HUBUNGAN PROKRASTINASI AKADEMIK DENGAN SELF-EFFICACY SISWA SMP DI BALI EL, Bhisma Putra Sahadewa; Lidia Sandra; I Gusti Agung Ayu Yunita Utami; Wayan Sukartiasih
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 8 (2026): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prokrastinasi akademik merupakan masalah umum pada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), terutama ketika tuntutan akademik semakin kompleks, yang berdampak pada prestasi dan kondisi psikologis seperti stres dan kecemasan. Self-efficacy sebagai keyakinan individu terhadap kemampuannya menjadi faktor penting yang diyakini dapat menekan perilaku prokrastinasi. Fokus penelitian ini adalah mengkaji hubungan antara prokrastinasi akademik dan self- efficacy pada siswa SMP di Bali, dengan mempertimbangkan konteks budaya yang menuntut keterlibatan siswa dalam tradisi dan aktivitas komunitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan 401 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen berupa skala prokrastinasi akademik dan self-efficacy yang telah divalidasi, dan analisis data menggunakan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif yang kuat dan signifikan antara kedua variabel (r = −0,701; p < 0,001), sehingga peningkatan self-efficacy direkomendasikan sebagai strategi untuk menekan prokrastinasi akademik siswa
HUBUNGAN ANTARA QUARTER-LIFE CRISIS DAN SUBJECTIVE WELL-BEING MAHASISWA DI BALI Dharmayanti, Ni Luh Diah; Lidia Sandra; Anak Agung Ketut Sri Wiraswati; I Gusti Agung Ayu Yunita Utami; Wayan Sukartiasih
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 8 (2026): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahasiswa berada pada fase perkembangan yang dinamis, ditandai oleh berbagai tuntutan akademik, pencarian jati diri, serta ketidakpastian terhadap masa depan. Kondisi ini membuat mahasiswa rentan mengalami Quarter-Life Crisis yang dapat berdampak negatif terhadap Subjective Well-Being. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Quarter-Life Crisis dan Subjective Well-Being pada mahasiswa di Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif korelasional. Sebanyak 402 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bali berpartisipasi sebagai responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan skala Quarter-Life Crisis yang disusun berdasarkan teori Robbins dan Wilner (2001) serta skala Subjective Well-Being berdasarkan teori Diener (2000). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara Quarter-Life Crisis dan Subjective Well-Being (r = -0.713, p < 0,001), yang berarti semakin tinggi tingkat Quarter-Life Crisis, semakin rendah tingkat Subjective Well-Being mahasiswa. Hasil ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap fenomena Quarter-Life Crisis sebagai upaya peningkatan kesejahteraan psikologis mahasiswa, serta perlunya dukungan psikologis dari institusi pendidikan tinggi agar mahasiswa dapat mengelola masa transisi perkembangan secara lebih sehat.
HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN REGULASI EMOSI DENGAN STRES KERJA PADA PEGAWAI PEMERINTAHAN DINAS SOSIAL KOTA DENPASAR Putu Ayu Sekarini Putri; Ida Ayu Karina Adityanti Manuaba; Wayan Sukartiasih
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 10 (2026): Maret 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kemampuan regulasi emosi dengan stres kerja pada pegawai pemerintahan Dinas Sosial Kota Denpasar. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada tingginya tingkat stres kerja di lingkungan pemerintahan yang memiliki tuntutan pelayanan publik, yang dapat menurunkan kesejahteraan dan kualitas kinerja pegawai. Regulasi emosi diyakini sebagai salah satu faktor yang dapat menurunkan stres kerja tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel berjumlah 138 pegawai yang diperoleh melalui teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala regulasi emosi dan stres kerja yang telah divalidasi oleh para ahli dan uji reliabilitasnya. Data analisisnya menggunakan teknik korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kemampuan regulasi emosi dan stres kerja ( r= -0,236 dengan p – value sebesar 0,005). Artinya, semakin tinggi tingkat regulasi emosi, maka semakin rendah kecenderungan untuk mengalami stres kerja. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa regulasi emosi berperan penting dalam mencegah perilaku stres kerja di lingkungan pemerintahan terutama bagian pelayanan publik, Dinas Sosial. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pendidik dan konselor dalam merancang intervensi untuk meningkatkan regulasi emosi dalam diri pegawai guna mengurangi perilaku stres kerja yang merugikan.