Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Abreviasi nggak menjadi ga- sebagai Variasi Bahasa Gaul di Media Sosial X Afifah, Diaz Nur; Ginanjar, Bakdal
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4278

Abstract

Pemendekan atau abreviasi merupakan salah satu ciri utama bahasa gaul yang digunakan warganet di media sosial X. Fenomena ini muncul karena pengguna ingin menyampaikan pesan secara cepat, ringkas, dan selaras dengan ritme komunikasi digital yang serba instan. Dalam ruang komunikasi yang ditandai oleh kecepatan arus informasi, abreviasi menjadi strategi linguistik yang memudahkan interaksi tanpa menghilangkan makna pesan. Berbagai bentuk abreviasi, seperti akronim, singkatan tidak baku, pemotongan kata, hingga penyederhanaan fonologis, dimanfaatkan untuk menciptakan gaya tutur yang lebih santai, ekspresif, dan sesuai dengan karakter percakapan daring. Salah satu bentuk abreviasi yang banyak ditemukan di X adalah perubahan kata “nggak” menjadi “ga-”. Bentuk ini tidak hanya berfungsi sebagai pemendekan ujaran, tetapi juga mencerminkan proses penyederhanaan fonologis yang khas dalam bahasa gaul anak muda. Penggunaan “ga-” dianggap lebih efisien, mudah diketik, dan mampu menghadirkan kesan keakraban antarpengguna. Selain itu, variasi tersebut menunjukkan fleksibilitas warganet dalam memodifikasi bahasa Indonesia baku agar sesuai dengan identitas dan kebiasaan komunitas digital. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk abreviasi di media sosial X dengan fokus pada variasi “nggak” menjadi “ga-”, serta menjelaskan alasan dan fungsi sosial-linguistik penggunaannya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan data berupa tangkapan layar cuitan, komentar, dan percakapan. Hasil analisis menunjukkan bahwa “ga-” berfungsi sebagai penanda gaya tutur digital yang merepresentasikan efisiensi komunikasi, keakraban, identitas, dan partisipasi dalam budaya komunikasi daring yang dinamis dan adaptif.
Analisis Wacana Kritis Sara Mills dalam Novel Padang Ilalang di Belakang Rumah Karya Nh. Dini Afifah, Diaz Nur; Putri, Dita Amalia; Syahda, Wisista; Syukri, Hanifullah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4416

Abstract

Penelitian ini menerapkan model Analisis Wacana Kritis (AWK) Sara Mills pada novel Padang Ilalang di Belakang Rumah karya Nh. Dini untuk mengungkap ideologi tersembunyi dan relasi kuasa, khususnya terkait gender, yang terbangun dalam struktur naratifnya. Penelitian ini mengkaji dua pertanyaan utama: bagaimana tokoh perempuan direpresentasikan dalam posisi subjek–objek, serta bagaimana posisi pembaca dibentuk untuk memengaruhi cara pandang mereka terhadap konflik tokoh perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik simak dan catat untuk mengumpulkan data berupa kalimat dan klausa dalam novel. Analisis difokuskan pada identifikasi apakah tokoh perempuan memiliki agensi sebagai subjek atau hanya menjadi objek pasif dari kontrol eksternal, serta bagaimana strategi naratif mengarahkan empati dan sudut pandang pembaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini merupakan strategi tekstual yang sengaja dirancang untuk menantang narasi patriarkal dominan. Tokoh anak perempuan sebagai protagonis tidak ditempatkan sebagai korban pasif, melainkan sebagai subjek aktif yang mengamati, menafsirkan, dan mengkritik realitas di sekitarnya, sehingga mengendalikan wacana penceritaan. Sebaliknya, tokoh laki-laki seperti ayah sering digambarkan sebagai objek yang direfleksikan melalui kesadaran kritis sang tokoh utama, sebagai upaya Nh. Dini untuk mendekonstruksi posisi superior laki-laki dalam tradisi sastra. Selain itu, gaya penceritaan yang rinci dan emosional berhasil mengarahkan pembaca untuk berempati pada perspektif protagonis, sehingga membangun kesadaran tentang realitas emosional perempuan yang termarginalkan dalam struktur sosial dan keluarga yang menekan. Dengan demikian, novel ini menjadi ruang perlawanan dan kesadaran gender, dan model Sara Mills terbukti efektif dalam mengungkap bagaimana teks sastra dapat menjadi sarana pembalikan posisi subjek–objek serta membangun kesadaran pembaca terhadap struktur kuasa yang terselubung.