Pemendekan atau abreviasi merupakan salah satu ciri utama bahasa gaul yang digunakan warganet di media sosial X. Fenomena ini muncul karena pengguna ingin menyampaikan pesan secara cepat, ringkas, dan selaras dengan ritme komunikasi digital yang serba instan. Dalam ruang komunikasi yang ditandai oleh kecepatan arus informasi, abreviasi menjadi strategi linguistik yang memudahkan interaksi tanpa menghilangkan makna pesan. Berbagai bentuk abreviasi, seperti akronim, singkatan tidak baku, pemotongan kata, hingga penyederhanaan fonologis, dimanfaatkan untuk menciptakan gaya tutur yang lebih santai, ekspresif, dan sesuai dengan karakter percakapan daring. Salah satu bentuk abreviasi yang banyak ditemukan di X adalah perubahan kata “nggak” menjadi “ga-”. Bentuk ini tidak hanya berfungsi sebagai pemendekan ujaran, tetapi juga mencerminkan proses penyederhanaan fonologis yang khas dalam bahasa gaul anak muda. Penggunaan “ga-” dianggap lebih efisien, mudah diketik, dan mampu menghadirkan kesan keakraban antarpengguna. Selain itu, variasi tersebut menunjukkan fleksibilitas warganet dalam memodifikasi bahasa Indonesia baku agar sesuai dengan identitas dan kebiasaan komunitas digital. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk abreviasi di media sosial X dengan fokus pada variasi “nggak” menjadi “ga-”, serta menjelaskan alasan dan fungsi sosial-linguistik penggunaannya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan data berupa tangkapan layar cuitan, komentar, dan percakapan. Hasil analisis menunjukkan bahwa “ga-” berfungsi sebagai penanda gaya tutur digital yang merepresentasikan efisiensi komunikasi, keakraban, identitas, dan partisipasi dalam budaya komunikasi daring yang dinamis dan adaptif.