Penelitian ini mengeksplorasi kebutuhan pengembangan model ECO-ELT (Ecological English Language Teaching) inklusif berbasis kearifan lokal Islami dan komunikasi global dari perspektif pengajar di Pondok Pesantren Ulul Albab, Kota Bima. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus instrumental, penelitian ini melibatkan satu guru bahasa Inggris sebagai subjek utama melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen kurikulum. Temuan menunjukkan bahwa pesantren telah mengimplementasikan kurikulum adaptif yang mengintegrasikan Kurikulum Merdeka dengan sistem Pesantren Gontor, menciptakan ekosistem dwibahasa (Arab-Inggris) melalui English Days dan Arabian Days. Kolaborasi strategis dengan stakeholder eksternal—hotel, dinas pertanian, peternakan, dan pariwisata—menghasilkan authentic learning experiences yang melampaui pembelajaran konvensional. Integrasi ekosistem hijau sekolah (peternakan, kolam ikan, tanaman kelor) dalam project-based learning membentuk ekoliterasi siswa melalui kerangka Cognitive-Emotional-Responsibility-Action. Kajian ECO-ELT inklusif pada pesantren ini teridentifikasi memadukan lima pilar: (1) kurikulum adaptif responsif konteks, (2) ekosistem dwibahasa terstruktur, (3) pembelajaran berbasis komunitas dan lingkungan otentik, (4) integrasi nilai-nilai kearifan lokal Islami, dan (5) pemanfaatan teknologi untuk amplifikasi komunikasi ekologis global. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan framework ECO-ELT yang applicable untuk sekolah Islam terpadu dengan atau tanpa fasilitas pekarangan luas, menekankan fleksibilitas pedagogis dan resourcefulness dalam menciptakan pembelajaran bahasa Inggris yang holistik, bermakna, dan berkelanjutan.