A. Kasim, Vivien Novarina
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Profil Fitokimia dan Kromatografi Lapis Tipis Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) dalam Bentuk Ekstrak Maserasi, Rendaman, dan Perasan: Indonesia Mulyadi, Jesica; A. Kasim, Vivien Novarina; Amu, Ivan Virnanda
Journal of Health Educational Science And Technology Vol. 8 No. 2 (2025): J-HESTECH (Journal Of Health Educational Science And Technology)
Publisher : Faculty of Health Sciences , Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/htc.v8i2.11274

Abstract

Produk jeruk nipis yang kaya akan berbagai senyawa fenolik dan serat makanan, membuat produk jeruk diminati oleh semua kalangan. Dampaknya adalah terdapat sejumlah besar kulit jeruk nipis yang umumnya dibuang sebagai limbah di lingkungan. Limbah lingkungan tersebut ternyata berpotensi sebagai sumber nutraceutical. Metode penelitian true-eksperimen design, Sampel kulit jeruk nipis ekstrak maserasi dengan metanol 3000 terendam selama 3 x 24 jam kemudian dievaporasi sampai terbentuk ekstrak kental. Sampel ekstrak rendaman dari simplisia kulit jeruk nipis dirajang kecil-kecil dilarutkan dalam Ethanol 96% sebanyak 2000 ml terendam sempurna selama 3 x 24 jam dipisahkan antara filtrat dan residu selanjutnya di uapkan. Sampel ekstrak perasan dari jeruk nipis dibelah menjadi dua kemudian diperas dan diambil air perasan selanjutnya diuapkan. Hasil pemeriksaan profil fitokimia dari kulit jeruk nipis, bentuk ekstrak maserasi mengandung 6 senyawa metabolik yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, tanin dan fenol, untuk ekstrak rendaman mengandung 4 senyawa metabolik yaitu alkaloid, flavonoid, steroid, fenol dan bentuk ekstrak perasan mengandung 3 senyawa metabolik yaitu alkaloid, steroid, dan fenol. Hasil Kromatografi lapis tipis menggunakan eluen n-heksan : etil asetat dengan perbandingan 3:2 pada lampu UV 366 nm, didapatkan bahwa ekstrak perasan memiliki empat bercak noda, ekstrak rendaman memiliki empat bercak noda, dan ekstrak maserasi memiliki lima bercak noda. Kesimpulannya ekstrak maserasi kulit jeruk nipis lebih banyak kandungan senyawa metabolik dan menghasilkan lebih banyak senyawa terlarut karena pelarut organik masuk ke jaringan kulit. Pemanfaatan limbah lingkungan kulit jeruk nipis diharapkan dapat sebagai terapi adjuvant yang murah, efesien dan ramah lingkungan.
Analisis Faktor Risiko Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Kabupaten Gorontalo Mobilingo, Satra; Jusuf, Herlina; A. Kasim, Vivien Novarina
Jurnal Promotif Preventif Vol 9 No 1 (2026): Februari 2026: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v9i1.2426

Abstract

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang bersifat fatal dan tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat di wilayah dengan populasi hewan penular yang tidak terkontrol. Laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kabupaten Gorontalo tahun 2024 mencatat 279 kasus gigitan hewan penular rabies, menunjukkan tingginya potensi paparan pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko kejadian gigitan hewan penular rabies serta memetakan kerawanan rabies di Kabupaten Gorontalo. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan desain cross-sectional pada 119 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku memiliki hubungan signifikan dengan kejadian gigitan (p = 0.030; OR 3.039; CI95% 1.113–8.295). Selain itu, kejadian gigitan juga dipengaruhi oleh faktor kognitif, kondisi geografis, serta faktor sosial yang saling berinteraksi dalam menentukan kerentanan masyarakat terhadap paparan rabies. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi berbasis perilaku dan penguatan edukasi masyarakat, disertai pengelolaan lingkungan dan pemetaan kerawanan untuk mendukung upaya pencegahan rabies.
Description of Uremic Pruritus in Chronic Kidney Failure Patients Undergoing Hemodialysis at Prof. Dr. Aloei Saboe Regional General Hospital Lahabu, Moh Ikbal; A. Kasim, Vivien Novarina; Maryadi, Maryadi; Djamaluddin, Nurdiana; Purwanto, Erwin
Medical and Health Journal Vol 5 No 2 (2026): February
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mhj.2026.5.2.19379

Abstract

Chronic kidney disease (CKD) is a global health problem with a steadily increasing prevalence, particularly among patients undergoing hemodialysis. One of the most frequently reported complaints is uremic pruritus, defined as a chronic itching sensation that significantly affects patients' quality of life. This study aimed to describe the characteristics of uremic pruritus in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis at RSUD (Regional General Hospital) Prof. Dr. Aloei Saboe, Gorontalo City. This study employed a descriptive quantitative design using a total sampling technique involving 42 CKD patients undergoing hemodialysis who presented with uremic pruritus. Data were collected using a demographic questionnaire and the 5D Itch Scale instrument. The results showed that 3 respondents (7%) experienced mild pruritus, 24 respondents (57%) experienced moderate pruritus, and 15 respondents (36%) experienced severe pruritus. The findings indicate that uremic pruritus remains a predominant clinical problem among CKD patients undergoing hemodialysis. Consequently, increased attention to assessment and management is necessary to improve patients' quality of life