Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REVITALIZING CHARACTER EDUCATION CURRICULA IN THE DIGITAL ERA: A LITERATURE REVIEW AT THE JUNIOR HIGH SCHOOL LEVEL Pramesti, Azzahra Maya; Nurhidayah, Rika; Firdaus, Miftahul; Khuriyah
Sunan Kalijaga International Journal on Islamic Educational Research Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Pascasarjana Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/skijier.2025.https://doi.org/10.14421/skijier.2025.92.02

Abstract

This article examines the urgency of revitalizing character education curricula at the junior high school (SMP) level in response to profound transformations driven by digital culture. The study aims to analyze existing models of character education implementation, identify the impacts of the digital era on students’ character formation, explore emerging challenges, and propose strategic directions for curriculum revitalization. Employing a qualitative descriptive literature review design, this study systematically analyzed peer-reviewed articles, academic books, and policy documents published over the last decade, sourced from reputable digital databases. The findings indicate that character education in Indonesian SMPs has been institutionally implemented through integrated intrakurikular, kokurikular particularly the Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) and ekstrakurikular pathways grounded in Pancasila values and national education policy. While digital culture offers opportunities to enhance creativity, collaboration, and digital literacy, it simultaneously poses risks to students’ discipline, self-control, empathy, and integrity when not accompanied by adequate guidance. The study further identifies persistent challenges related to teacher preparedness, digital safety, cyberbullying, plagiarism, and assessment systems that remain predominantly oriented toward offline behavior. The implications of this study highlight the need to reconceptualize character education as a holistic integration of moral values, digital ethics, and civic responsibility, and to explicitly embed these dimensions within curriculum standards and assessment frameworks. As a limitation, this study relies on secondary data and does not capture direct empirical evidence from school practices. Future research is recommended to conduct empirical investigations that assess the effectiveness of digitally integrated character education models and explore the lived experiences of teachers and students in digital learning environments.
Analisis Pemaknaan Konsep Nasikh dan Mansukh dalam Qs. Al-Baqarah Ayat 106: Studi Komparatif Antara Ibnu Katsir dan M. Quraish Shihab Pramesti, Azzahra Maya; Matin, Abdul
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i1.5762

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk mengkaji dan membandingkan pemaknaan konsep nasikh dan mansukh pada Q.S Al-Baqarah ayat 106 berdasarkan dua corak tafsir; klasik diwakili oleh Ibnu Katsir, dan kontemporer oleh Quraish Shihab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan dan analisis komparatif pada Tafsir al-Qurʾan al-ʿAẓim karya Ibnu Katsir dan Tafsir al-Misbaḥ karya Quraish Shihab, serta didukung oleh literatur sekunder berupa buku, jurnal, dan literatur terkait. Temuan penelitian menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan pandangan. Persamaannya, mereka mengakui adanya nasikh dan mansukh, menegaskan bahwa konsep ini hanya terjadi pada ahkam, serta sama-sama menekankan pentingnya kronologi turunnya wahyu dalam menentukan nasikh dan mansukh. Perbedaannya, Ibnu Katsir memahami ayat ini secara tekstual, dengan menekankan nasikh sebagai penghapusan hukum lama diganti dengan hukum baru, serta merujuk pada riwayat sahabat dan tabi’in. Sedangkan Quraish Shihab menafsirkan dengan coraf tahlili yang sifatnya kontekstual dan rekonsiliatif, menekankan bahwa nasikh tidak selalu berarti penghapusan total, melainkan bentuk penyesuaian hukum sesuai perkembangan masyarakat. Selain itu, keluasan penetapan pada ayat mansukh; Ibnu Katsir mengikuti tradisi klasik yang cenderung banyak, Quraish Shihab lebih selektif dan hati-hati. Relevansi perbandingan ini merupakan tanda hadirnya dialog antara tafsir klasik dan kontemporer, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan hukum Islam yang dinamis, tetap berpijak pada otoritas teks namun responsif terhadap tantangan masyarakat modern.