Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Cupping Therapy for Anemia in Women: A Scoping Review Agreena, Tulus; Hakimi, Mohammad; Astuti, Dhesi Ari
Journal La Medihealtico Vol. 6 No. 6 (2025): Journal La Medihealtico
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallamedihealtico.v6i6.2720

Abstract

Anemia remains a major public health problem among women of reproductive age worldwide, particularly in developing countries such as Indonesia. Limitations of conventional anemia management, including adherence issues and side effects of iron supplementation, have encouraged interest in complementary therapies such as wet cupping therapy (WCT). This study aimed to systematically map existing empirical evidence on the effects of wet cupping therapy on hemoglobin levels and hematological parameters in women through a scoping review approach. The review was conducted following the PRISMA-ScR guidelines. Literature searches were performed across multiple databases, including PubMed, Scopus, Google Scholar, and institutional repositories, resulting in 312 identified records. After screening and eligibility assessment, six studies published between 2016 and 2023 were included. The selected studies employed diverse designs, including experimental clinical trials, quasi-experimental, pre–post, cross-sectional, prospective cohort, and retrospective observational studies, with sample sizes ranging from 17 to 364 female participants. Across all studies, wet cupping therapy was associated with either maintenance or improvement of hemoglobin levels, as well as favorable changes in iron, total iron-binding capacity, and other biochemical parameters. No evidence indicated that WCT caused anemia when administered appropriately. Overall, the findings suggest that wet cupping therapy may serve as a safe and potentially beneficial complementary intervention for improving hematological status in women. However, further research using randomized controlled trials and standardized intervention protocols is required to establish its clinical effectiveness and inform evidence-based practice.
Implementasi model of care praktik kebidanan dalam upaya mengurangi burnout di lingkungan kerja: Narrative review Rahmawati, Rahmawati; Ulfa, Farah Wardya; Astika, Astika; Umaroh, Viana Bari; Agreena, Tulus; Perwata, Alya Nursyifa; Lawo, Frederika Eufrasia; Guterres, Dulce Maria; Pratiwi, Cesa Septiana
Jurnal Riset Kebidanan Indonesia Vol 9, No 2 (2025): Desember
Publisher : AIPKEMA (Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Muhammadiyah-'Aisyiyah Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Burnout pada bidan adalah kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat stres dan beban kerja tinggi, yang dapat menurunkan produktivitas serta kualitas pelayanan. Profesi ini rentan terhadap burnout, dengan prevalensi tinggi di berbagai negara, dan dapat menghilangkan motivasi serta menimbulkan pikiran negatif. Tujuan penelitian: Review ini bertujuan merangkum dan menganalisis secara kritis literatur yang relevan mengenai implementasi model of care praktik kebidanan dalam upaya mengurangi burnout di lingkungan kerja. Metode: Narrative Review dilakukan pada database PubMed, Research Rabbit, dan Wiley Library Online untuk periode 2020-2025. Kriteria inklusi mencakup studi kualitatif/kuantitatif, artikel 5 tahun terakhir, berbahasa Indonesia/Inggris, dan teks lengkap. Hasil: Faktor pemicu burnout meliputi lingkungan praktik tidak mendukung, beban kerja tinggi, konflik kebijakan, kurangnya kerja sama tim, karakteristik individu, serta masalah kesehatan mental. Model praktik kebidanan yang efektif mengurangi burnout adalah berbasis pemberdayaan, dukungan organisasi, koping/spiritualitas, dan caseload midwifery, karena meningkatkan otonomi, dukungan, ketahanan mental, dan kesejahteraan emosional. Kesimpulan: Burnout pada bidan adalah masalah kompleks yang berdampak serius. Penanganannya memerlukan pendekatan menyeluruh, mencakup reformasi sistem kerja (misalnya caseload midwifery), peningkatan dukungan organisasi, pelatihan resiliensi, dan pemantauan kesehatan mental berkala, guna menjamin pelayanan berkualitas dan kesejahteraan bidan.