Many victims of dating violence feel worthless, fear abandonment, and blame themselves for situations beyond their control, all of which lead to low self-esteem. Resilience, on the other hand, is a measure of an individual’s ability to cope with stress or difficulties. Individuals with high resilience are better able to reinterpret their experiences of violence as valuable life lessons and avoid lingering trauma. This study aims to analyze the relationship between self- esteem and resilience in young adults who have experienced dating violence. The research method used was a quantitative correlational method with a purposive sampling technique for 305 respondents aged 20–40 years who had a history of dating violence. The instruments used included the Rosenberg Self-Esteem (RSES) and the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). The study was conducted online, and data collection was carried out by distributing an online questionnaire using Google Forms distributed through social media such as Instagram, WhatsApp, and Line. The reliability test showed a Cronbach’s Alpha value of 0.839 for self-esteem and 0.968 for resilience. The Kolmogorov-Smirnov normality test yielded a p value > 0.000, so the analysis was continued using the Spearman correlation test. The results of the analysis showed a significant positive relationship between self-esteem and resilience (p = 0.417; p < 0.000), which indicates that individuals with high levels of self-esteem tend to have high levels of resilience as well. This finding confirms that the experience of being a victim of dating violence has an impact on self-improvement and the ability to trust others. ABSTRAK Banyak korban kekerasan dalam pacaran merasa tidak berharga, takut ditinggalkan, dan menyalahkan diri sendiri atas situasi yang sebenarnya berada di luar kendali mereka, yang semuanya mengarah pada rendahnya self-esteem. Di sisi lain, resiliensi merupakan tolak ukur kemampuan individu dalam mengatasi tekanan atau kesulitan yang dihadapi. Individu yang memiliki resiliensi tinggi lebih mampu memaknai ulang pengalaman kekerasan yang dialaminya sebagai pembelajaran hidup yang berharga dan tidak larut dalam trauma berkepanjangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-esteem dengan resiliensi pada dewasa awal yang mengalami korban kekerasan dalam pacaran. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling terhadap 305 responden berusia 20–40 tahun yang memiliki riwayat korban kekerasan dalam pacaran. Instrumen yang digunakan meliputi Rosenberg Self-Esteem (RSES) dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD- RISC). Penelitian dilakukan secara online, dan pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner online menggunakan Google Form yang disebarkan melalui media sosial berupa Instagram, Whatsapp, dan Line. Uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,839 pada self-esteem dan 0,968 pada resiliensi. Uji normalitas Kolmogrov-Smirnov menghasilkan nilai p > 0,000, sehingga analisis dilanjutkan menggunakan uji kolerasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara self-esteem dengan resiliensi (p = 0,417; p < 0,000), yang mengindikasikan bahwa individu dengan tingkat self-esteem tinggi cenderung memiliki tingkat resiliensi yang tinggi pula. Temuan ini menegaskan bahwa pengalaman korban kekerasan dalam pacaran berdampak pada peningkatan diri dan kemampuan mempercayai orang lain.